Berita Nasional

Bank di Nigeria Dikeluhkan, Warga Nilai Biaya Transfer dan Penerimaan Uang Terlalu Membebani

491
×

Bank di Nigeria Dikeluhkan, Warga Nilai Biaya Transfer dan Penerimaan Uang Terlalu Membebani

Sebarkan artikel ini

Pekan­baru, SniperNew.id – Ung­ga­han seo­rang war­ganet asal Nige­ria, Buchi Laba, kem­bali meman­tik diskusi luas men­ge­nai prak­tik per­bankan di negaranya. Melalui akun media sosial X (Twit­ter), ia menyuarakan kere­sa­han ter­hadap biaya layanan bank yang dini­lai mem­ber­atkan masyarakat, teruta­ma dalam transak­si pen­gi­r­i­man maupun pener­i­maan uang, Senin (18/08/2025).

Dalam cui­tan­nya, Buchi meny­oroti fenom­e­na yang menu­rut­nya tidak masuk akal: nasabah dike­nakan biaya saat men­gir­im uang, dan pener­i­ma juga tetap harus mem­ba­yar biaya tam­ba­han.

“We Nige­ri­ans are just loud and proud for Noth­ing. We are enti­tled to what celebrities|influencers do that’s not our Busi­ness because how can NIGERIA BANKS be charg­ing us for send­ing mon­ey and receiv­ing Mon­ey! HOW!” tulis­nya den­gan nada ger­am.

Lebih lan­jut, ia men­con­tohkan situ­asi sehari-hari. Saat sese­o­rang men­gir­im uang sebe­sar 10 ribu naira, pener­i­ma dike­nakan biaya sek­i­tar 50 naira, semen­tara pen­gir­im juga dipo­tong 25 naira. “Bagaimana hal ini bisa masuk akal? Men­ga­pa kita tidak menan­tang kebi­jakan seper­ti ini?” tam­bah­nya.

Buchi juga mene­gaskan bah­wa sek­tor per­bankan di Nige­ria men­ja­di salah satu yang terkaya kare­na meman­faatkan kon­disi terse­but. Menu­rut­nya, bank mem­per­oleh mil­iaran naira seti­ap hari dari pung­utan yang dise­but­nya seba­gai “false charges”. Ia bahkan menud­ing bah­wa bank ser­ing berlin­dung di balik atu­ran bank sen­tral, pada­hal prak­tiknya jelas merugikan masyarakat. “The Bank­ing sec­tor in Nige­ria is the rich­est because we are their con­firmed mugus and the most cor­rupt! This guys can take in Bil­lions of Naira Dai­ly from False charges. They will quote one use­less Cen­tral bank law like what they’re doing is right!” ujarnya.

  Drama Buka Tutup Koperasi Desa Merah Putih

Ia menut­up perny­ataan­nya den­gan meny­oroti kesen­jan­gan sosial yang semakin tajam. Di ten­gah kon­disi ekono­mi sulit, keti­ka banyak orang kesuli­tan memenuhi kebu­tuhan makan sehari-hari, beban tam­ba­han dari bank menu­rut­nya adalah ben­tuk keti­dakadi­lan yang nya­ta.

Ung­ga­han Buchi Laba terse­but lang­sung men­u­ai beragam tang­ga­pan dari war­ganet. Banyak di antaranya mem­berikan dukun­gan, men­gakui bah­wa masalah biaya bank telah men­ja­di keluhan pub­lik sejak lama.

Seo­rang peng­gu­na berna­ma Ugoli­bra menuliskan. “Very annoy­ing set of peo­ple. At the end of the month, they still charge you.. they are the real yahoo boys.”

Komen­tar ini menyi­ratkan bah­wa masyarakat men­gang­gap bank seba­gai “pelaku penipuan yang sah”, kare­na pung­utan biaya yang terus-menerus ter­ja­di tan­pa keje­lasan.

Sena­da den­gan itu, Samuel (@Adesopesam264) meny­atakan bah­wa masalah ini dap­at terus berlang­sung kare­na masyarakat lebih banyak menyalurkan ener­gi pada hal-hal sepele ketim­bang masalah men­dasar. “Hon­est­ly, a lot of things that these insti­tu­tions get away with is because we are gullible to chan­nel our ener­gies on things that do not con­cern us. But when we see day light rob­bery, we pas­sive­ly allow it. Even when we’re the vic­tims. I won­der Nige­ri­a’s fate,” tulis­nya.

  Diplomasi di Qasr Al Bahr

Ada pula komen­tar dari akun berna­ma SAMUEL YNWA yang menekankan bah­wa banyak orang jus­tru lebih suka mengkri­tik hal-hal tidak pent­ing dari­pa­da berbicara ten­tang sis­tem yang merugikan. “This coun­try is just messed up in so many ways and so many peo­ple that are sup­posed to speak against this sys­tem don’t rather they speak against those things that do not give val­ue to the peo­ple at all.”

Mes­ki may­ori­tas komen­tar men­dukung, ada pula tang­ga­pan yang bernu­ansa kri­tik ter­hadap Buchi. Seo­rang peng­gu­na berna­ma Ter­mi­nal men­gatakan, “I have nev­er seen you say­ing a good thing about your roots.” Artinya, seba­gian war­ganet meni­lai Buchi ter­lalu ser­ing meny­oroti hal-hal negatif ten­tang negaranya.

Semen­tara itu, akun lain den­gan nama Forza Cim­bom menuliskan secara ringan. “I don’t real­ly know the top­ic, but what­ev­er you say must be right-because we love Osimhen!”

Diskusi pan­jang ini menun­jukkan adanya kri­sis keper­cayaan masyarakat ter­hadap sis­tem per­bankan di Nige­ria. Biaya trans­fer yang diang­gap tidak masuk akal men­ja­di sim­bol keti­dakpuasan lebih luas ter­hadap lem­ba­ga keuan­gan.

Pakar ekono­mi meni­lai, biaya layanan per­bankan memang dibu­tuhkan untuk men­ja­ga keber­lan­ju­tan opera­sion­al, namun jika tarif ter­lalu ting­gi tan­pa transparan­si, pub­lik akan meli­hat­nya seba­gai ben­tuk per­am­pasan. Kon­disi ini juga dap­at memicu meningkat­nya peng­gu­naan jalur keuan­gan infor­mal yang jus­tru berisiko bagi sta­bil­i­tas sis­tem keuan­gan.

  Bahas Dugaan Praktik Tak Manusiawi, Mensos Terima Aktivis di Kemensos

Bagi masyarakat yang hidup dalam tekanan ekono­mi, poton­gan kecil sekalipun terasa berat. Keti­ka seti­ap transak­si dike­nakan biaya gan­da-baik untuk pen­gir­im maupun pener­i­ma ‑dampaknya semakin sig­nifikan.

Dari rangka­ian komen­tar, jelas ter­li­hat bah­wa war­ga Nige­ria menginginkan transparan­si dan kead­i­lan lebih besar dalam sis­tem per­bankan. Seba­gian meni­lai pemer­in­tah dan bank sen­tral per­lu menin­jau ulang reg­u­lasi agar nasabah tidak merasa diek­sploitasi.

Wacana refor­masi sek­tor per­bankan bukan­lah hal baru. Namun, tekanan pub­lik seper­ti yang muncul dalam diskusi ini dap­at men­ja­di momen­tum untuk men­dorong kebi­jakan yang lebih berpi­hak kepa­da raky­at.

Di akhir perde­batan, per­tanyaan besar tetap meng­gan­tung: apakah suara pub­lik akan cukup kuat untuk men­gubah sis­tem yang sudah men­gakar?

Kon­tro­ver­si yang dipicu oleh cui­tan Buchi Laba hanyalah satu dari sekian banyak suara keti­dakpuasan masyarakat Nige­ria ter­hadap lem­ba­ga keuan­gan. Di ten­gah kon­disi ekono­mi sulit, isu biaya trans­fer bank bukan sekadar masalah tek­nis, melainkan juga menyangkut kead­i­lan sosial.

Suara-suara dari war­ganet mem­per­li­hatkan bah­wa masyarakat mulai lelah den­gan beban biaya yang dini­lai tidak wajar. Apa­bi­la aspi­rasi ini terus diper­juangkan, bukan tidak mungkin akan ter­ja­di peruba­han kebi­jakan. Namun, jika tetap dib­iarkan, kere­sa­han pub­lik bisa berkem­bang men­ja­di keti­dakper­cayaan yang lebih dalam ter­hadap sis­tem per­bankan negara terse­but.

Edi­tor: (Ahmad).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *