Pati, SniperNew.id – Aksi unjuk rasa yang menamakan diri sebagai “Season 2” kembali mencuat di Kabupaten Pati dengan tuntutan utama agar Bupati Pati segera mengundurkan diri dari jabatannya. Rencana aksi tersebut dijadwalkan berlangsung pada 25 Agustus mendatang. Namun, menjelang aksi ini digelar, salah satu tokoh yang selama ini dikenal sebagai pemimpin utama, Husein, menyatakan mundur dari barisan, Rabu (20/08/2025).
Pernyataan mundur Husein menjadi sorotan publik setelah videonya tersebar di media sosial. Dalam video singkat itu, Husein menyampaikan bahwa dirinya tidak mendapatkan keuntungan apapun dari keterlibatannya dalam aksi tersebut.
“Saya enggak dapat apa-apa ya,” ucap Husein di hadapan kamera.
Pernyataan itu sontak menimbulkan beragam respons dari warganet, terutama di media sosial Threads, tempat kabar ini ramai diperbincangkan. Meskipun demikian, rencana aksi tetap disebut akan berjalan sesuai agenda dengan tuntutan utama mendesak Bupati Pati segera turun dari jabatannya.
Postingan dari akun @folkkonoha yang membagikan kabar ini langsung mendapat perhatian besar, dengan lebih dari 200 ribu tayangan, puluhan komentar, dan reaksi dari warganet.
Salah satu pengguna, dengan nama akun mas_musmas, menekankan bahwa perjuangan aksi tidak perlu menokohkan individu tertentu. Baginya, setiap orang yang berjuang agar Bupati Pati lengser adalah pahlawan.
“Gak perlu menokohkan orang, semua yang berhasil lengserkan Sudewo adalah pahlawan. Demo harus jalan terus, sampai Sudewo-nya bikin video mengundurkan diri. Jangan sampai orang lain yang umumkan, harus Sudewo-nya sendiri,” tulisnya.
Sementara itu, akun zhafhong berpendapat bahwa aksi seharusnya tidak dilakukan dengan jeda. Menurutnya, jika ada waktu kosong, pihak penguasa yang menjadi objek protes akan mencari titik lemah para penggerak aksi.
“Itulah kenapa demo seharusnya tanpa jeda. Karena bakal dipecah dan dicari titik lemahnya. Apalagi yang didemo penguasa. Kalau mau turunin jangan berhenti pake demo susulan. Langsung gas dari awal. Kalau ada jeda waktu pasti pentolan demo bakal dicari kelemahannya,” ungkapnya.
Di sisi lain, akun benirlogika menilai keputusan Husein untuk mundur sebagai bentuk prinsip pribadi. Ia menyinggung bahwa gerakan tersebut sudah ditunggangi kepentingan pihak tertentu, sehingga langkah mundur adalah pilihan yang tepat.
“Betul mas. Sudah ditunggangi, jangan. Mau berapa banyak lagi korbannya. Mantap, cowok punya prinsip,” tulisnya.
Aksi yang disebut sebagai “Season 2” ini bukanlah kali pertama demonstrasi digelar di Kabupaten Pati. Sebelumnya, aksi serupa sempat muncul dengan isu yang sama, yakni menuntut agar Bupati Pati mengundurkan diri. Gelombang protes tersebut lahir dari berbagai kekecewaan masyarakat terhadap kebijakan daerah dan kepemimpinan bupati.
Namun, pernyataan mundurnya Husein dianggap menjadi babak baru dalam dinamika aksi ini. Sebab, Husein selama ini dikenal sebagai salah satu figur sentral yang menggerakkan massa. Sikapnya yang memilih mundur dengan alasan tidak mendapat keuntungan memunculkan pertanyaan di kalangan masyarakat: apakah ada kepentingan lain yang bermain di balik aksi tersebut.
Meski demikian, pihak yang masih bertahan dalam barisan aksi menegaskan bahwa perjuangan akan tetap berlanjut. Mereka tetap berkomitmen turun ke jalan pada tanggal yang sudah ditentukan, dengan tuntutan tegas agar Bupati Pati segera meletakkan jabatannya.
Dari pantauan di media sosial, respons publik tampak terbelah. Sebagian mendukung langkah tegas melanjutkan aksi tanpa bergantung pada figur tertentu. Menurut mereka, yang penting adalah tujuan besar, yaitu perubahan kepemimpinan di Kabupaten Pati.
Sebagian lain justru mengapresiasi keputusan Husein untuk mundur, menganggap bahwa gerakan tersebut sudah kehilangan arah dan sarat kepentingan politik. Ada pula yang menilai bahwa perpecahan dalam barisan aksi adalah hal yang wajar dalam dinamika pergerakan sosial.
“Kalau memang sudah merasa tidak nyaman, mundur adalah hak individu. Yang penting aspirasi masyarakat tetap disuarakan dengan damai dan sesuai aturan,” ujar salah satu komentar netral warganet.
Situasi ini menunjukkan bahwa aksi massa bukan hanya soal kekuatan di lapangan, tetapi juga soal soliditas dan kepercayaan di dalam barisan. Mundurnya tokoh sentral kerap dianggap sebagai kelemahan, namun bisa juga menjadi peluang untuk membuktikan bahwa gerakan tersebut benar-benar digerakkan oleh rakyat, bukan oleh individu tertentu.
Beberapa pihak menilai, jika aksi benar-benar murni memperjuangkan aspirasi masyarakat, maka keberlanjutan gerakan tidak seharusnya bergantung pada satu orang. Namun, jika ada kepentingan di belakang layar, perpecahan seperti ini akan semakin memperlemah gerakan itu sendiri.
Aksi Season 2 di Kabupaten Pati menjadi sorotan karena dinamika internal yang cukup mencolok. Meski salah satu tokoh utamanya, Husein, memilih mundur dengan alasan pribadi, sebagian massa tetap bertekad melanjutkan perjuangan menuntut pengunduran diri Bupati Pati.
Kini, publik menantikan apakah aksi yang dijadwalkan pada 25 Agustus benar-benar akan berlangsung besar-besaran, atau justru meredup akibat perpecahan internal. Yang jelas, peristiwa ini menjadi cerminan bahwa gerakan sosial selalu penuh dinamika, dengan tantangan yang datang bukan hanya dari pihak luar, melainkan juga dari dalam barisan sendiri.
Editor: (Darmawan)













