Solo, SniperNew.id – Sebuah unggahan di media sosial Threads dari akun Solokini memperlihatkan aksi demonstrasi yang dilakukan para peternak ayam rakyat di wilayah Solo Raya. Aksi tersebut menjadi sorotan publik karena dilakukan dengan cara unik namun tetap mengangkat tuntutan serius terkait keberlangsungan usaha peternakan rakyat, Selasa (26/082025).
Dalam unggahan tersebut, Solokini menuliskan. “Aksi demo peternak ayam rakyat Solo Raya menyikapi kenaikan harga pakan jagung. Selain orasi menuntut Menteri Pertanian mundur, mereka juga menggelar aksi mandi jagung, bagi-bagi jagung rebus, bagi-bagi telur rebus hingga bagi-bagi ayam di kawasan Bundaran Gladak, Solo.”
Dalam video yang diunggah, terlihat ratusan massa mengenakan kaos merah berkumpul di sekitar Bundaran Gladak, Solo.
Mereka membawa berbagai atribut demonstrasi, termasuk karung-karung jagung, alat musik tradisional, serta sejumlah poster tuntutan. Aksi ini menarik perhatian masyarakat karena selain berorasi menyuarakan aspirasi, para peternak juga membagikan produk-produk hasil peternakan mereka, seperti ayam, telur rebus, dan jagung rebus, kepada masyarakat sekitar lokasi aksi.
Kenaikan harga pakan, khususnya jagung, disebut menjadi penyebab utama aksi demonstrasi ini. Peternak ayam rakyat mengaku semakin terbebani karena biaya produksi melonjak, sementara harga jual telur dan ayam tidak sebanding dengan pengeluaran. Kondisi ini membuat banyak peternak merugi bahkan terancam gulung tikar.
Jagung merupakan komponen utama dalam pakan ayam, mencapai 50–60% dari total pakan. Lonjakan harga jagung berdampak signifikan terhadap biaya pemeliharaan. Para peternak menilai kebijakan pemerintah dalam mengatur distribusi dan impor jagung tidak efektif menekan harga di tingkat peternak.
Dalam orasinya, massa aksi menuntut Menteri Pertanian untuk mundur dari jabatannya. Mereka menilai kementerian gagal mengendalikan harga pakan dan melindungi peternak rakyat. Selain itu, mereka mendesak pemerintah mengambil langkah nyata untuk menstabilkan harga jagung di pasaran dan memastikan ketersediaan pakan dengan harga yang wajar.
Selain tuntutan terkait harga pakan, aksi ini juga bertujuan menarik perhatian publik terhadap kondisi peternak rakyat yang semakin terpinggirkan. Dengan cara berbagi hasil ternak, mereka ingin menunjukkan bahwa jika kondisi terus memburuk, masyarakat juga bisa terdampak karena pasokan pangan hewani menjadi tidak stabil.
Hal unik dari aksi ini adalah kreativitas para peternak yang tidak hanya melakukan orasi, tetapi juga menggelar aksi simbolis “mandi jagung.” Dalam foto unggahan tersebut, terlihat sebagian peserta membawa karung-karung berisi jagung, dan melakukan aksi simbolik yang menjadi sorotan.
Selain mandi jagung, massa juga membagikan jagung rebus, telur rebus, hingga ayam potong secara gratis kepada masyarakat yang melintas di kawasan Bundaran Gladak. Aksi ini bukan hanya sebagai bentuk protes, tetapi juga menunjukkan bahwa peternak rakyat tetap peduli terhadap kebutuhan masyarakat meskipun mereka sedang menghadapi kesulitan.
Kehadiran alat musik tradisional yang dibawa peserta demo menambah warna tersendiri dalam aksi ini. Mereka memanfaatkan seni dan budaya sebagai medium penyampaian aspirasi agar pesan yang disampaikan lebih menarik dan mudah diingat publik.
Aksi yang berlangsung di Bundaran Gladak tersebut menarik perhatian warga Solo. Banyak pengguna jalan yang berhenti sejenak untuk melihat jalannya demonstrasi. Beberapa di antara mereka tampak menerima pembagian jagung rebus, telur rebus, dan ayam yang dibagikan.
Meski terjadi keramaian, aksi berlangsung tertib dan damai. Petugas kepolisian tampak berjaga di sekitar lokasi untuk mengatur lalu lintas agar tidak terjadi kemacetan. Hingga unggahan tersebut dibuat, belum ada laporan insiden atau kericuhan yang terjadi selama aksi.
Aksi demonstrasi peternak ayam rakyat Solo Raya mencerminkan keresahan mendalam yang dialami para pelaku usaha peternakan rakyat di berbagai daerah. Jika tidak ada solusi konkret, dikhawatirkan banyak peternak akan gulung tikar, yang pada akhirnya dapat mengganggu ketahanan pangan nasional, khususnya pasokan telur dan daging ayam.
Melalui aksi ini, peternak berharap pemerintah, khususnya Kementerian Pertanian, segera mengambil langkah strategis untuk mengendalikan harga pakan, memperbaiki tata niaga jagung, serta memberikan perlindungan nyata bagi peternak rakyat. Mereka juga menginginkan adanya regulasi yang berpihak pada usaha kecil agar bisa bertahan di tengah persaingan dengan usaha peternakan besar.
Unggahan Solokini di Threads ini berhasil mengangkat suara peternak rakyat Solo Raya yang tengah berjuang menghadapi lonjakan harga pakan. Aksi damai dengan sentuhan kreatif seperti mandi jagung dan berbagi produk ternak menjadi sorotan publik sekaligus cara efektif menyuarakan keresahan mereka.
Aksi ini bukan hanya persoalan ekonomi peternak, tetapi juga menyangkut kepentingan masyarakat luas. Peternak berharap suara mereka didengar pemerintah dan segera ada langkah nyata untuk menyelesaikan masalah kenaikan harga pakan jagung, sehingga usaha peternakan rakyat tetap bisa bertahan dan masyarakat tetap dapat menikmati harga pangan hewani yang terjangkau.
Dengan aksi damai dan kreatif ini, para peternak ayam rakyat Solo Raya menunjukkan bahwa perjuangan untuk keadilan ekonomi dapat dilakukan tanpa kekerasan, namun tetap memberikan pesan kuat kepada para pengambil kebijakan.
Teks di atas merupakan rangkuman dan pengembangan informasi dari unggahan akun Solokini di media sosial Threads, yang dilengkapi dengan penjelasan lebih mendalam mengenai latar belakang, tuntutan, dan harapan para peternak. Penyajian berita ini telah disusun sesuai kode etik jurnalistik, dengan menjaga keseimbangan informasi, tidak menyudutkan pihak tertentu, serta fokus pada kepentingan publik. (Abd)












