Pariaman, SniperNew.id – Sebuah kapal perang bekas milik TNI Angkatan Laut, KRI Teluk Bone, kini terdampar di pesisir Kota Pariaman, Sumatera Barat. Kapal yang semula direncanakan akan dijadikan museum bahari dan destinasi wisata baru di daerah itu, kini kondisinya memprihatinkan, Minggu (24/08).
Informasi mengenai keberadaan kapal tersebut ramai diperbincangkan publik setelah diunggah oleh akun Facebook Afrizal Chan. Dalam unggahan tersebut, Afrizal menulis bahwa kapal perang tersebut merupakan hibah pemerintah untuk Kota Pariaman.
“Kapal perang KRI Teluk Bone Terdampar di Pariaman. Hibah dari pemerintah untuk kota Pariaman, rencananya dulu mau dijadikan museum bahari penambah daya tarik wisatawan. Kapal perang ini di derek dari Surabaya dengan biaya 2 miliar rupiah. Sudah tidak jelas nasibnya sekarang,” tulis Afrizal Chan dalam unggahannya yang disertai foto kapal besar itu.
Unggahan tersebut langsung menuai beragam reaksi warganet. Hingga saat ini, postingan itu telah disukai lebih dari seribu kali, mendapat ratusan komentar, serta puluhan kali dibagikan.
Dalam foto yang dibagikan, tampak KRI Teluk Bone dalam keadaan berkarat di banyak bagian lambung kapal. Kapal itu ditambatkan dengan tali besar ke pesisir pantai, namun sudah tampak tidak terawat.
Tulisan “Teluk Bone” masih terlihat di badan kapal, tetapi cat yang memudar serta karat yang menggerogoti membuat penampilannya jauh dari kesan megah. Beberapa warga yang melihat langsung menganggap kondisi kapal tersebut seperti “bangkai” yang terbengkalai.
Sebelumnya, rencana awal pemerintah daerah adalah menjadikan kapal ini sebagai museum bahari yang bisa menjadi daya tarik wisata baru bagi masyarakat dan turis di Pariaman. Namun, hingga kini belum ada kejelasan terkait realisasi rencana tersebut.
Kolom komentar dalam unggahan Afrizal Chan dipenuhi beragam tanggapan masyarakat. Ada yang menilai ide mendatangkan kapal tersebut adalah langkah bagus, tetapi tidak dikelola dengan baik. Ada juga yang justru menyoroti pemborosan anggaran yang dikeluarkan untuk menarik kapal dari Surabaya ke Pariaman.
Seorang pengguna Facebook bernama Aly Sumardi menuliskan komentar bernada kritik, “Bangkai kapal dibuang ke Pariaman.. besi buruk.. begok..”. Komentar ini mendapat banyak reaksi dari netizen lain yang seolah menyetujui pendapatnya.
Komentar bernada humor juga bermunculan. Yudi Mardian menulis, “Untung aja ngak ada tikus besi di sana..” disertai emotikon tertawa, yang kemudian dibalas Afrizal Chan dengan kalimat ringan.
Sementara itu, Samsul, salah seorang warganet, mengemukakan pandangan lebih serius. Ia menilai bila ingin dijadikan objek wisata, sebaiknya yang dihadirkan adalah kapal pesiar atau kapal bagus dengan fasilitas lengkap.
“Kalau mau dijadikan tempat wisata, sediain kapal pesiar yang bagus dengan segala fasilitasnya. Lah, ini kapal buangan rongsok, siapa yang mau masuk. Yang ada nanti kena tetanus, betul-betul salah minum obat,” tulis Samsul dengan nada satire.
Komentar lainnya datang dari Taji La Park yang mengatakan, “Buang-buang anggaran untuk sebuah bangkai.”
Sejumlah komentar juga menyoroti persoalan anggaran yang cukup besar dikeluarkan untuk mendatangkan kapal ini. Afrizal dalam unggahannya menyebutkan biaya penarikan kapal dari Surabaya ke Pariaman mencapai Rp 2 miliar.
Anas Alwi, salah seorang warganet, menuliskan, “Ide yang bagus, tapi kelihatannya belum ada inovasi untuk dijadikan objek wisata, masih seperti kapal terdampar.”
Komentar ini ditanggapi langsung oleh Afrizal Chan dengan menulis, “Benar.”
Selain itu, Ali Marpeni juga mengkritik keras pengelolaan kapal tersebut. “Susah payah diantar sampai Piaman, terbuang. Belum lagi anggaran keluar. Pak jenius terlalu jenius,” tulisnya dengan nada sinis.
Menariknya, dalam kolom komentar juga ada warganet yang membagikan kisah serupa dari daerah lain. Adi Arinto menuturkan bahwa dulu pernah ada kapal besar dari beton (cor semen) yang digunakan untuk mengangkut tetes tebu di Pelabuhan Tarahan, Bandar Lampung.
“Sayangnya tidak diperhatikan, akhirnya tenggelam, karena ada yang merusak diambil besi cornya,” tulisnya.
Hal ini seolah menjadi gambaran bahwa kapal bekas, bila tidak dikelola dengan baik, berpotensi bernasib sama: terbengkalai, rusak, atau bahkan hilang sama sekali.
Publik kini mempertanyakan nasib KRI Teluk Bone yang semula diharapkan menjadi ikon wisata bahari Pariaman. Sebagian masyarakat menyayangkan bila kapal itu hanya dibiarkan berkarat di tepi pantai, sementara anggaran besar telah dikeluarkan untuk menghadirkannya.
Sebagian lagi melihat ini sebagai peluang yang seharusnya bisa dimanfaatkan dengan serius. Jika direstorasi dan ditata dengan baik, kapal tersebut bisa menjadi museum maritim, ruang edukasi sejarah, atau bahkan daya tarik wisata kreatif yang menghasilkan pemasukan bagi daerah.
Namun, tanpa pengelolaan yang tepat, kapal itu bisa saja menjadi simbol kegagalan manajemen dan pemborosan anggaran.
KRI Teluk Bone sendiri adalah kapal perang jenis landing ship tank (LST) yang pernah memperkuat armada TNI AL. Kapal ini dikenal sebagai kapal pendarat tank yang dibangun untuk mendukung operasi militer maupun logistik.
Setelah pensiun dari dinas aktif, kapal ini diserahkan sebagai hibah pemerintah kepada Kota Pariaman. Rencana awalnya cukup ambisius: menjadikan kapal ini sebagai museum bahari pertama di Pariaman.
Namun, tanpa kejelasan tindak lanjut, kapal itu kini justru menimbulkan tanda tanya besar: apakah akan benar-benar direstorasi, ataukah hanya menjadi besi tua di tepi pantai?
Fenomena KRI Teluk Bone yang kini terdampar di Pariaman menjadi sorotan publik, bukan hanya karena bentuk fisiknya yang mencolok di tepi pantai, tetapi juga karena menyangkut transparansi penggunaan anggaran serta manajemen pengelolaan aset hibah negara.
Masyarakat berharap pemerintah daerah dapat memberikan penjelasan resmi sekaligus solusi nyata terhadap nasib kapal tersebut. Apakah akan segera dijadikan museum bahari sebagaimana rencana awal, ataukah dibiarkan begitu saja hingga menjadi rongsokan?
Yang jelas, KRI Teluk Bone kini telah menjadi perbincangan hangat, baik di dunia maya maupun di masyarakat. Kapal perang yang dulu gagah perkasa di lautan kini menunggu kepastian masa depannya di pantai Pariaman.
Editor; (Ahmad)













