Pandeglang, SniperNew.id – Sebuah momen unik terjadi dalam aksi demonstrasi mahasiswa di Pandeglang yang menolak kerja sama pengelolaan sampah antara Kabupaten Pandeglang dengan Pemerintah Kota Tangerang Selatan.
Aksi yang diwarnai orasi dan penyampaian aspirasi itu sempat menimbulkan insiden kecil ketika salah seorang mahasiswa melempar telur ke arah gedung, namun tanpa disengaja mengenai salah satu anggota kepolisian yang tengah bertugas mengamankan jalannya demonstrasi, Selasa (19/08/2025).
Peristiwa tersebut sontak menarik perhatian peserta aksi maupun masyarakat yang berada di lokasi. Meski insiden pelemparan telur kerap dianggap sebagai bentuk simbolik dalam aksi unjuk rasa, kali ini situasinya berbeda. Mahasiswa yang melempar telur langsung menyadari bahwa lemparannya tidak sengaja mengenai aparat kepolisian. Tanpa ragu, mahasiswa tersebut segera mendatangi polisi yang terkena lemparan untuk menyampaikan permintaan maaf secara langsung.
Sikap ksatria mahasiswa itu mendapat respons positif dari pihak kepolisian. Anggota polisi yang terkena lemparan telur pun dengan lapang dada menerima permintaan maaf tersebut. Bahkan, ia menunjukkan sikap tenang dan memaafkan mahasiswa seolah insiden itu tidak pernah terjadi. Kejadian ini kemudian menjadi sorotan karena menggambarkan suasana kondusif di tengah aksi demonstrasi yang biasanya identik dengan ketegangan antara aparat dan massa aksi.
Dalam unggahan akun media sosial @pandeglang.update, peristiwa ini diceritakan dengan kalimat, “Mahasiswa baik ketemu polisi baik.. Lantas siapa yang jahat??” Tulisan itu menggambarkan suasana damai yang terjadi di lokasi aksi, di mana mahasiswa dan aparat sama-sama menjaga sikap saling menghormati meskipun berada dalam situasi demonstrasi.
Lebih lanjut, akun tersebut menjelaskan bahwa salah seorang mahasiswa memang tidak sengaja melempar telur hingga mengenai polisi. “Sang mahasiswa pun langsung minta maaf dan sang polisi pun memaafkan seolah tak terjadi apa-apa. Salut buat mahasiswa dan pak polisi,” demikian narasi yang dituliskan.
Unggahan itu juga disertai tagar #pandeglangupdate, #bantenupdate, dan #pandeglangbukantempatsampah. Tagar tersebut menguatkan pesan utama demonstrasi, yakni penolakan kerja sama pengelolaan sampah dari luar daerah.
Selain itu, dalam sebuah potongan video yang beredar, terlihat mahasiswa menggunakan jas almamater biru berdiri di depan gedung dengan latar belakang spanduk bertuliskan penolakan terhadap kebijakan yang dianggap merugikan masyarakat Pandeglang.
Di video yang sama, terdapat keterangan teks berbunyi: “Momen mahasiswa tidak sengaja lempar telur terkena anggota polisi, dan langsung meminta maaf 👌.”
Momen itu turut menuai apresiasi dari warganet. Beberapa komentar di media sosial menyebut bahwa sikap saling menghormati antara mahasiswa dan aparat merupakan teladan positif dalam menyampaikan aspirasi. Aksi damai seperti itu dinilai mampu mencairkan ketegangan yang biasanya muncul dalam demonstrasi.
Kejadian unik ini menegaskan bahwa demonstrasi tidak selalu berakhir ricuh atau penuh gesekan. Justru, dengan sikap dewasa dan saling memahami, aspirasi dapat tersampaikan dengan baik tanpa menimbulkan konflik yang lebih besar.
Aksi mahasiswa sendiri dilatarbelakangi oleh keresahan terkait rencana kerja sama pengelolaan sampah antara Pandeglang dan Tangerang Selatan. Mahasiswa menilai kebijakan tersebut akan menimbulkan dampak lingkungan dan sosial bagi masyarakat setempat. Oleh karena itu, mereka menyuarakan penolakan melalui aksi demonstrasi dengan membawa spanduk serta melakukan orasi di depan kantor pemerintahan daerah.
Walaupun sempat terjadi insiden pelemparan telur, suasana tetap kondusif hingga akhir aksi. Aparat kepolisian yang mengawal jalannya demonstrasi pun memastikan bahwa kegiatan penyampaian aspirasi berjalan lancar.
Insiden ini seakan memberikan pelajaran penting bagi publik bahwa dialog dan sikap saling memaafkan bisa menjadi kunci menjaga keharmonisan dalam ruang demokrasi. Di satu sisi, mahasiswa berhak menyampaikan aspirasi mereka, sementara di sisi lain aparat kepolisian memiliki tugas menjaga keamanan. Ketika kedua pihak menunjukkan sikap saling menghormati, situasi yang berpotensi tegang bisa berubah menjadi penuh keteladanan.
Momen ini juga menjadi pengingat bahwa perbedaan pandangan antara masyarakat dan pemerintah seharusnya tidak selalu melahirkan permusuhan. Justru dengan keterbukaan dan sikap dewasa, penyelesaian masalah dapat dicapai dengan cara yang lebih bijak.
Hingga berita ini ditulis, aksi penolakan kerja sama pengelolaan sampah masih menjadi topik pembicaraan di masyarakat Pandeglang. Meski demikian, apresiasi publik terhadap mahasiswa dan aparat kepolisian dalam menyikapi insiden kecil ini patut dicatat sebagai contoh baik.
Dalam konteks yang lebih luas, peristiwa ini memperlihatkan wajah lain dari demonstrasi mahasiswa yang kerap dipersepsikan negatif. Alih-alih terjadi bentrokan, momen ini justru menghadirkan nilai persaudaraan, saling menghargai, dan perdamaian.
Ke depan, diharapkan setiap aksi penyampaian pendapat dapat terus mengedepankan prinsip damai dan saling menghormati. Dengan demikian, demokrasi dapat berjalan sehat tanpa harus diwarnai dengan konflik yang tidak perlu.
Editor: (Darmawan)













