Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Pendidikan

Tak Kenal Batas, Guru Seberangi Sungai Demi Pendidikan Bangsa

375
×

Tak Kenal Batas, Guru Seberangi Sungai Demi Pendidikan Bangsa

Sebarkan artikel ini

Snipernew.id – Per­juan­gan seo­rang guru di pelosok negeri kem­bali menyi­ta per­ha­t­ian pub­lik. Sebuah ung­ga­han di media sosial menampilkan momen haru sekali­gus mem­pri­hatinkan, keti­ka seo­rang tena­ga pen­didik harus berjuang menye­bran­gi deras­nya arus sun­gai di ten­gah musim hujan hanya untuk men­ga­jar anak-anak di seko­lah, Selasa (19/08/2025).

Dalam ung­ga­han yang dit­ulis akun sunarti.suu, digam­barkan bagaimana per­juan­gan guru di daer­ah ter­pen­cil ser­ing kali tidak diirin­gi den­gan fasil­i­tas memadai. Mere­ka ker­ap dihadap­kan pada kon­disi sulit, mulai dari medan berba­haya, sarana trans­portasi ter­batas, hing­ga gaji yang jauh dari kata layak. Namun, semua itu tidak menyu­rutkan seman­gat mere­ka untuk tetap hadir di kelas dan mem­bimb­ing gen­erasi muda.

“Per­juan­gan guru untuk men­ga­jar menye­bran­gi sun­gai di wak­tu musim hujan yang begi­ni. Bu menteri yang jadi beban negara tan­pa fasil­i­tas, tan­pa gaji yang wah, ker­ja nya­ta men­didik gen­erasi muda den­gan keadaan ser­ba keku­ran­gan tapi masih dibi­lang beban negara. Pada­hal guru adalah pahlawan tan­pa tan­da jasa. Tan­pa mere­ka, gen­erasi muda kita akan ter­bier tan­pa pen­didikan. Sudah seharus­nya mere­ka men­da­p­atkan gaji yang sesuai den­gan per­juan­gan­nya dalam men­didik anak bangsa,” tulis akun terse­but.

  Makin Turun! Minat Baca, Tulis, dan Kesabaran Siswa Jadi Sorotan

Dalam video yang turut dibagikan, tam­pak seo­rang guru perem­puan diban­tu war­ga sek­i­tar untuk menye­berang sun­gai. Arus air ter­li­hat san­gat deras, mem­per­li­hatkan beta­pa besar risiko yang harus ditang­gung seti­ap kali ia menu­ju seko­lah. Tulisan yang meny­er­tai video itu mene­gaskan suasana emo­sion­al den­gan kali­mat singkat: “Tragis dan Memilukan!”

Kon­disi ini mem­per­li­hatkan keny­ataan pahit di sejum­lah daer­ah Indone­sia. Infra­struk­tur pen­didikan masih jauh dari kata mer­a­ta. Guru-guru di pelosok harus rela mem­per­taruhkan kese­la­matan diri hanya untuk menunaikan tugas mulianya, yakni mencer­daskan kehidu­pan bangsa.

Di satu sisi, pen­didikan meru­pakan hak dasar seti­ap anak bangsa. Namun di sisi lain, tena­ga pen­didik yang men­ja­di ujung tombak dalam mewu­jud­kan cita-cita itu masih banyak yang belum men­da­p­atkan per­ha­t­ian selayaknya dari negara.

Mes­ki ser­ing dise­but seba­gai pahlawan tan­pa tan­da jasa, reali­ta yang dihadapi guru di lapan­gan jauh lebih berat dari­pa­da sekadar slo­gan. Banyak guru hon­or­er dan tena­ga pen­didik di pelosok negeri tetap men­ga­jar den­gan seman­gat ting­gi walau gaji yang diter­i­ma jauh dari cukup untuk memenuhi kebu­tuhan sehari-hari.

Tidak sedik­it pula di antara mere­ka yang rela men­ga­jar tan­pa imbal­an berar­ti, hanya berbekal rasa cin­ta ter­hadap anak-anak dan cita-cita mulia mencer­daskan gen­erasi. Kisah-kisah per­juan­gan itu men­ja­di buk­ti nya­ta bah­wa pengab­di­an seo­rang guru tidak per­nah terukur oleh materi.

Guru seper­ti yang dita­mpilkan dalam ung­ga­han ini adalah con­toh nya­ta keule­tan tan­pa pam­rih. Di ten­gah keter­batasan, ia tetap menguta­makan tang­gung jawab moral­nya untuk mem­berikan pen­didikan. Seper­ti pepatah lama yang menye­butkan: “Seti­tik lilin mam­pu men­eran­gi kege­la­pan.” Seo­rang guru, mes­ki hanya satu, mam­pu men­ja­di cahaya hara­pan bagi banyak anak di sek­i­tarnya.

  Semarak Parade Wisuda ITB: Warna, Sorak, dan Semangat Tanpa Menyerah

Ironi Nasib Guru di Negeri Sendiri

Ironi besar yang ser­ing muncul adalah keti­ka tena­ga pen­didik jus­tru diang­gap seba­gai beban negara. Pada­hal, tan­pa guru, gen­erasi penerus bangsa akan kehi­lan­gan arah. Guru adalah fon­dasi uta­ma yang menanamkan ilmu, karak­ter, ser­ta seman­gat kebangsaan pada anak-anak.

Namun fak­tanya, tidak semua guru men­da­p­atkan per­lakuan yang adil. Banyak di antara mere­ka yang belum diangkat men­ja­di pegawai negeri, gaji hon­or­er yang tak seber­a­pa, hing­ga keter­batasan sarana men­ga­jar yang mem­bu­at per­juan­gan semakin berat.

Ung­ga­han ini seakan men­ja­di pengin­gat bah­wa per­ha­t­ian pemer­in­tah ter­hadap pen­didikan, khusus­nya kese­jahter­aan guru, masih harus terus dit­ingkatkan. Kese­jahter­aan guru bukan hanya soal angka rupi­ah, melainkan juga ben­tuk peng­har­gaan ter­hadap per­juan­gan dan pen­gor­banan mere­ka.

Meli­hat fenom­e­na ini, wajar jika masyarakat berharap adanya peruba­han sig­nifikan dalam sis­tem pen­didikan di Indone­sia. Guru harus ditem­patkan pada posisi yang ter­hor­mat, tidak hanya dalam retori­ka, tetapi juga dalam kebi­jakan nya­ta.

Per­juan­gan guru menye­beran­gi sun­gai deras, men­da­ki buk­it, men­em­puh jalan berlumpur, hing­ga men­ga­jar di seko­lah den­gan fasil­i­tas seadanya adalah kisah yang sudah ser­ing ter­den­gar. Namun, ceri­ta-ceri­ta itu tidak seharus­nya men­ja­di peman­dan­gan biasa. Negara per­lu hadir mem­berikan solusi, baik beru­pa per­baikan infra­struk­tur, trans­portasi yang layak, maupun gaji yang sesuai.

Selain itu, masyarakat pun memi­li­ki per­an pent­ing. Dukun­gan moral dan keber­samaan war­ga dalam mem­ban­tu guru menye­beran­gi sun­gai, seba­gaimana ter­li­hat dalam video, adalah buk­ti nya­ta bah­wa gotong roy­ong masih men­ja­di budaya yang menye­la­matkan. Namun ten­tu saja, hal ini tidak boleh men­ja­di alasan untuk mem­biarkan kon­disi sulit terus berlang­sung tan­pa peruba­han.

  Mahkota Pertama di Hari Pertama: SDN 29 Dadok T. Hitam Bikin Haru Dunia Maya!

Reflek­si untuk Kita Semua

Kisah guru yang rela mem­per­taruhkan kese­la­matan demi men­didik anak-anak di ped­ala­man seharus­nya men­ja­di cer­min bagi kita semua. Apakah kita sudah benar-benar meng­har­gai jasa mere­ka? Apakah kita sudah mem­berikan per­ha­t­ian yang layak ter­hadap per­juan­gan yang mere­ka lakukan?

Di ten­gah arus deras mod­ernisasi, terkadang kisah-kisah seper­ti ini luput dari per­ha­t­ian. Pada­hal, tan­pa pen­gor­banan para guru di pelosok, sulit mem­bayangkan bagaimana masa depan bangsa bisa ter­wu­jud den­gan baik. Pen­didikan bukan hanya soal ban­gu­nan seko­lah megah di kota, tetapi juga soal dedikasi guru di pelosok negeri yang rela berjuang tan­pa pam­rih.

Ung­ga­han men­ge­nai per­juan­gan guru menye­beran­gi sun­gai di musim hujan ini men­ja­di pengin­gat keras bagi pemer­in­tah dan masyarakat. Guru bukan­lah beban negara. Mere­ka adalah aset berhar­ga yang menen­tukan kual­i­tas gen­erasi men­datang.

Sudah saat­nya kita men­em­patkan guru pada posisi ter­hor­mat yang sesung­guh­nya. Bukan hanya den­gan kata-kata man­is, melainkan juga melalui peng­har­gaan nya­ta beru­pa kese­jahter­aan, fasil­i­tas memadai, ser­ta per­ha­t­ian penuh ter­hadap kese­la­matan mere­ka saat men­jalankan tugas.

Pengab­di­an seo­rang guru memang tidak men­ge­nal batas. Mes­ki tan­pa pam­rih, mere­ka tetap layak men­da­p­atkan per­lin­dun­gan dan peng­hor­matan set­ing­gi-tingginya. Sebab dari tan­gan mere­ka, lahir masa depan bangsa.

Edi­tor: (Ahmad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *