Jakarta, SniperNew.id — Jagat media sosial X (sebelumnya Twitter) tengah diramaikan oleh unggahan dari akun @Ankiim yang memuat kutipan yang diklaim berasal dari pendakwah kontroversial asal India, Dr. Zakir Naik. Dalam unggahan tersebut, disebutkan bahwa Malaysia adalah negara terbaik bagi Muslim, bukan Indonesia.
“Malaysia negara terbaik bagi Muslim, bukan Indonesia. Malaysia adalah salah satu negara yang tidak dikendalikan oleh negara-negara non-Muslim,” demikian bunyi pernyataan yang dikutip akun @Ankiiim pada Minggu (8/6/2025).
Unggahan itu mengklaim berasal dari Dr. Zakir Naik, seorang dai asal India yang dikenal luas karena ceramah-ceramahnya yang membahas perbandingan agama. Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi dari Dr. Zakir Naik sendiri mengenai keaslian kutipan tersebut, baik melalui kanal resmi maupun akun media sosialnya.
Pernyataan tersebut menuai pro dan kontra di kalangan netizen Indonesia. Sebagian pengguna media sosial menilai pernyataan itu menyudutkan Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim. Tak sedikit pula yang merasa tersinggung dengan klaim bahwa Indonesia dikendalikan oleh negara-negara non-Muslim.
Di sisi lain, ada juga warganet yang menyatakan bahwa pernyataan itu cukup relevan dengan kondisi saat ini, terutama jika dikaitkan dengan sikap pemerintah terhadap ulama yang vokal dalam menyampaikan kritik.
Pernyataan tersebut menjadi kontroversi karena menyentuh isu sensitif seputar kebebasan beragama, perlindungan terhadap ulama, dan posisi politik Muslim di Asia Tenggara. Terlebih lagi, Indonesia selama ini dikenal sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, yang kerap membanggakan sistem demokrasi dan toleransi antarumat beragama.
Namun faktanya, sejumlah ulama di Indonesia yang vokal mengkritik kebijakan pemerintah justru mendapat label “radikal” atau bahkan mengalami kriminalisasi. Hal ini memunculkan diskusi publik yang lebih luas soal ruang dakwah, kebebasan berpendapat, dan penanganan radikalisme di Tanah Air.
Unggahan akun X @Ankiiim itu muncul pada hari Minggu, 8 Juni 2025, dan sejak saat itu telah dibagikan ulang ribuan kali. Tidak jelas di mana dan dalam kesempatan apa Dr. Zakir Naik membuat pernyataan tersebut. Tidak ada video atau rekaman yang menyertainya, sehingga keasliannya masih perlu ditelusuri lebih lanjut.
Hingga Senin (9/6/2025), belum ada tanggapan resmi dari pihak Kementerian Agama RI maupun tokoh-tokoh ormas Islam terkait pernyataan tersebut. Beberapa tokoh menyarankan agar publik tidak langsung mempercayai kutipan tanpa sumber yang jelas dan menyerukan agar masyarakat tidak terprovokasi.
Sementara itu, sebagian pengamat menyarankan agar pernyataan semacam ini menjadi refleksi bagi pemerintah Indonesia untuk mengevaluasi pendekatan terhadap para ulama dan penceramah yang menyuarakan kritik sosial.
Kesimpulan:: Pernyataan yang diklaim berasal dari Dr. Zakir Naik kembali mengundang polemik seputar posisi umat Islam di Asia Tenggara, khususnya Indonesia dan Malaysia.
Meski keabsahan kutipan itu belum dapat dipastikan, reaksi publik menunjukkan adanya kegelisahan tersendiri terkait perlakuan terhadap ulama dan kebebasan berpendapat di Indonesia. Pemerintah diminta lebih bijak dalam menanggapi kritik tanpa serta-merta memberi label negatif terhadap ulama yang vokal.
Editor: (abdl)



















