Sebuah video yang menampilkan keributan di acara hajatan tengah viral di media sosial. Rekaman tersebut diunggah oleh akun Threads bernama @andreli_48, memperlihatkan situasi tak terkendali ketika pesta yang seharusnya berlangsung meriah justru berubah menjadi ajang baku hantam, Kamis (28/08).
Video tersebut telah mendapat ratusan tayangan dan menjadi perbincangan warganet karena menyoroti aksi saling lempar kursi di bawah tenda pesta.
Dalam unggahannya, andreli_48 menulis. “Sebuah video hajatan rusuh beredar di media sosial. Terjadi baku hantam hingga kursi melayang.
Dalam video yang diunggah @khanafikendang menayangkan keributan terekam dari dalam tenda lemparan kursi plastik. Terlihat mereka saling lempar dan banting-banting kursi.
#hajatan #demak #jateng.”
Video tersebut tampak diambil dari sudut dalam tenda, memperlihatkan suasana malam hari dengan penerangan lampu hias khas pesta pernikahan atau acara keluarga. Beberapa orang terlihat terlibat kericuhan, disertai lemparan kursi plastik yang beterbangan. Tulisan lain yang muncul di dalam video tersebut menggunakan bahasa Jawa, berbunyi. ““Amohkabeh kang, nek model ngeniki buwoh ane ntek tenan Ki.”
Jika diterjemahkan secara bebas, kalimat tersebut bernada keluhan atau sindiran yang mengungkapkan rasa kecewa terhadap keributan yang terjadi. Ungkapan ini menunjukkan bahwa kerusuhan tersebut menyebabkan suasana hajatan menjadi kacau, bahkan mengganggu jalannya acara yang seharusnya membawa kebahagiaan.
Berdasarkan keterangan yang beredar, keributan terjadi di sebuah acara hajatan di daerah Demak, Jawa Tengah. Belum diketahui secara pasti apa pemicu terjadinya baku hantam tersebut. Namun, dari video yang beredar, terlihat suasana panik saat kursi plastik dilempar ke berbagai arah.
Beberapa tamu yang hadir tampak berusaha menghindar agar tidak terkena lemparan.
Kericuhan semacam ini bukan kali pertama terjadi di acara hajatan. Beberapa kasus serupa pernah viral sebelumnya, umumnya dipicu oleh kesalahpahaman antartamu atau adanya pihak yang tidak terima dengan sesuatu selama acara berlangsung.
Meski demikian, hingga berita ini ditulis, belum ada konfirmasi resmi dari pihak penyelenggara hajatan ataupun aparat setempat mengenai penyebab pasti insiden tersebut.
Unggahan video ini memancing berbagai komentar dari pengguna media sosial. Banyak yang menyayangkan kejadian tersebut, mengingat hajatan merupakan momen bahagia yang seharusnya mempererat silaturahmi.
Beberapa warganet menilai aksi saling lempar kursi itu membahayakan keselamatan tamu, terutama jika ada anak-anak atau orang lanjut usia yang hadir. Ada pula yang menyoroti kurangnya pengamanan di lokasi acara, sehingga keributan yang seharusnya bisa dicegah justru membesar.
Komentar bernada humor juga bermunculan, menanggapi tulisan dalam video “Amoh kabeh kang, nek model ngeniki buwoh ane ntek tenan Ki.” Banyak netizen menafsirkannya sebagai keluhan karena akibat keributan tersebut, buah tangan atau buwoh yang biasanya dibagikan pada tamu bisa jadi rusak atau habis berantakan.
Hajatan merupakan salah satu tradisi penting di Jawa, terutama pada momen pernikahan, khitanan, atau acara keluarga besar. Acara ini biasanya dihadiri oleh banyak tamu dari berbagai kalangan, baik kerabat, tetangga, maupun teman dekat. Karena banyaknya tamu, terkadang terjadi gesekan kecil yang bisa memicu konflik.
Namun, insiden seperti saling lempar kursi bukanlah hal yang lumrah dan tentu tidak diinginkan siapa pun. Dalam tradisi Jawa, menjaga kerukunan dan silaturahmi adalah hal utama. Oleh sebab itu, kericuhan yang terekam dalam video ini dianggap mencoreng nilai-nilai kebersamaan yang seharusnya dijunjung tinggi.
Kejadian ini menjadi pelajaran penting bahwa setiap acara besar yang melibatkan banyak orang sebaiknya memiliki pengamanan yang memadai. Panitia hajatan dapat bekerja sama dengan tokoh masyarakat atau bahkan aparat desa setempat untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
Selain itu, perlu ada upaya mediasi yang cepat apabila terjadi kesalahpahaman di antara tamu. Dengan cara ini, potensi keributan dapat diminimalkan sebelum berkembang menjadi aksi fisik yang berbahaya.
Dalam menyampaikan informasi seperti ini, penting untuk memperhatikan kode etik jurnalistik. Identitas pihak-pihak yang terlibat tidak diungkapkan tanpa izin, dan pemberitaan difokuskan pada fakta peristiwa serta pesan edukatif yang bisa diambil.
Keributan ini seharusnya menjadi bahan refleksi, bukan sekadar konsumsi hiburan. Tujuannya agar masyarakat lebih peka dalam menjaga ketertiban saat menghadiri acara publik.
Video viral keributan hajatan di Demak ini memperlihatkan bagaimana sebuah momen bahagia bisa berubah menjadi kekacauan akibat konflik yang tidak jelas pemicunya. Kejadian ini menjadi perhatian banyak orang, bukan hanya karena aksi saling lempar kursi yang terekam, tetapi juga karena menyangkut nilai-nilai sosial dan budaya yang seharusnya dijunjung tinggi.
Diharapkan, insiden seperti ini dapat menjadi pelajaran bersama untuk menghindari kekerasan dalam bentuk apa pun, terutama di acara yang seharusnya membawa kebahagiaan. Kerukunan dan saling menghargai antarwarga harus diutamakan agar tradisi hajatan tetap menjadi ajang mempererat hubungan, bukan merusaknya.
Dengan meningkatnya kesadaran dan tanggung jawab bersama, diharapkan kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang. Semoga hajatan di mana pun berada bisa kembali menjadi simbol kebersamaan dan kebahagiaan, sesuai dengan nilai luhur masyarakat Jawa.
Berita ini disusun berdasarkan informasi yang terdapat pada unggahan akun Threads @andreli_48 dan video terkait. Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak berwenang terkait insiden tersebut.
Masyarakat diimbau untuk tetap bijak menyikapi video viral di media sosial dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi lebih lanjut. (Ahm)













