Di tengah hiruk pikuk kota, sebuah kisah inspiratif datang dari unggahan akun Threads bernama “folkkonoha” pada Senin, 11 Agustus 2025. Kisah itu menceritakan momen tak terduga seorang pria bertemu dengan seorang pemulung yang ternyata adalah lulusan Strata 1 (S1), fasih berbahasa Inggris, dan pernah bekerja di perusahaan ternama.
Pertemuan tersebut berawal saat sang pengunggah sedang berjalan pulang dari kantor pada sore hari. Ia melihat seorang pria dengan karung besar di punggung, memunguti botol plastik di pinggir jalan. Rasa penasaran membuatnya menghampiri dan mengajak berbincang. Yang mengejutkan, bahasa Inggris pemulung tersebut sangat lancar, dengan pengucapan yang nyaris sempurna.
“Saya kira beliau turis asing atau pernah tinggal di luar negeri, ternyata beliau asli Indonesia,” tulis “folkkonoha” dalam unggahannya. Lebih lanjut, ia menceritakan bahwa sang pemulung pernah menempuh pendidikan hingga lulus S1 di salah satu universitas swasta ternama di Jakarta. Bahkan, ia pernah bekerja di sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang ekspor-impor.
Namun, roda kehidupan tak selalu berputar di atas. Beberapa tahun lalu, perusahaan tempatnya bekerja melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal akibat krisis finansial global. Setelah berbulan-bulan mencari pekerjaan baru tanpa hasil, tabungan yang dimiliki pun habis.
“Akhirnya saya coba pekerjaan apa saja. Pernah jadi sopir ojek, jaga warung, sampai akhirnya memilih memulung. Setidaknya pekerjaan ini fleksibel dan saya bisa atur waktu sendiri,” kata pemulung tersebut, seperti dikutip dari cerita di Threads.
Meski banyak orang menganggap memulung sebagai pekerjaan rendah, pria tersebut mengaku tak pernah merasa malu. Baginya, yang terpenting adalah perut terisi, hidup tetap berjalan, dan hati tetap bahagia.
“Gengsi itu nggak bisa dimakan, Mas. Lebih baik saya bekerja jujur dan nggak merepotkan orang,” ucapnya lugas.
Cerita ini sontak menjadi perbincangan di jagat maya. Banyak warganet yang merasa tersentuh dengan kisah sang pemulung. Sebagian mengaku salut dengan mentalnya yang tangguh, sebagian lagi merasa prihatin dengan sulitnya lapangan pekerjaan bagi lulusan perguruan tinggi.
Tak sedikit pula yang menyoroti bahwa gelar pendidikan tinggi tak selalu menjamin hidup mapan. Perubahan kondisi ekonomi, persaingan kerja yang ketat, dan faktor keberuntungan sering kali menjadi penentu utama dalam perjalanan karier seseorang.
“Kadang hidup memang nggak sesuai rencana. Tapi bukan berarti kita berhenti berjuang,” komentar salah satu pengguna Threads.
Fenomena ini bukan kasus tunggal. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka di Indonesia masih menyentuh angka 5,45% pada awal 2025, dan sebagian di antaranya adalah lulusan perguruan tinggi.
Profesi pemulung kerap dipandang sebelah mata. Dalam banyak kasus, stigma sosial membuat orang merasa rendah diri jika harus menekuni pekerjaan yang dianggap ‘tidak layak’. Namun, cerita ini membuktikan bahwa nilai seseorang tidak hanya diukur dari profesinya.
Sang pemulung sendiri mengaku pernah menerima cibiran dari orang-orang yang mengenalnya dulu. “Ada yang kaget, ada yang kasihan, tapi saya biasa saja. Toh, mereka nggak kasih saya makan,” ujarnya sambil tertawa.
Ia juga mengatakan, memulung membuatnya belajar banyak hal baru, seperti cara memilah sampah yang bisa dijual kembali, mengatur waktu kerja yang efektif, hingga berinteraksi dengan berbagai lapisan masyarakat. “Kalau dulu di kantor, saya ketemu orang-orang berdasi. Sekarang, saya ketemu orang-orang jalanan, tapi sama-sama punya cerita hidup yang berharga.
Yang menarik, meski hidup jauh dari kata mewah, sang pemulung punya prinsip sederhana yang menjadi pegangan: bahagia bukan soal uang, tapi soal hati yang tenang. Ia mengaku tetap bersyukur karena masih sehat, bisa makan setiap hari, dan memiliki teman-teman sesama pemulung yang saling membantu.
“Kalau kita sibuk iri sama orang lain, kita nggak akan pernah puas. Hidup ini cuma sekali, jadi jalani aja dengan bahagia,” ucapnya.
Pernyataan ini menjadi kutipan yang banyak dibagikan ulang oleh warganet, bahkan dijadikan bahan motivasi di berbagai platform media sosial.
Kisah ini menjadi cermin bagi generasi muda, terutama yang masih duduk di bangku kuliah atau baru lulus. Di dunia kerja yang semakin kompetitif, kemampuan adaptasi menjadi salah satu kunci bertahan. Gelar akademik memang penting, tetapi keterampilan praktis, jaringan relasi, dan ketahanan mental tidak kalah krusial.
Selain itu, kisah ini mengingatkan bahwa kesuksesan tidak selalu identik dengan jabatan tinggi atau gaji besar. Bekerja dengan hati tenang, jujur, dan bermanfaat bagi orang lain bisa menjadi bentuk kesuksesan tersendiri.
Unggahan ini langsung dibanjiri ribuan komentar dan disukai ribuan pengguna Threads. Banyak yang membagikan pengalaman serupa, baik dari diri sendiri maupun orang yang mereka kenal.
Ada yang bercerita tentang ayahnya yang lulusan teknik tetapi memilih menjadi pedagang kaki lima, atau temannya yang dulu bankir kini bekerja sebagai tukang ojek. Semua sepakat bahwa tidak ada pekerjaan yang hina selama dilakukan dengan jujur.
“Bangga banget lihat orang kayak beliau. Ini contoh nyata bahwa kebahagiaan bukan cuma milik orang kaya,” tulis salah satu warganet.
Meski nyaman dengan pekerjaannya sekarang, sang pemulung mengaku masih membuka peluang jika ada tawaran kerja yang lebih stabil. Namun, ia menegaskan tidak akan memaksakan diri atau mengorbankan kebahagiaannya demi gengsi semata.
“Apa pun yang terjadi, saya tetap akan berusaha kerja. Yang penting halal, nggak nyusahin orang, dan bisa bikin hati senang,” pungkasnya.
Kisah ini meninggalkan pesan mendalam: bahwa hidup selalu penuh kemungkinan, dan cara kita merespons perubahanlah yang menentukan kebahagiaan kita. Dari kantor bergengsi hingga jalanan, dari jas rapi hingga karung di pundak — nilai manusia tetap terletak pada integritas dan semangatnya.
Kalau mau, aku bisa buatkan juga versi headline tambahan yang lebih catchy supaya berita ini bisa dipakai untuk media online atau sosial media. Mau aku buatkan?. (Red)



















