Berita Ekonomi

KRI Teluk Bone Terdampar di Pariaman, Nasib Kapal Hibah Jadi Tanda Tanya

689
×

KRI Teluk Bone Terdampar di Pariaman, Nasib Kapal Hibah Jadi Tanda Tanya

Sebarkan artikel ini

Paria­man, SniperNew.id – Sebuah kapal perang bekas milik TNI Angkatan Laut, KRI Teluk Bone, kini ter­dampar di pesisir Kota Paria­man, Sumat­era Barat. Kapal yang sem­u­la diren­canakan akan dijadikan muse­um bahari dan des­ti­nasi wisa­ta baru di daer­ah itu, kini kon­disinya mem­pri­hatinkan, Ming­gu (24/08).

Infor­masi men­ge­nai keber­adaan kapal terse­but ramai diperbin­cangkan pub­lik sete­lah diung­gah oleh akun Face­book Afrizal Chan. Dalam ung­ga­han terse­but, Afrizal menulis bah­wa kapal perang terse­but meru­pakan hibah pemer­in­tah untuk Kota Paria­man.

“Kapal perang KRI Teluk Bone Ter­dampar di Paria­man. Hibah dari pemer­in­tah untuk kota Paria­man, ren­cananya dulu mau dijadikan muse­um bahari penam­bah daya tarik wisa­tawan. Kapal perang ini di derek dari Surabaya den­gan biaya 2 mil­iar rupi­ah. Sudah tidak jelas nasib­nya sekarang,” tulis Afrizal Chan dalam ung­ga­han­nya yang dis­er­tai foto kapal besar itu.

Ung­ga­han terse­but lang­sung men­u­ai beragam reak­si war­ganet. Hing­ga saat ini, postin­gan itu telah disukai lebih dari seribu kali, men­da­p­at ratu­san komen­tar, ser­ta puluhan kali dibagikan.

Dalam foto yang dibagikan, tam­pak KRI Teluk Bone dalam keadaan berkarat di banyak bagian lam­bung kapal. Kapal itu dita­m­bat­kan den­gan tali besar ke pesisir pan­tai, namun sudah tam­pak tidak ter­awat.

  Yodan Space Gandeng Sate Batibul, Hadir di Pacific Mall

Tulisan “Teluk Bone” masih ter­li­hat di badan kapal, tetapi cat yang memu­dar ser­ta karat yang meng­gero­goti mem­bu­at penampi­lan­nya jauh dari kesan megah. Beber­a­pa war­ga yang meli­hat lang­sung men­gang­gap kon­disi kapal terse­but seper­ti “bangkai” yang ter­bengkalai.

Sebelum­nya, ren­cana awal pemer­in­tah daer­ah adalah men­jadikan kapal ini seba­gai muse­um bahari yang bisa men­ja­di daya tarik wisa­ta baru bagi masyarakat dan turis di Paria­man. Namun, hing­ga kini belum ada keje­lasan terkait real­isasi ren­cana terse­but.

Kolom komen­tar dalam ung­ga­han Afrizal Chan dipenuhi beragam tang­ga­pan masyarakat. Ada yang meni­lai ide men­datangkan kapal terse­but adalah langkah bagus, tetapi tidak dikelo­la den­gan baik. Ada juga yang jus­tru meny­oroti pem­borosan anggaran yang dikelu­arkan untuk menarik kapal dari Surabaya ke Paria­man.

Seo­rang peng­gu­na Face­book berna­ma Aly Sumar­di menuliskan komen­tar berna­da kri­tik, “Bangkai kapal dibuang ke Paria­man.. besi buruk.. begok..”. Komen­tar ini men­da­p­at banyak reak­si dari neti­zen lain yang seo­lah menyetu­jui pen­da­p­at­nya.

Komen­tar berna­da humor juga bermuncu­lan. Yudi Mar­dian menulis, “Untung aja ngak ada tikus besi di sana..” dis­er­tai emotikon tertawa, yang kemu­di­an dibalas Afrizal Chan den­gan kali­mat ringan.

Semen­tara itu, Sam­sul, salah seo­rang war­ganet, menge­mukakan pan­dan­gan lebih serius. Ia meni­lai bila ingin dijadikan objek wisa­ta, sebaiknya yang dihadirkan adalah kapal pesiar atau kapal bagus den­gan fasil­i­tas lengkap.

“Kalau mau dijadikan tem­pat wisa­ta, sedi­ain kapal pesiar yang bagus den­gan segala fasil­i­tas­nya. Lah, ini kapal buan­gan rong­sok, sia­pa yang mau masuk. Yang ada nan­ti kena tetanus, betul-betul salah minum obat,” tulis Sam­sul den­gan nada satire.

  DPRD Pringsewu Tanggapi Masalah Pupuk Subsidi: Pengawasan Diperketat demi Kepastian Harga dan Ketahanan Pangan

Komen­tar lain­nya datang dari Taji La Park yang men­gatakan, “Buang-buang anggaran untuk sebuah bangkai.”

Sejum­lah komen­tar juga meny­oroti per­soalan anggaran yang cukup besar dikelu­arkan untuk men­datangkan kapal ini. Afrizal dalam ung­ga­han­nya menye­butkan biaya penarikan kapal dari Surabaya ke Paria­man men­ca­pai Rp 2 mil­iar.

Anas Alwi, salah seo­rang war­ganet, menuliskan, “Ide yang bagus, tapi keli­hatan­nya belum ada ino­vasi untuk dijadikan objek wisa­ta, masih seper­ti kapal ter­dampar.”

Komen­tar ini ditang­gapi lang­sung oleh Afrizal Chan den­gan menulis, “Benar.”

Selain itu, Ali Marpeni juga mengkri­tik keras pen­gelo­laan kapal terse­but. “Susah payah diantar sam­pai Pia­man, ter­buang. Belum lagi anggaran kelu­ar. Pak jenius ter­lalu jenius,” tulis­nya den­gan nada sinis.

Menariknya, dalam kolom komen­tar juga ada war­ganet yang mem­bagikan kisah seru­pa dari daer­ah lain. Adi Arin­to menu­turkan bah­wa dulu per­nah ada kapal besar dari beton (cor semen) yang digu­nakan untuk men­gangkut tetes tebu di Pelabuhan Tara­han, Ban­dar Lam­pung.

“Sayangnya tidak diper­hatikan, akhirnya tengge­lam, kare­na ada yang merusak diam­bil besi cornya,” tulis­nya.

Hal ini seo­lah men­ja­di gam­baran bah­wa kapal bekas, bila tidak dikelo­la den­gan baik, berpoten­si berna­sib sama: ter­bengkalai, rusak, atau bahkan hilang sama sekali.

Pub­lik kini mem­per­tanyakan nasib KRI Teluk Bone yang sem­u­la dihara­p­kan men­ja­di ikon wisa­ta bahari Paria­man. Seba­gian masyarakat menyayangkan bila kapal itu hanya dib­iarkan berkarat di tepi pan­tai, semen­tara anggaran besar telah dikelu­arkan untuk meng­hadirkan­nya.

Seba­gian lagi meli­hat ini seba­gai pelu­ang yang seharus­nya bisa diman­faatkan den­gan serius. Jika direstorasi dan dita­ta den­gan baik, kapal terse­but bisa men­ja­di muse­um mar­itim, ruang edukasi sejarah, atau bahkan daya tarik wisa­ta kre­atif yang meng­hasilkan pema­sukan bagi daer­ah.

  Tarif Parkir Grojogan Sewu Diduga Tidak Sesuai Aturan

Namun, tan­pa pen­gelo­laan yang tepat, kapal itu bisa saja men­ja­di sim­bol kega­galan man­a­je­men dan pem­borosan anggaran.

KRI Teluk Bone sendiri adalah kapal perang jenis land­ing ship tank (LST) yang per­nah mem­perku­at arma­da TNI AL. Kapal ini dike­nal seba­gai kapal pen­darat tank yang diban­gun untuk men­dukung operasi militer maupun logis­tik.

Sete­lah pen­si­un dari dinas aktif, kapal ini dis­er­ahkan seba­gai hibah pemer­in­tah kepa­da Kota Paria­man. Ren­cana awal­nya cukup ambi­sius: men­jadikan kapal ini seba­gai muse­um bahari per­ta­ma di Paria­man.

Namun, tan­pa keje­lasan tin­dak lan­jut, kapal itu kini jus­tru menim­bulkan tan­da tanya besar: apakah akan benar-benar direstorasi, ataukah hanya men­ja­di besi tua di tepi pan­tai?

Fenom­e­na KRI Teluk Bone yang kini ter­dampar di Paria­man men­ja­di sorotan pub­lik, bukan hanya kare­na ben­tuk fisiknya yang men­colok di tepi pan­tai, tetapi juga kare­na menyangkut transparan­si peng­gu­naan anggaran ser­ta man­a­je­men pen­gelo­laan aset hibah negara.

Masyarakat berharap pemer­in­tah daer­ah dap­at mem­berikan pen­je­lasan res­mi sekali­gus solusi nya­ta ter­hadap nasib kapal terse­but. Apakah akan segera dijadikan muse­um bahari seba­gaimana ren­cana awal, ataukah dib­iarkan begi­tu saja hing­ga men­ja­di rong­sokan?

Yang jelas, KRI Teluk Bone kini telah men­ja­di perbin­can­gan hangat, baik di dunia maya maupun di masyarakat. Kapal perang yang dulu gagah perkasa di lau­tan kini menung­gu kepas­t­ian masa depan­nya di pan­tai Paria­man.

Edi­tor; (Ahmad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *