Berita Daerah

Tanah Tanjung Kemala Kobarkan Semangat Persatuan di HUT RI ke-80

183
×

Tanah Tanjung Kemala Kobarkan Semangat Persatuan di HUT RI ke-80

Sebarkan artikel ini

Pesawaran, SniperNew.id – Suasana khid­mat sekali­gus penuh seman­gat keber­samaan menye­limu­ti Kebun Tan­jung Kemala, Desa Tamansari, Kabu­pat­en Pesawaran, Ming­gu (17/8/2025). Ratu­san masyarakat yang ter­gabung dalam Alian­si Masyarakat Meng­gu­gat dan Paguyuban Tan­jung Kemala mengge­lar Upacara Peringatan Detik-Detik Prokla­masi Kemerdekaan Repub­lik Indone­sia ke-80.

Di ten­gah udara sejuk dan ham­paran tanah per­juan­gan yang masih men­ja­di sim­bol per­lawanan, upacara ber­jalan den­gan penuh mak­na. Saprudin Tan­jung, Ket­ua Alian­si Masyarakat Pesawaran sekali­gus pimp­inan per­juan­gan tanah Tan­jung Kemala, bertin­dak seba­gai inspek­tur upacara. Kehadi­ran­nya mene­gaskan bah­wa peringatan kemerdekaan bukan sekadar ser­e­moni, tetapi juga momen­tum untuk meneguhkan komit­men bersama men­ja­ga hak atas tanah warisan leluhur.

Turut hadir dalam kegiatan ini tokoh masyarakat, per­wak­i­lan adat, para pejuang tanah, ser­ta jajaran wartawan yang ter­gabung dalam Forum Komu­nikasi Wartawan Kabu­pat­en Pesawaran (FKWKP). Salah sat­un­ya adalah Feri Dar­mawan, Ket­ua FKWKP yang sela­ma ini juga ikut men­gaw­al per­juan­gan masyarakat Tan­jung Kemala.

Dalam amanat­nya, Saprudin Tan­jung mene­gaskan bah­wa kemerdekaan Indone­sia yang telah beru­sia dela­pan dekade harus men­ja­di inspi­rasi per­juan­gan raky­at Tan­jung Kemala.

  Silaturahmi Strategis: Dua Pejabat Polri dan Legislator Sambangi Kantor KWRI Pringsewu

“Hari ini kita berdiri di tanah per­juan­gan, Tanah Tan­jung Kemala, pada hari berse­jarah bagi bangsa Indone­sia. Kemerdekaan bukan hanya ser­e­mo­ni­al seti­ap 17 Agus­tus, tetapi kemerdekaan adalah seman­gat untuk terus berjuang mem­per­ta­hankan hak-hak kita,” ujarnya den­gan lan­tang.

Saprudin mengin­gatkan bah­wa per­juan­gan tanah Tan­jung Kemala telah berlang­sung pan­jang, penuh tan­ta­n­gan, bahkan gesekan inter­nal. Namun, seman­gat per­sat­u­an men­ja­di kun­ci untuk berta­han.

“Tujuan kita jelas: tanah ini harus kem­bali sepenuh­nya kepa­da kita hing­ga benar-benar sah men­ja­di Ser­ti­fikat Hak Milik. Jan­gan sam­pai kita goy­ah hanya kare­na masalah kecil, mis­al­nya soal gara­pan atau kepentin­gan sesaat. Semua bisa dis­e­le­saikan den­gan musyawarah. Per­sat­u­an adalah keku­atan kita,” tegas­nya.

Saprudin juga menekankan bah­wa per­juan­gan ini bukan sekadar untuk gen­erasi sekarang, melainkan warisan pent­ing bagi anak cucu di masa depan. “Kemerdekaan Indone­sia bisa diraih kare­na per­sat­u­an. Begi­tu pula den­gan per­juan­gan Tanah Tan­jung Kemala, hanya akan berhasil jika kita rap­atkan barisan dan tidak mudah diadu dom­ba,” katanya.

Sena­da den­gan Saprudin, Feri Dar­mawan juga menyam­paikan pesan tajam kepa­da para peser­ta upacara. Ia mengin­gatkan agar selu­ruh pejuang tanah tidak ada yang merasa pal­ing ber­jasa.

“Per­juan­gan di depan tak ada artinya tan­pa dukun­gan di belakang, begi­tu pula seba­liknya. Gotong roy­ong adalah kun­ci. Kita sudah bera­da di pun­cak per­juan­gan, jan­gan biarkan sia­pa pun memec­ah belah kita,” ucap Feri di hada­pan peser­ta.

  BRI Cabang Balige Gelar Gathering Agen BriLink, Perkuat Kerjasama dalam Pelayanan

Feri bahkan mene­gaskan bah­wa dalam seti­ap per­juan­gan, selalu ada oknum yang men­co­ba mengkhi­a­nati atau men­gadu dom­ba. Namun, menu­rut­nya, mere­ka tidak memi­li­ki tem­pat dalam per­juan­gan ini. “Tem­pat­nya hanya di bawah kaki kita,” ujarnya den­gan nada tegas.

Pesan terse­but dis­am­but tepuk tan­gan dan sorakan seman­gat dari peser­ta upacara, menan­dakan bah­wa keber­samaan mere­ka masih kokoh.

Upacara peringatan HUT RI ke-80 di Tan­jung Kemala kali ini bukan hanya seba­gai peringatan nasion­al­isme, tetapi juga men­ja­di sim­bol per­lawanan raky­at dalam mem­per­juangkan hak atas tanah yang hing­ga kini belum sepenuh­nya diakui seba­gai milik sah masyarakat.

Bagi masyarakat Tan­jung Kemala, men­gibarkan ben­dera mer­ah putih di tanah per­juan­gan men­ja­di cara mengin­gatkan bah­wa kemerdekaan harus diwu­jud­kan dalam ben­tuk kead­i­lan dan pen­gakuan hak.

“Seti­ap 17 Agus­tus, kami tidak hanya mem­peringati kemerdekaan bangsa, tetapi juga mem­perte­gas komit­men bah­wa per­juan­gan tanah ini akan terus ber­jalan sam­pai titik akhir. Hanya den­gan per­sat­u­an kita bisa meme­nangkan per­lawanan,” tutur salah satu tokoh masyarakat adat usai upacara.

Tidak berhen­ti pada upacara, rangka­ian kegiatan peringatan HUT RI ke-80 di Tan­jung Kemala juga diisi den­gan berba­gai acara keber­samaan. Di antaranya jalan sehat, per­tun­jukan seni tra­di­sion­al kuda kepang, hing­ga hibu­ran raky­at.

Acara ini men­da­p­at sambu­tan antu­sias dari war­ga sek­i­tar. Anak-anak, pemu­da, hing­ga orang tua turut larut dalam keme­ri­ahan. Jalan sehat men­ja­di sim­bol sehat­nya seman­gat gotong roy­ong, semen­tara kuda kepang mengin­gatkan pada kekayaan budaya yang terus hidup di ten­gah masyarakat.

  HAMMER Tebar Berkah di Margakaya

Hibu­ran raky­at juga men­ja­di ruang untuk melepas penat di ten­gah pan­jangnya per­juan­gan yang dijalani masyarakat Tan­jung Kemala.

Bagi Alian­si Masyarakat Meng­gu­gat dan Paguyuban Tan­jung Kemala, peringatan HUT RI ke-80 tahun ini bukan sekadar sel­e­brasi, melainkan momen­tum kon­sol­i­dasi per­juan­gan. Den­gan meli­batkan semua ele­men masyarakat, kegiatan ini mem­perte­gas pesan bah­wa per­juan­gan tanah tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, melainkan harus den­gan keku­atan kolek­tif.

Sejum­lah tokoh lokal meni­lai bah­wa per­ayaan kali ini bisa men­ja­di con­toh bagaimana peringatan kemerdekaan mam­pu meng­hadirkan nilai strate­gis. Tidak hanya bernu­ansa nasion­al­isme, tetapi juga men­ja­di sarana mem­perku­at kesadaran hukum, budaya, dan sosial masyarakat.

Mes­ki upacara ber­jalan meri­ah dan penuh seman­gat, masyarakat Tan­jung Kemala menyadari bah­wa jalan pan­jang masih ter­ben­tang di depan. Pen­gakuan hak atas tanah beru­pa Ser­ti­fikat Hak Milik masih men­ja­di tujuan akhir.

“Upacara ini men­ja­di pengin­gat bah­wa per­juan­gan belum sele­sai. Kita harus terus rap­atkan barisan, jan­gan lengah. Ini­lah pesan kemerdekaan sejati,” ungkap salah seo­rang tokoh pemu­da setem­pat.

Den­gan demikian, upacara HUT RI ke-80 di Kebun Tan­jung Kemala bukan hanya men­ge­nang jasa pahlawan bangsa, tetapi juga mene­gaskan bah­wa per­juan­gan masyarakat belum berakhir. Sela­ma per­sat­u­an dija­ga, seman­gat nasion­al­isme diyaki­ni akan men­ja­di ener­gi besar untuk meme­nangkan hak raky­at atas tanah mere­ka.

Penulis: (Sufiyawan).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *