Berita Daerah

Anies Baswedan: Reformasi Pendidikan Harus Tutup ‘Dreams Gap’, Bukan Sekadar Skills Gap

487
×

Anies Baswedan: Reformasi Pendidikan Harus Tutup ‘Dreams Gap’, Bukan Sekadar Skills Gap

Sebarkan artikel ini

Jakar­ta, SniperNew.id – Man­tan Guber­nur DKI Jakar­ta, Anies Baswedan, kem­bali mene­gaskan pent­ingnya refor­masi pen­didikan di kawasan Asia Teng­gara. Dalam acara ASEAN for the Peo­ples Con­fer­ence 2025, Anies hadir seba­gai pem­bicara pada sesi berta­juk “Ideas to Upgrade and Reform Our Edu­ca­tion Ecosys­tem” yang dige­lar oleh For­eign Pol­i­cy Com­mu­ni­ty of Indone­sia (FPCI), Selasa (07/10).

Kehadi­ran Anies di forum bergengsi ini men­ja­di sorotan pub­lik, teruta­ma kare­na ia mem­ba­has isu fun­da­men­tal yang masih dihadapi banyak negara di kawasan ASEAN: ketim­pan­gan pen­didikan. Melalui gagasan­nya, Anies menekankan bah­wa refor­masi pen­didikan bukan sekadar uru­san menut­up kesen­jan­gan keter­ampi­lan (skills gap), tetapi juga kesen­jan­gan impian (dreams gap) antar gen­erasi muda.

“Refor­masi pen­didikan bukan hanya soal menut­up skills gap, tapi juga dreams gap. Anak-anak di desa maupun di kota harus pun­ya kesem­patan yang sama untuk bermimpi besar dan mewu­jud­kan­nya,” ujar Anies dalam pidatonya di hada­pan peser­ta kon­fer­en­si.

Acara ASEAN for the Peo­ples Con­fer­ence 2025 meru­pakan forum tahu­nan yang mem­perte­mukan tokoh-tokoh pemimpin, akademisi, dan prak­tisi kebi­jakan pub­lik dari berba­gai negara Asia Teng­gara. Tujuan­nya adalah untuk mem­ba­has solusi konkret bagi berba­gai tan­ta­n­gan yang dihadapi masyarakat ASEAN, ter­ma­suk isu pen­didikan, ekono­mi, dan kese­taraan sosial.

Tahun ini, kon­fer­en­si terse­but men­gangkat tema besar “Ideas to Upgrade and Reform Our Edu­ca­tion Ecosys­tem”, yang secara khusus meny­oroti tan­ta­n­gan dalam sis­tem pen­didikan di kawasan ini. Anies Baswedan diun­dang seba­gai salah satu nara­sum­ber uta­ma kare­na rekam jejaknya dalam mengem­bangkan kebi­jakan pen­didikan di Indone­sia, baik saat men­ja­di Menteri Pen­didikan dan Kebu­dayaan maupun seba­gai Guber­nur DKI Jakar­ta.

  Api Semangat Bible Camp Remaja GKE Muara Teweh Kobarkan Kebersamaan

Dalam paparan­nya, Anies meny­oroti real­i­tas ketim­pan­gan pen­didikan yang masih nya­ta di Asia Teng­gara. Ia mene­gaskan bah­wa masih banyak anak-anak di daer­ah ter­pen­cil yang belum men­da­p­atkan akses pen­didikan berkual­i­tas setara den­gan anak-anak di perko­taan.

Menu­rut­nya, per­soalan ini bukan hanya soal fasil­i­tas, tetapi juga soal eko­sis­tem pen­didikan yang belum inklusif. “Ngo­b­rol soal ketim­pan­gan pen­didikan yang masih nya­ta di kawasan ini,” tulis Anies dalam ung­ga­han di akun media sosial­nya di plat­form Threads.

Anies men­je­laskan bah­wa refor­masi pen­didikan per­lu dilakukan secara menyelu­ruh den­gan meli­batkan berba­gai ele­men — mulai dari kuriku­lum, tena­ga pen­ga­jar, akses teknolo­gi, hing­ga kebi­jakan yang berpi­hak pada pemer­ataan kesem­patan.

Lebih dari itu, ia mem­perke­nalkan isti­lah “dreams gap” sebuah kon­sep yang menekankan bah­wa kesen­jan­gan dalam kemam­puan bermimpi dan beraspi­rasi juga men­ja­di masalah besar yang ser­ing dia­baikan. Menu­rut­nya, banyak anak-anak di daer­ah yang bahkan tidak berani bermimpi besar kare­na merasa tidak memi­li­ki kesem­patan atau dukun­gan yang sama.

“Anak-anak di desa maupun di kota harus pun­ya kesem­patan yang sama untuk bermimpi besar dan mewu­jud­kan­nya,” tegas Anies.

Gagasan Anies muncul di ten­gah tan­ta­n­gan pen­didikan yang dihadapi negara-negara ASEAN pas­capan­de­mi COVID-19. Banyak lapo­ran menun­jukkan bah­wa pan­de­mi mem­per­lebar jurang ketim­pan­gan pen­didikan. Anak-anak dari kelu­ar­ga kurang mam­pu men­gala­mi penu­runan kemam­puan bela­jar yang lebih tajam aki­bat keter­batasan akses inter­net dan perangkat bela­jar.

Selain itu, muncul kekhawati­ran bah­wa sis­tem pen­didikan di berba­gai negara masih ter­lalu fokus pada hasil akademis dan belum cukup men­dukung pengem­ban­gan karak­ter, kreativ­i­tas, ser­ta kemam­puan berpikir kri­tis.

  DPD GNM Sumut Cari Kepengurusan DPC di Sejumlah Kabupaten dan Kota

Anies meni­lai, untuk men­cip­takan sis­tem pen­didikan yang rel­e­van den­gan tan­ta­n­gan masa depan, per­lu ada refor­masi besar yang bukan hanya beror­i­en­tasi pada out­put tek­nis, tetapi juga mem­ban­gun budaya bela­jar yang men­dorong gen­erasi muda untuk berani bermimpi dan beri­no­vasi.

Dalam forum terse­but, Anies juga meny­oroti pent­ingnya kese­taraan kesem­patan bagi selu­ruh anak bangsa. Ia mene­gaskan bah­wa pen­didikan harus men­ja­di alat pem­ber­dayaan, bukan alat pem­be­da sosial.

“Kita harus memas­tikan bah­wa anak-anak dari berba­gai latar belakang — baik di desa maupun kota — memi­li­ki pelu­ang yang sama untuk suk­ses. Bukan hanya kare­na mere­ka pun­ya kemam­puan, tetapi kare­na sis­tem­nya memu­ngkinkan,” ungkap­nya.

Anies men­ga­jak para pemangku kebi­jakan di negara-negara ASEAN untuk mem­per­lakukan pen­didikan seba­gai inves­tasi jang­ka pan­jang, bukan beban anggaran. Ia juga mene­gaskan bah­wa refor­masi pen­didikan yang sejati harus dim­u­lai dari kesadaran bah­wa seti­ap anak berhak atas mimpi besar, dan tugas negara adalah men­cip­takan ruang agar mimpi itu dap­at tum­buh.

Ung­ga­han Anies di media sosial men­da­p­atkan berba­gai tang­ga­pan posi­tif dari war­ganet. Banyak yang meni­lai gagasan­nya menyen­tuh aspek men­dasar dari sis­tem pen­didikan yang sela­ma ini jarang diba­has: kesen­jan­gan impian.

Beber­a­pa penga­mat pen­didikan juga meni­lai isti­lah dreams gap yang diperke­nalkan Anies seba­gai pen­dekatan yang segar. Menu­rut mere­ka, gagasan terse­but mem­bu­ka per­spek­tif baru bah­wa pen­didikan bukan sekadar menc­etak tena­ga ker­ja ter­ampil, melainkan mem­ban­gun manu­sia yang berani bermimpi dan ber­daya cip­ta.

Seba­gai man­tan Menteri Pen­didikan dan Kebu­dayaan, Anies dike­nal memi­li­ki per­ha­t­ian besar ter­hadap pemer­ataan akses pen­didikan dan pen­ingkatan kual­i­tas guru. Ia per­nah meng­ga­gas pro­gram Indone­sia Men­ga­jar, yang men­gir­imkan sar­jana muda ke daer­ah-daer­ah ter­pen­cil untuk men­ja­di pen­ga­jar sela­ma satu tahun.

  Perjuangan Nakes Langgudu Timur Menyeberang Demi Posyandu di Desa Sembrang

Pro­gram terse­but diang­gap berhasil menum­buhkan seman­gat pengab­di­an dan mem­perke­nalkan pen­dekatan pen­didikan yang huma­n­is. Dalam kon­teks kon­fer­en­si ASEAN kali ini, rekam jejak terse­but men­ja­di latar kuat men­ga­pa Anies diper­caya untuk berbicara men­ge­nai refor­masi eko­sis­tem pen­didikan.

Melalui forum ASEAN for the Peo­ples Con­fer­ence 2025, Anies men­ga­jak negara-negara anggota untuk bek­er­ja sama mem­ban­gun sis­tem pen­didikan yang adap­tif, inklusif, dan berkead­i­lan.

Ia menye­but bah­wa di era glob­al­isasi dan dig­i­tal­isasi, kolab­o­rasi lin­tas negara men­ja­di kun­ci untuk memas­tikan bah­wa tidak ada gen­erasi muda yang tert­ing­gal kare­na fak­tor sosial, ekono­mi, atau geografis.

“Pen­didikan adalah fon­dasi masa depan bangsa. Kita tidak bisa mem­biarkan adanya jurang mimpi antara satu anak den­gan anak lain­nya. Tugas kita adalah memas­tikan bah­wa seti­ap anak pun­ya ruang untuk bermimpi dan dukun­gan untuk mewu­jud­kan­nya,” pungkas Anies.

Kehadi­ran Anies Baswedan di ASEAN for the Peo­ples Con­fer­ence 2025 men­ja­di momen­tum pent­ing dalam mem­ban­gun wacana baru ten­tang pen­didikan di kawasan Asia Teng­gara.

Pesan­nya seder­hana namun kuat: refor­masi pen­didikan tidak boleh berhen­ti pada pen­guasaan keter­ampi­lan, tetapi harus mem­bu­ka jalan bagi seti­ap anak untuk bermimpi besar. Kare­na pada akhirnya, kema­juan sebuah bangsa tidak hanya diten­tukan oleh seber­a­pa banyak tena­ga ker­ja ter­ampil yang dim­i­likinya, tetapi juga oleh seber­a­pa luas ruang bagi gen­erasi mudanya untuk bermimpi dan men­cip­takan peruba­han.

(Penulis: Redak­si SniperNew.id | Edi­tor: Tim Beri­ta ASEAN 2025)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *