Gorontalo, SniperNew.id – Di balik raut tegas dan seragam Brimob yang lekat dengan ketertiban dan ketegasan, tersimpan sisi lain dari seorang anggota Polri yang penuh kepedulian. IPDA Muhammad S. Gani, S.H., M.H., CPPS, seorang perwira yang menjabat sebagai Komandan Tim Unit Sapu Jagad Wanteror Detasemen Gegana Satuan Brimob Polda Gorontalo, menunjukkan bahwa pengabdian terhadap negara tak hanya ditunjukkan lewat senjata dan strategi, tetapi juga lewat empati dan ketulusan hati, Selasa (05/08/25).
Setiap hari, dalam perjalanan menuju markasnya di Brimob Polda Gorontalo, IPDA Gani melintasi sebuah jalan di wilayah Isimu Utara, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo. Di sana, pandangannya kerap tertumbuk pada sekelompok anak-anak yang sedang mengaji di sebuah Mushola kecil dan sangat sederhana. Tidak ada papan nama yang tergantung di depan bangunan itu. Fasilitasnya pun jauh dari kata layak papan tulis tua yang mulai rapuh, kapur yang nyaris habis, serta Al-Qur’an lusuh yang dipeluk erat oleh para santri kecil yang tetap bersemangat menimba ilmu agama.
Pemandangan ini bukan hanya singgah di matanya, tapi juga menetap di hatinya. IPDA Gani, tanpa menunggu arahan atau sorotan, memutuskan untuk bertindak. Ia tidak menggandeng lembaga sosial, tidak pula mempublikasikannya di media sosial. Ia mulai mengumpulkan kayu bekas latihan tembak, ranting dari lokasi latihan, hingga material dari area longsoran. Semua barang tersebut ia kumpulkan sendiri, lalu dijual ke pengepul dan pabrik kapur. Uang hasil penjualan itu ia gunakan untuk membeli Al-Qur’an baru dan perlengkapan mengaji bagi anak-anak di Mushola tersebut.
“Saya hanya ingin mereka bisa belajar dengan layak. Mereka adalah masa depan kita. Jangan sampai semangat mereka padam hanya karena tempat belajar yang memprihatinkan,” ucap IPDA Gani kepada awak media saat ditemui pada Senin, 4 Agustus 2025.
Lebih dari sekadar menyediakan fasilitas belajar, IPDA Gani kini juga tengah merancang pengembangan Mushola tersebut agar menjadi tempat yang lebih representatif untuk kegiatan keagamaan dan pendidikan. Ia tidak hanya fokus pada bangunan, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan guru mengaji yang selama ini menjadi ujung tombak dalam membentuk karakter anak-anak desa tersebut. Guru tersebut hanya menerima bayaran sebesar Rp120 ribu per bulan dan harus menempuh perjalanan sejauh 3 kilometer setiap harinya untuk mengajar.
“Saya akan terus menyisihkan waktu dan tenaga untuk hal ini. Kumpulkan lagi kayu, atau apapun yang bisa dijual. Semoga ke depan saya bisa membantu lebih banyak, termasuk untuk guru ngajinya,” ujarnya dengan penuh harap.
Dedikasi IPDA Gani tidak mengganggu tugas utamanya sebagai anggota Brimob. Ia tetap aktif dalam misi keamanan, pengamanan aksi unjuk rasa, hingga operasi penegakan hukum. Namun di sela semua itu, ia menyediakan waktu untuk menjelma sebagai pengayom masyarakat, tanpa mengumbar cerita pengabdiannya.
Menurutnya, pengabdian kepada negara tidak hanya diukur dari keberhasilan menumpas kejahatan atau menjaga keamanan. “Membangun karakter generasi muda melalui pendidikan agama adalah bentuk lain dari pengabdian. Ini bagian dari tugas kami sebagai pelindung masyarakat,” jelasnya.
Inisiatif pribadi IPDA Gani pun mulai mendapat sambutan hangat dari warga sekitar. Banyak yang mengaku tersentuh dan merasa lebih dekat dengan institusi Polri berkat keteladanan yang ia tunjukkan. Seorang warga bernama H. Ramli, tokoh masyarakat setempat, menyebut IPDA Gani sebagai sosok yang menghadirkan harapan baru.
“Kami sebelumnya tidak menyangka ada anggota Brimob yang peduli seperti ini. Beliau tidak hanya menjaga kami dari ancaman luar, tapi juga ikut memperhatikan masa depan anak-anak kami,” ungkap H. Ramli dengan penuh syukur.
Mushola yang sebelumnya tak memiliki nama dan tak mendapat perhatian, kini perlahan berubah. Bukan menjadi bangunan mewah, tetapi menjadi simbol harapan dan perhatian. Di tengah keterbatasan, Mushola itu bersinar oleh semangat dan kepedulian yang dipancarkan oleh IPDA Gani.
Kisah ini adalah cerminan bahwa aparat negara tidak harus selalu dilihat dalam konteks kekuatan fisik dan keamanan semata. Di balik helm dan rompi anti-peluru, tersimpan hati yang lembut dan jiwa yang tulus. Ketika banyak yang berdebat tentang peran polisi di masyarakat, IPDA Gani memilih menunjukkan jawabannya lewat tindakan nyata yang penuh kepedulian.
Tindakan ini juga membuka perspektif baru bagi masyarakat tentang keberadaan anggota Brimob di tengah mereka. Bahwa sejatinya, aparat keamanan juga bisa menjadi pelita dalam gelap, menjadi sahabat dalam sunyi, dan menjadi jembatan bagi generasi muda untuk meraih masa depan yang lebih cerah.
Dalam dunia yang kerap dipenuhi narasi kekerasan, pengkhianatan, dan ketidakpedulian, kisah IPDA Gani adalah oase yang menyejukkan. Tanpa sorotan kamera, tanpa panggung penghargaan, ia menjalani pengabdiannya sebagai Bhayangkara sejati—tegas dalam tugas, dan tulus dalam membina.
Kini, Mushola itu mulai dikenal warga sebagai tempat yang penuh keberkahan. Anak-anak datang dengan wajah ceria dan semangat yang menyala. Dan meski nama resmi Mushola itu belum ada, warga sudah sepakat menyebutnya sebagai “Mushola Harapan”tempat di mana cahaya iman dinyalakan oleh seorang perwira yang tahu bahwa mengabdi bukan hanya tentang negara, tapi juga tentang manusia.
Editor: (Ahmad)/ Sumber: (Rilis)













