Jakarta, SniperNew.id — Sebuah unggahan di media sosial menjadi viral setelah muncul kabar bahwa seorang warga Baduy bernama Repan tidak mendapatkan pelayanan di salah satu rumah sakit di Jakarta. Dalam unggahan akun @kusmantorogunawan di platform Threads, disebutkan bahwa pihak rumah sakit menolak memberikan pertolongan dengan alasan perbedaan bahasa, meski kondisi tangan kiri Repan sudah berdarah parah, Sabtu (08/11/2025).
Unggahan tersebut menyebut, Gubernur DKI Jakarta memberikan pembelaan dengan alasan kendala komunikasi, sementara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) masih akan mendalami kasus ini. “Bahasa Baduy jadi alasan rumah sakit di Jakarta tak layani Repan,” tulis akun tersebut, sembari menekankan bahwa Suku Baduy adalah bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang patut dilindungi dan dihormati.
Beragam komentar warganet pun membanjiri unggahan itu. Banyak yang mengecam alasan pihak rumah sakit maupun pembelaan pemerintah daerah. Akun @libra.girl0410 menulis, “Kalau mereka punya kemanusiaan, siapa pun yang datang luka parah harus langsung dilayani, apalagi ke IGD. Kalau ditanya-tanya dulu bisa shock dan mati percuma.”
Komentar serupa juga datang dari @indahbinti.idris, “Kalau orang datang ke rumah sakit dalam kondisi berdarah-darah, ya ditolong dulu. Jangan pakai alasan ini itu untuk pembenaran!”
Sementara itu, @odumbara menilai alasan bahasa tidak bisa dijadikan dalih, “Orang sakit, orang berdarah, jangan karena bahasa jadi alasan. Kalau butuh pertolongan medis ya harusnya ditolong dulu.”
Warganet lain, @alam.bawahsadarr, juga menilai alasan tersebut tidak manusiawi. “Bodoh, kesulitan bahasa dijadikan hambatan penanganan medis. Lalu yang bisu, buta, atau orang asing yang tak tahu bahasa Indonesia tidak dilayani? Jangan rasis,” tulisnya.
Beberapa komentar juga menyoroti bahwa masyarakat Baduy sebenarnya bisa berbahasa Indonesia, seperti yang diungkap @afat_abenk, “Bahasa Baduy memang Sunda, tapi saya yakin dia ngerti kok bahasa Indonesia. Dia kan sering keluar kampungnya, masa nggak bisa komunikasi sama sekali.”
Kasus ini memicu perdebatan luas soal etika kemanusiaan dan diskriminasi terhadap kelompok adat di fasilitas publik. Banyak yang mendesak agar pihak berwenang mengusut tuntas insiden tersebut dan memastikan pelayanan medis tidak dibeda-bedakan atas dasar bahasa, adat, maupun latar belakang budaya.
Berita ini disusun berdasarkan unggahan akun media sosial @kusmantorogunawan dan tanggapan warganet di platform Threads, dengan tetap mengacu pada prinsip keseimbangan, verifikasi, dan keberimbangan sesuai Kode Etik Jurnalistik.
Penulis Iskandar













