Jakarta, SniperNew.id – Rebellion Rose, salah satu band yang dijadwalkan tampil di Pestapora 2025, membuat keputusan tak terduga. Berdasarkan unggahan akun media sosial jakut_update di Threads, Sabtu (6/9/2025), band tersebut memilih untuk tidak naik ke panggung utama. Sebagai gantinya, mereka turun ke tengah kerumunan penonton dan bersama-sama melantunkan lagu “Buruh Tani”.
Dalam unggahan tersebut tertulis. “Rebellion Rose batal naik panggung di Pestapora 2025. Mereka memilih datang untuk nyanyi ‘Buruh Tani’ bukan dari panggung, tapi di bawah bersama penonton yang sudah datang.”
Tindakan itu segera menjadi sorotan publik, terutama karena lagu “Buruh Tani” kerap dikaitkan dengan semangat perjuangan rakyat kecil, buruh, dan petani. Video yang diunggah memperlihatkan suasana massa yang penuh antusiasme, dengan penonton ikut bernyanyi dan mengangkat tangan mengikuti alunan musik.
Tangkapan layar dalam unggahan memperlihatkan keterangan singkat. “Rebellion Rose Turun Panggung, Nyanyikan ‘Buruh Tani’.”
Keputusan band tersebut langsung memicu beragam reaksi, baik di lokasi maupun di jagat maya.
Unggahan yang dilihat lebih dari 52 ribu kali itu ramai dipenuhi komentar warganet. Beberapa komentar menunjukkan dukungan penuh, sementara sebagian lain memberikan pandangan kritis atau sekadar mengekspresikan perasaan pribadi.
Komentar yang terekam dalam unggahan di Threads antara lain:
alexs.bay (3 jam lalu):
“Saat ini belum ada partai yang mewakili buruh tani, pedagang dan buruh-buruh dari bidang informal, adanya partai dari buruh industrial yang isinya lebih banyak berpikiran kapitalis dibanding sosialis.”
sismiati34 (3 jam lalu):
“Kawal sampe tuntutan kita terpenuhi guysss, kpn Indonesia ini merdeka, muak aq sama negeri one piece.”
banyolankomedi (4 jam lalu):
“Rak kenal.”
kartikaagusratnasari (3 jam lalu):
“Maju terus pejuang 2 Reformasi, kami doakan agar anda kuat, sehat wal’afiat dan aman, aamiin ya Rabbal’aalamin.”
Sementara itu, ada juga komentar bernada ringan atau humoris, seperti:
pantangkentang (4 jam lalu):
“Marjinal nggak minta royalti kan?”
raka_benningthon (2 jam lalu):
“Merinding dengernya.”
f1215co.__ (1 jam lalu):
“Selamat indie guys hahahaha.”
itsme_meity (58 menit lalu):
“Cintaaaaa bgt sama band inii…. 💕💚”
asmaul8311 (1 jam lalu):
“Mantappp.”
ardisalam.0_0 (2 jam lalu):
“Mantaps.”
Komentar-komentar itu mencerminkan keberagaman sudut pandang. Sebagian besar menunjukkan apresiasi atas sikap band yang memilih “turun ke massa”, sementara sebagian lain menyinggung isu sosial-politik yang lebih luas.
Rebellion Rose, sebuah band musik yang dijadwalkan tampil di Pestapora 2025. Mereka dikenal dengan lagu-lagu bernuansa perlawanan dan kritik sosial.
Band ini batal naik panggung dalam gelaran musik Pestapora 2025. Sebagai gantinya, mereka menyanyikan lagu “Buruh Tani” di tengah penonton yang sudah menunggu.
Kejadian ini berlangsung pada gelaran Pestapora 2025. Unggahan yang beredar di media sosial jakut_update tercatat lima jam sebelum berita ini diturunkan, yakni pada Sabtu, 6 September 2025.
Lokasi kejadian di festival musik Pestapora 2025. Video memperlihatkan suasana di area terbuka dengan kerumunan penonton yang ramai.
Alasan utama tidak dijelaskan secara rinci oleh band. Namun, tindakan memilih turun ke bawah dianggap sebagai bentuk solidaritas dengan penonton dan simbol perjuangan bersama. Pemilihan lagu “Buruh Tani” juga menegaskan pesan sosial yang ingin mereka sampaikan.
Rebellion Rose datang ke lokasi acara, tetapi alih-alih tampil di atas panggung, mereka berbaur dengan penonton. Dengan pengeras suara sederhana, mereka menyanyikan “Buruh Tani” bersama-sama. Aksi tersebut direkam, disebarkan ke media sosial, dan viral hingga memicu diskusi luas.
Lagu “Buruh Tani” bukan sekadar lagu populer, melainkan simbol perlawanan dan perjuangan kelompok pekerja. Dalam sejarahnya, lagu ini sering digunakan dalam aksi-aksi demonstrasi buruh, mahasiswa, dan petani sebagai seruan solidaritas.
Tindakan Rebellion Rose membawakan lagu tersebut bukan di atas panggung, melainkan di tengah penonton, menambah nilai simbolis. Hal itu menggambarkan posisi band yang ingin sejajar dengan rakyat, bukan berada di atas atau terpisah dari massa.
Dalam potongan video yang diunggah jakut_update, terlihat sejumlah orang mengangkat tangan, bernyanyi, dan merekam dengan ponsel. Wajah penonton tampak antusias, sebagian bahkan mengenakan atribut simbol perlawanan.
Ungkapan “merinding dengernya” dari salah satu komentar warganet menggambarkan betapa kuatnya energi yang ditularkan dalam momen itu.
Dukungan datang dari berbagai kalangan. Banyak warganet yang menyebut aksi ini sebagai keberanian sekaligus bentuk kejujuran band indie terhadap perjuangan rakyat. Namun, ada juga yang menyikapinya dengan nada skeptis, menganggap aksi tersebut lebih bernuansa simbolik ketimbang perubahan nyata.
Meski begitu, baik dukungan maupun kritik sama-sama membuktikan bahwa tindakan Rebellion Rose berhasil memantik diskusi lebih luas tentang buruh, petani, dan ketidakadilan sosial.
Keputusan Rebellion Rose untuk turun ke massa di Pestapora 2025 bukan hanya soal musik. Aksi ini berpotensi memperkuat citra mereka sebagai band yang berpihak pada rakyat kecil. Lebih jauh lagi, tindakan itu bisa menjadi pemicu semangat solidaritas di tengah kondisi buruh dan petani yang masih berjuang mendapatkan hak-haknya.
Wacana tentang representasi politik buruh tani yang diangkat salah satu komentar warganet juga memperlihatkan bahwa publik haus akan perubahan. Momen sederhana seperti nyanyian bersama di festival musik bisa bertransformasi menjadi ruang percakapan politik yang lebih luas.
Rebellion Rose memilih jalur berbeda di Pestapora 2025. Dengan membatalkan penampilan di panggung utama dan turun langsung bernyanyi bersama massa, mereka menegaskan pesan bahwa musik bisa menjadi alat perjuangan, bukan sekadar hiburan.
Lagu “Buruh Tani” yang mereka nyanyikan memperkuat citra itu. Meskipun sederhana, aksi tersebut mendapat respons luas, dari dukungan, kritik, hingga canda di media sosial.
Peristiwa ini menegaskan bahwa musik, sosial, dan politik tak bisa dipisahkan. Rebellion Rose telah menunjukkan bagaimana sebuah band indie bisa tetap relevan dan menyuarakan aspirasi rakyat di tengah festival musik modern. (Ahm/abd)












