Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Ekonomi

Beras Aceh Mengalir ke Sumut, Harga di Daerah Sendiri Meroket

200
×

Beras Aceh Mengalir ke Sumut, Harga di Daerah Sendiri Meroket

Sebarkan artikel ini

Aceh, SniperNew.id — Pada 10 Agus­tus 2025, Sebanyak 4.000 ton beras dikir­imkan oleh Perum Bulog Aceh ke Sumat­era Utara untuk mem­perku­at stok pan­gan di wilayah terse­but. Diku­tip Senin (11/08) pada rilis yang di share oleh salah satu anggota grup What­sApp media onlin berna­ma “Kita Satu Pena” den­gan no What­sApp (0823610101XX). Namun, di sisi lain, har­ga beras di Aceh sendiri jus­tru merangkak naik dalam beber­a­pa ming­gu ter­akhir, memicu per­tanyaan pub­lik terkait pri­or­i­tas dis­tribusi pan­gan daer­ah.

Pemimpin Wilayah Perum Bulog Sumat­era Utara, Budi Cahyan­to, mem­be­narkan adanya pasokan besar terse­but. “Kami men­da­p­atkan 4.000 ton beras yang dikir­im oleh Bulog Aceh,” ujarnya seper­ti diku­tip dari Antara, Ming­gu (10/8/2025). Menu­rut­nya, tam­ba­han stok ini dihara­p­kan mam­pu men­sta­bilkan pasokan beras di Sumat­era Utara, khusus­nya meng­hadapi poten­si lon­jakan kebu­tuhan men­je­lang akhir tahun.

Beras yang dikir­im ini dike­tahui meru­pakan bagian dari cadan­gan pemer­in­tah yang dikelo­la Bulog. Di Sumat­era Utara, stok beras dise­but masih aman, namun tam­ba­han suplai dari Aceh akan mem­perku­at keta­hanan pan­gan daer­ah terse­but dalam jang­ka menen­gah.

Iro­nis­nya, mes­ki mam­pu mema­sok ribuan ton beras ke provin­si tetang­ga, Aceh sendiri sedang meng­hadapi kenaikan har­ga beras dalam satu bulan ter­akhir. Sejum­lah peda­gang dan kon­sumen di pasar tra­di­sion­al men­geluhkan kenaikan har­ga yang dini­lai cukup sig­nifikan.

  Terpal Jadi Alas Rezeki: Kisah Ibu-Ibu Hebat Penjual Bumbu yang Tak Kenal Lelah di Pasar Taji

Berdasarkan pan­tauan di beber­a­pa pasar di Ban­da Aceh, har­ga beras medi­um yang sebelum­nya bera­da di kisaran Rp12.000–Rp13.000 per kilo­gram kini naik men­ja­di Rp13.500–Rp14.000 per kilo­gram. Semen­tara beras pre­mi­um bahkan men­em­bus Rp16.000 per kilo­gram.

Para peda­gang menu­turkan, kenaikan har­ga dipicu oleh ter­batas­nya pasokan dari petani lokal dan meningkat­nya biaya dis­tribusi. Namun, pen­gi­r­i­man ribuan ton beras ke luar daer­ah dise­but-sebut turut mem­per­ke­tat stok di pasar lokal.

Seo­rang peda­gang beras di Pasar Peu­nay­ong, Zulk­i­fli, men­gatakan bah­wa stok beras di gudang-gudang kecil mulai menip­is. “Kami her­an, di Aceh har­ga naik, tapi malah kir­im beras ke luar. Mestinya kebu­tuhan kita dulu yang dipenuhi,” keluh­nya.

Kebi­jakan Bulog Aceh ini men­u­ai beragam respons. Seba­gian pihak mem­per­tanyakan apakah langkah terse­but sudah tepat di ten­gah kon­disi har­ga yang tidak terk­endali.

“Bulog seharus­nya mem­pri­or­i­taskan keterse­di­aan pan­gan untuk daer­ah sendiri sebelum men­gir­imkan ke luar. Apala­gi saat ini har­ga sedang ting­gi, masyarakat ten­tu akan merasa ter­be­bani,” ujar Rasyid, seo­rang pemer­hati ekono­mi pan­gan Aceh.

Ia menam­bahkan, jika pasokan beras di Aceh berku­rang aki­bat pen­gi­r­i­man ke provin­si lain, dikhawatirkan inflasi pan­gan akan semakin mem­be­bani masyarakat. “Kita paham ada ker­ja sama antar­wilayah, tapi jan­gan sam­pai daer­ah sendiri jus­tru keku­ran­gan,” ujarnya.

  Gubernur Sulut Dorong UMKM dan Pariwisata Berkembang Melalui Program Pro Rakyat

Hing­ga beri­ta ini diter­bitkan, Bulog Aceh belum mem­berikan keteran­gan res­mi terkait alasan tek­nis di balik pen­gi­r­i­man besar ini. Namun, dalam mekanisme nasion­al, Bulog berper­an mendis­tribusikan beras antar­wilayah sesuai instruk­si pusat, teruta­ma untuk men­ja­ga kese­im­ban­gan stok nasion­al.

Kebi­jakan ini biasanya mem­per­tim­bangkan keterse­di­aan stok di gudang Bulog, kebu­tuhan daer­ah, ser­ta kon­disi har­ga di pasar. Dalam banyak kasus, pen­gi­r­i­man antarprovin­si dilakukan untuk men­gan­tisi­pasi kelangkaan di wilayah ter­ten­tu, meskipun hal itu bisa memicu perde­batan jika daer­ah pen­gir­im sendiri sedang men­gala­mi kenaikan har­ga.

Bagi masyarakat Aceh, kenaikan har­ga beras men­ja­di puku­lan gan­da di ten­gah situ­asi ekono­mi yang belum sepenuh­nya pulih. Seba­gai makanan pokok, beras memi­li­ki por­si besar dalam pen­gelu­aran rumah tang­ga.

Nurhay­ati, ibu rumah tang­ga di Lhok­se­u­mawe, men­gaku ter­pak­sa men­gu­ran­gi pem­be­lian beras pre­mi­um kare­na har­ganya sudah ter­lalu ting­gi. “Dulu kami pakai beras yang bagus, sekarang ter­pak­sa turun ke kual­i­tas sedang. Kalau tidak begi­tu, belan­ja bulanan tidak cukup,” ujarnya.

Kenaikan har­ga beras juga memen­garuhi peda­gang kulin­er. Beber­a­pa warung makan dan pen­jual nasi di Ban­da Aceh men­gaku harus menye­suaikan har­ga jual atau men­gu­ran­gi por­si nasi untuk mengim­ban­gi biaya pro­duk­si.

Penga­mat kebi­jakan pub­lik, Dr. M. Yusuf, meni­lai per­lun­ya eval­u­asi kebi­jakan dis­tribusi pan­gan oleh pemer­in­tah daer­ah dan Bulog. “Pen­gi­r­i­man ke provin­si lain sah-sah saja jika stok daer­ah men­cukupi. Namun jika di lapan­gan har­ga naik dan stok ter­batas, itu artinya ada masalah dalam peren­canaan dis­tribusi,” tegas­nya.

  Waspada Aplikasi Penghasil Uang "KREDIT dan CASHBAC", Apahah Benar Membayar?

Ia men­yarankan pemer­in­tah Aceh segera melakukan koor­di­nasi den­gan Bulog untuk memas­tikan pasokan lokal tetap aman. Selain itu, per­lu ada upaya menekan har­ga, seper­ti operasi pasar murah atau penyalu­ran cadan­gan beras pemer­in­tah lang­sung ke masyarakat.

Masyarakat berharap agar pemer­in­tah daer­ah bersama Bulog segera mengam­bil langkah nya­ta. Operasi pasar men­ja­di salah satu opsi yang dinan­tikan untuk menekan har­ga beras di pasar tra­di­sion­al.

Selain itu, petani lokal di Aceh juga mem­inta adanya dukun­gan agar pro­duk­si mere­ka bisa lebih opti­mal. Den­gan pen­ingkatan pro­duk­si, dihara­p­kan stok beras lokal bisa men­cukupi kebu­tuhan sendiri sekali­gus mem­ban­tu daer­ah lain tan­pa men­gor­bankan kepentin­gan masyarakat Aceh.

Bagi seba­gian war­ga, per­soalan ini bukan sekadar soal dis­tribusi, melainkan soal rasa kead­i­lan. “Kalau memang kita mam­pu kir­im beras kelu­ar, pastikan dulu raky­at Aceh tidak men­jer­it kare­na har­ga mahal. Baru sete­lah itu berba­gi den­gan provin­si lain,” pungkas Rasyid.

Kasus pen­gi­r­i­man 4.000 ton beras dari Aceh ke Sumat­era Utara di ten­gah kenaikan har­ga beras di Aceh menun­jukkan per­lun­ya koor­di­nasi yang lebih matang antara Bulog, pemer­in­tah daer­ah, dan pemangku kebi­jakan pan­gan. Pri­or­i­tas kebu­tuhan lokal harus men­ja­di per­tim­ban­gan uta­ma agar kebi­jakan dis­tribusi tidak menim­bulkan gejo­lak har­ga dan kere­sa­han masyarakat.

Den­gan pen­gelo­laan stok yang lebih terukur, dihara­p­kan Aceh bisa memenuhi kebu­tuhan war­ganya sekali­gus tetap berkon­tribusi pada keta­hanan pan­gan nasion­al tan­pa men­gor­bankan kepentin­gan lokal. (Red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *