Barito Utara, SniperNew.id – Sebuah video berdurasi 28 detik yang dibagikan oleh Yohanes Karwilus di grup WhatsApp internal SniperNew.id pada 23 Juli 2025, menjadi sorotan internal dan netizen setelah beredar di media sosial. Video tersebut menampilkan momen ketika warga Barito Utara mencoba menyampaikan keresahan mereka terhadap aktivitas pertambangan batu bara di wilayah mereka, yang diduga menyebabkan polusi debu yang parah dan mulai mengganggu kesehatan serta kenyamanan warga setempat, Minggu 27 Juli 2025.
Dalam salah satu potongan gambar, tampak seorang pria berkaus hijau dan berkacamata, dengan wajah serius menghadap kamera. Ia diduga sebagai salah satu warga yang terdampak langsung oleh aktivitas pertambangan tersebut, yang bernama Yohanes Karwilus sebagai salah satu jurnalis SniperNew.id, Ekspresi wajahnya seakan mencerminkan keresahan yang mendalam.

Pada gambar selanjutnya, terlihat tiga pria sedang berjalan di area pertambangan yang berdebu.
Satu di antaranya mengenakan rompi polisi lalu lintas, sementara yang lain tampak seperti petugas atau warga.
Mereka berjalan di atas jalan tanah yang jelas tidak beraspal, dikelilingi oleh kendaraan operasional tambang. Meskipun ada kehadiran satpam, tak terlihat adanya aksi nyata atau dialog langsung dengan warga dalam potongan gambar tersebut.
Gambar ketiga memperlihatkan suasana pertemuan di dalam ruangan, dengan dua pria berseragam tambang duduk menghadap kamera.
Di atas meja terdapat dua kotak minuman Teh Kotak, menjadi saksi bisu dari pembicaraan serius yang tampaknya sedang berlangsung. Tertulis jelas nama pengirim gambar: Yohanes Karwilus Kabiro Barito Utara yang mengunggah dokumentasi itu pada tanggal 23 Juli pukul 16.08. Di latar belakang terlihat papan tulis yang berisi coretan tentang “Engaged vs Disengaged” serta beberapa daftar tugas teknis.

Video tersebut disinyalir menjadi bagian dari upaya warga dan jurnalis SniperNew.id untuk mendokumentasikan dan menyuarakan keresahan masyarakat atas dampak buruk dari kegiatan pertambangan. Mereka menuntut agar perusahaan tambang batu bara yang beroperasi di kawasan tersebut lebih bertanggung jawab terhadap dampak lingkungan yang ditimbulkan, termasuk pengendalian debu, pelestarian hutan, serta transparansi data kesehatan masyarakat.
“Debunya bikin sesak napas, kami tiap hari harus bersihkan rumah dari pagi sampai malam. Tapi gak ada perubahan,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Sementara itu, pihak perusahaan tambang belum memberikan tanggapan resmi atas keluhan ini. Pemerintah daerah juga masih dinilai lamban dalam mengambil tindakan konkret.
Aksi ini menjadi salah satu dari sekian banyak suara masyarakat pedalaman Kalimantan yang merasa semakin tersingkir oleh industri besar. Pertemuan ini diharapkan tidak hanya menjadi rutinitas seremonial, melainkan mendorong lahirnya solusi nyata bagi masyarakat sekitar tambang.
Editor: (Redaksi).
Foto dan Dokumentasi: Yohanes Karwilus – Kabiro Barito Utara
Tanggal Peliputan: 23 Juli 2025












