Jakarta, SniperNew.id – Pergeseran kabinet yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto pada Senin sore, 8 September 2025, mengejutkan banyak pihak. Salah satu keputusan paling disorot adalah pencopotan Budi Arie Setiadi dari jabatannya sebagai Menteri Koperasi. Ironisnya, hanya beberapa jam sebelum keputusan itu diumumkan, Budi Arie masih terlihat aktif menjalankan tugas kenegaraan di Senayan.
Budi Arie Setiadi, tokoh yang sebelumnya dipercaya Presiden untuk memimpin Kementerian Koperasi, harus rela meninggalkan kursi menterinya. Posisinya kini diisi oleh Ferry Juliantono, yang sebelumnya menjabat sebagai wakilnya. Pergantian ini menimbulkan tanda tanya besar, terutama karena Budi Arie masih terlihat bekerja penuh pada hari yang sama.
Tepat pada siang hari, Senin, 8 September 2025, Budi Arie menghadiri rapat penting dengan Komisi VI DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta. Dalam kesempatan itu, ia memaparkan pagu anggaran Kementerian Koperasi untuk Tahun Anggaran 2026 sebesar Rp 937 miliar. Tidak berhenti di situ, ia juga mengajukan tambahan anggaran sebesar Rp 7,8 triliun.
Menurut Budi Arie, tambahan anggaran tersebut penting untuk melakukan reposisi struktur organisasi yang ada di kementerian. Ia menekankan perlunya digitalisasi dan sistem cashless bagi Koperasi Desa Merah Putih. Menurutnya, langkah ini penting untuk memitigasi potensi fraud dan salah kelola yang sering terjadi dalam praktik koperasi.
Kejutan besar muncul ketika beberapa jam setelah rapat tersebut, Presiden Prabowo Subianto mengumumkan reshuffle kabinet. Ferry Juliantono ditunjuk sebagai Menteri Koperasi yang baru, menggantikan posisi Budi Arie. Tidak ada tanda-tanda sebelumnya yang mengindikasikan adanya perubahan mendadak ini.
Lebih mengherankan lagi, Budi Arie sendiri mengaku tidak mengetahui adanya pergantian jabatan tersebut. Saat ditemui seusai rapat di DPR, ia hanya menyatakan fokus pada tugasnya untuk melayani masyarakat. “Belum, kita kerja saja ngurus rakyat ya. Fokus ngurus rakyat,” ujarnya singkat.
Keputusan pencopotan diumumkan secara resmi pada Senin sore, 8 September 2025. Namun, menurut pengakuan Budi Arie, ia tidak menerima undangan untuk menghadap ke Istana Negara. Artinya, pemberitahuan resmi mengenai pencopotannya tidak ia ketahui secara langsung. Hal ini menimbulkan spekulasi mengenai mekanisme komunikasi internal pemerintah dalam menyampaikan keputusan strategis semacam ini.
Langkah Presiden Prabowo ini menimbulkan banyak pertanyaan di kalangan politik dan publik. Mengapa pergantian dilakukan secara mendadak? Apakah ada evaluasi khusus terhadap kinerja Budi Arie? Ataukah ini bagian dari strategi politik yang lebih besar?
Sebagian pengamat menilai bahwa pergantian mendadak ini menunjukkan bahwa Presiden Prabowo ingin memperkuat barisan kabinetnya dengan figur-figur yang lebih sejalan dengan agenda politik dan pembangunan pemerintahannya. Ferry Juliantono, sebagai pengganti, dinilai lebih memiliki kedekatan dengan lingkaran inti Prabowo.
Namun, bagi sebagian kalangan, keputusan ini dianggap kurang transparan. Tidak adanya komunikasi langsung kepada menteri yang diganti bisa menimbulkan kesan bahwa proses reshuffle tidak berjalan sesuai etika birokrasi yang seharusnya.
Dalam pernyataannya, Budi Arie terlihat tenang dan menerima keputusan tersebut dengan sikap legawa. Ia menegaskan bahwa dirinya tetap akan berkomitmen untuk rakyat meski tidak lagi menjabat sebagai menteri. “Fokus ngurus rakyat,” kata Budi Arie, menjadi kalimat yang mencerminkan semangat pengabdiannya meski posisinya berubah. Ia juga menambahkan bahwa tidak ada undangan dari Istana yang ia terima. Sumber: (abd/Ahm)













