Pringsewu, SniperNew.id – Warga Pringsewu digegerkan peristiwa kebakaran mobil di kawasan Gunung Kancil. Kejadian ini sempat terekam kamera ponsel warga dan viral di media sosial. Asap hitam membumbung tinggi, api melahap mobil hingga hangus, sementara warga berkerumun di sekitar lokasi.
Dalam video yang diunggah ke Facebook, terlihat mobil terbakar di pinggir jalan dengan api besar. Mobil pemadam kebakaran tiba di lokasi, namun si jago merah sudah telanjur melumat hampir seluruh bodi kendaraan.
Komentar warganet langsung banjir. Akun Arifarmy Rafael menulis: “Pasti mobil suka cor BBM solar dll.” Akun lain, Sewa Hiace Pringsewu, dengan nada satir menuliskan: “Setelah diselidiki penyebab kebakaran adalah API 🔥.”
Peristiwa ini memantik dugaan publik soal maraknya praktik pengecoran BBM bersubsidi, terutama Pertalite, yang disebut-sebut sering dilakukan secara bebas di wilayah Lampung.
Kebakaran terjadi sore hari, ketika mobil yang diduga sedang melintas tiba-tiba mengeluarkan asap. Dalam hitungan menit, api membesar. Warga berusaha mendekat, sebagian merekam, sebagian lainnya panik takut merembet ke rumah sekitar.
“Yo yo gunung kcil pertigaan,” tulis akun lain di komentar, memastikan lokasi kejadian. Sementara akun Sudar Kates menambahkan: “Depan panti putra Muhammadiyah yyyy.”
Polisi dan petugas damkar tiba sekitar 15 menit kemudian. Api berhasil dipadamkan, tapi mobil sudah tak terselamatkan. Hingga kini, polisi masih melakukan penyelidikan soal penyebab kebakaran.
Di balik insiden ini, mencuat dugaan bahwa mobil tersebut kerap digunakan untuk pengecoran BBM bersubsidi. Praktik yang dianggap “rahasia umum” di beberapa daerah ini sering melibatkan mobil-mobil tertentu yang bolak-balik ke SPBU membawa jerigen atau tangki modifikasi.
Ketua Umum (Ketum) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Lembaga Swadaya Masyarakat Himpunan Aksi Masyarakat Madani Ekonomi Rakyat (LSM HAMMER) Jamhari, angkat bicara.
“Kasus mobil terbakar di Gunung Kancil ini bisa menjadi bukti nyata. Dugaan kami, insiden ini tak lepas dari praktik pengecoran Pertalite yang dibiarkan bebas. Kalau benar, ini bukan sekadar soal mobil terbakar—ini alarm bahaya untuk negara dan masyarakat,” tegas Jamhari saat diwawancara SniperNew.id, Selasa (9/9).
Menurut Jamhari, praktik pengecoran BBM bersubsidi merugikan negara miliaran rupiah dan membuat masyarakat kecil kesulitan mendapatkan Pertalite dengan harga normal.
Jamhari menilai lemahnya pengawasan di SPBU menjadi pintu masuk utama praktik pengecoran.
“Mobil yang sama bisa berkali-kali isi BBM tanpa dicegah. Ini jelas kelalaian. Aparat dan Pertamina harus introspeksi. Jangan tunggu korban jiwa dulu baru bertindak,” katanya.
Ia menambahkan, kasus Gunung Kancil harus menjadi momentum evaluasi total.
“Kalau dibiarkan, mobil-mobil pengecor ini bisa jadi bom berjalan. Lihat saja, satu mobil terbakar, bagaimana kalau bawa jerigen penuh Pertalite? Bisa meledak, bisa makan korban massal,” ujarnya tajam.
Komentar-komentar di Facebook memperlihatkan keresahan warga.
Cici Rasenqi II menulis: “In yg kita liat td mas.”
Ari Desita menimpali: “Cedek umae Bu Dwi si.”
Kancil Wonoroban menegaskan: “Dekat rumah bpak Katino kayaknya itu.”
Iwan Azzahra bertanya: “Plate piro pak??”
Tri Arjuna singkat: “Kapan ini.”
Tak sedikit warga yang mengaku sering melihat mobil-mobil mencurigakan bolak-balik ke SPBU. “Kadang jam 10 pagi Pertalite sudah habis. Katanya banyak yang ngecor. Kalau malam, stok keluar lagi tapi antre panjang,” keluh seorang warga Pringsewu kepada awak media.
Praktik pengecoran ini bukan hanya merugikan negara, tapi juga masyarakat kecil. Harga Pertalite eceran melonjak di pinggir jalan, sementara di SPBU sering kosong.
“Pagi-pagi saja sudah habis. Akhirnya kami beli di pengecer, harganya lebih mahal. Padahal subsidi itu kan untuk rakyat kecil, bukan untuk ditimbun,” ujar warga lain yang enggan disebut namanya.
Kondisi ini mempertegas ironi: subsidi BBM yang seharusnya meringankan beban rakyat justru dimainkan segelintir oknum demi keuntungan pribadi.
LSM HAMMER mendesak aparat kepolisian, Pertamina, dan pemerintah daerah segera turun tangan serius.
“Jangan hanya sidak formalitas. Harus ada kontrol berkelanjutan. Data distribusi BBM harus transparan. Kalau tidak, kasus seperti Gunung Kancil akan berulang,” kata Jamhari.
Ia menegaskan bahwa pihaknya siap menyerahkan data laporan masyarakat terkait SPBU-SPBU yang diduga menjadi langganan pengecoran.
Insiden Gunung Kancil adalah peringatan keras. Satu mobil terbakar mungkin dianggap sepele, tapi dampaknya bisa jauh lebih besar. Dari kerugian materiil, nyawa terancam, hingga kerugian negara akibat subsidi yang disalahgunakan.
Jamhari menutup dengan pesan keras. “Nyawa manusia jauh lebih berharga dari keuntungan pengecor. Jangan tunggu ada korban jiwa massal baru sibuk. Gunung Kancil ini harus jadi alarm bahaya. Semua pihak harus buka mata.”
Kasus mobil terbakar di Gunung Kancil bukan sekadar insiden kebakaran biasa. Ia membuka tabir gelap soal praktik pengecoran Pertalite yang bebas merajalela.
Kini, bola panas ada di tangan aparat dan pemerintah. Apakah ini akan menjadi titik balik penertiban distribusi BBM bersubsidi, atau justru kembali tenggelam dalam rutinitas birokrasi?
Yang jelas, publik sudah muak dengan praktik ilegal ini. Tragedi Gunung Kancil adalah alarm keras: keselamatan rakyat jangan ditukar dengan keuntungan kotor segelintir orang. (Ahm/Dar)













