Jakarta, SniperNew.id – Di era media sosial yang serba cepat, penampilan bukan sekadar urusan pribadi, melainkan juga bagian dari citra diri (personal branding). Salah satu fenomena yang kerap menjadi sorotan publik adalah perbedaan gaya perempuan berhijab antara kehidupan nyata dan dunia maya, Selasa (26/08).
Topik ini belakangan ramai dibicarakan setelah muncul unggahan seorang pengguna Threads bernama daeng_asih yang menyoroti fenomena hijab, jilboob, hingga manipulasi digital dengan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Melalui beberapa tulisannya, ia mengingatkan publik agar lebih bijak dalam menyikapi konten di media sosial, khususnya yang berkaitan dengan foto-foto perempuan berhijab. Unggahannya mendapat ribuan tayangan dan ratusan interaksi warganet, menandakan isu ini memang dekat dengan realita sehari-hari.
Menurut daeng_asih, hijab pada dasarnya bukan sekadar atribut fashion, melainkan identitas yang perlu dijaga dengan baik. Ia menyoroti adanya fenomena di mana seorang perempuan dalam keseharian tampil sopan dengan hijab, tetapi di media sosial justru terlihat berbeda dengan gaya berpakaian terbuka atau disebut “jilboob”.
“Kalau di dunia nyata tampil sopan, tapi di dunia maya malah cosplay jadi open minded akut, itu bukan seni, melainkan sabotase personal branding,” tulisnya.
Ia menggambarkan perbedaan itu dengan analogi: bagaikan minyak rem yang ditempeli label madu. Artinya, sesuatu yang seharusnya memiliki identitas jelas, justru dikemas dengan citra yang menyesatkan.
Media sosial kerap memberi ruang bagi setiap orang untuk menampilkan sisi berbeda dari dirinya. Namun, dampak dari hal itu tidak selalu positif. Menurut daeng_asih, citra yang tidak konsisten bisa menimbulkan pertanyaan publik, bahkan memicu penilaian negatif.
“Yang nge-like pun bukan selalu kagum, bisa jadi hanya penasaran, ‘Kok bisa ya, dari syar’i berubah jadi syur-i?’” tambahnya.
Fenomena ini menjadi cerminan bagaimana identitas digital seseorang dapat bertolak belakang dengan kehidupan nyata. Dalam konteks gaya hidup, hal tersebut berkaitan erat dengan tren pencitraan di dunia maya—di mana keaslian sering kali kalah oleh sensasi.
Selain membahas soal konsistensi identitas, daeng_asih juga mengingatkan adanya ancaman besar dari akun-akun palsu (fake account) yang sering kali mencuri foto orang lain. Foto itu kemudian diedit atau diberi caption menyesatkan yang dapat merusak reputasi pemilik asli.
“Banyak akun fake yang sengaja comot foto orang, lalu di-edit atau dikasih caption yang bikin reputasi rusak. Ada juga tangan-tangan jahil yang pakai teknologi edit atau AI buat ngerusak citra seseorang,” jelasnya.
Dalam konteks era digital saat ini, teknologi AI memang membuka peluang manipulasi foto semakin mudah. Jika tidak disikapi dengan bijak, dampaknya bisa fatal: reputasi seseorang tercoreng tanpa bisa membela diri.
Unggahan itu juga menekankan bahwa fitnah di dunia digital memiliki konsekuensi panjang. Jika di dunia nyata fitnah bisa diluruskan dengan klarifikasi langsung, maka di dunia maya, jejak digital sulit terhapus.
“Di dunia nyata, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan-di dunia digital, fitnah itu bisa abadi selamanya,” tulisnya.
Pernyataan tersebut menggarisbawahi pentingnya literasi digital. Setiap klik “share” atau “like” terhadap konten yang belum tentu benar sama saja ikut menyebarkan fitnah. Sikap kritis dan logika sehat menjadi kunci agar tidak mudah terjebak dalam arus informasi menyesatkan.
Lebih jauh, daeng_asih mengingatkan bahwa berhijab bukan hanya soal menutup rambut, melainkan juga menjaga kehormatan. Bagi perempuan berhijab, konsistensi dalam menjaga prinsip di dunia nyata maupun maya menjadi hal penting.
“Kalau lihat postingan yang nggak sesuai dengan prinsip itu, besar kemungkinan itu bukan dia, tapi ulah akun palsu,” ujarnya.
Ia menambahkan, kehormatan seseorang tidak sepatutnya ditukar dengan sensasi lima detik di timeline media sosial. Pesan ini ditujukan tidak hanya untuk pengguna media sosial, tetapi juga bagi publik agar lebih bijak dalam menilai.
Dalam unggahan lain, daeng_asih memberi contoh sederhana untuk memahami fenomena ini. Menurutnya, perempuan berhijab yang konsisten menjaga aurat di dunia nyata hampir tidak mungkin tiba-tiba mengunggah foto seksi di media sosial.
“Kalau di dunia nyata aja dia jaga aurat dari mata orang, masa di dunia maya malah dia pajang gratisan?” tulisnya.
Ia menganalogikan hal tersebut seperti orang yang tiap hari rajin menyapu rumah, tetapi tiba-tiba sengaja membuang sampah di halaman sendiri. “Nggak masuk akal, kan?” tambahnya.
Pesan moral yang bisa ditarik dari fenomena ini adalah ajakan agar warganet tidak mudah menilai seseorang hanya dari unggahan digital. Apalagi jika akun tersebut mencurigakan atau terlihat tidak konsisten dengan prinsip pemilik aslinya.
“Kalau kamu nemu akun dengan foto seperti itu, apalagi wajahnya mirip orang yang kamu kenal, jangan langsung percaya,” pesan daeng_asih.
Ungkapan ini sejalan dengan kebutuhan literasi digital masyarakat modern. Netizen diminta untuk selalu memeriksa ulang sumber informasi, tidak sembarangan membagikan konten, dan menghormati privasi orang lain.
Unggahan tersebut memicu beragam respons dari netizen. Beberapa mendukung penuh, menyebut pesan itu sebagai pengingat berharga di tengah derasnya arus media sosial.
Seorang pengguna bernama oryzadsalam berkomentar, “Ya Allah, zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu. Allahumma Aamiin.”
Komentar doa seperti ini menegaskan bahwa persoalan hijab bukan hanya soal citra, tetapi juga erat kaitannya dengan nilai spiritual dan keimanan.
Secara lebih luas, fenomena ini menggambarkan tantangan gaya hidup masyarakat digital. Identitas seseorang kini tidak hanya dilihat dari keseharian di dunia nyata, tetapi juga dari jejak digital yang mereka tinggalkan.
Bagi sebagian orang, media sosial menjadi etalase diri untuk menunjukkan sisi terbaik. Namun, di sisi lain, media sosial juga bisa menjadi pedang bermata dua jika tidak digunakan dengan bijak.
Dalam konteks perempuan berhijab, konsistensi antara dunia nyata dan dunia maya menjadi isu penting. Tidak hanya soal menjaga citra diri, tetapi juga menyangkut kehormatan dan prinsip yang dipegang.
Hijab di media sosial adalah potret kecil dari dinamika gaya hidup digital masyarakat modern. Ia memperlihatkan bagaimana citra diri, identitas, dan kehormatan bisa terancam oleh ulah akun palsu, manipulasi teknologi, atau ketidakkonsistenan dalam menampilkan diri.
Pesan yang bisa dipetik: media sosial adalah ruang publik yang abadi. Apa pun yang kita bagikan akan meninggalkan jejak, baik atau buruk. Karena itu, konsistensi, logika, dan kehati-hatian menjadi kunci agar identitas diri tetap terjaga.
Dalam era serba digital ini, menjaga kehormatan diri sama pentingnya dengan menjaga password akun: keduanya adalah benteng dari kerentanan yang bisa saja dimanfaatkan pihak tak bertanggung jawab.
(Editor Ahmad)












