Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Hukum

Bayang-Bayang “Mafia Kuota Sapi” di NTT: Peternak Lokal Terdesak Sistem Tertutup

130
×

Bayang-Bayang “Mafia Kuota Sapi” di NTT: Peternak Lokal Terdesak Sistem Tertutup

Sebarkan artikel ini

Nusa Teng­gara Timur (NTT) . Sniper new. Id

kem­bali dihadap­kan pada per­soalan serius dalam tata nia­ga ter­nak sapi.

Sejum­lah temuan di lapan­gan dan lapo­ran berba­gai pihak mengindikasikan adanya prak­tik tidak sehat yang men­garah pada monop­o­li dis­tribusi kuo­ta pen­gi­r­i­man sapi antar­daer­ah. Dugaan ini memu­nculkan kekhawati­ran akan adanya per­mainan ter­struk­tur yang merugikan peter­nak lokal.

Di beber­a­pa wilayah, ter­ma­suk Kabu­pat­en Tim­or Ten­gah Utara (TTU) dan Tim­or Ten­gah Sela­tan (TTS), dis­tribusi kuo­ta pen­gi­r­i­man ter­nak dise­but-sebut tidak ber­jalan secara ter­bu­ka. Sejum­lah pelaku usa­ha lokal men­gaku kesuli­tan men­gak­ses izin pen­gi­r­i­man, semen­tara pihak ter­ten­tu jus­tru diduga men­gua­sai seba­gian besar alokasi kuo­ta.

  Kuasa Hukum PT. AMJ Klarifikasi Pemberitaan Online Posmetro Medan

“Peter­nak kecil ser­ing tidak pun­ya pil­i­han. Kami ter­pak­sa men­jual den­gan har­ga ren­dah kare­na akses pasar dibatasi,” ujar seo­rang peter­nak yang eng­gan dise­butkan namanya.

Kon­disi ini men­garah pada dugaan adanya prak­tik monop­o­li oleh kelom­pok ter­ten­tu, yang dalam beber­a­pa lapo­ran dise­but berasal dari luar daer­ah. Mere­ka diduga memi­li­ki kendali sig­nifikan ter­hadap dis­tribusi ter­nak, mulai dari per­iz­inan hing­ga penen­tu­an har­ga jual di tingkat peter­nak.

Selain itu, muncul pula indikasi adanya kedekatan antara pelaku usa­ha ter­ten­tu den­gan pihak-pihak berwe­nang. Dugaan ini belum dap­at dibuk­tikan secara hukum, namun sejum­lah pihak meni­lai adanya relasi terse­but berpoten­si men­cip­takan ketim­pan­gan dalam akses usa­ha.

Situ­asi ini dini­lai mem­persem­pit ruang kom­petisi dan menut­up pelu­ang pelaku usa­ha lain untuk ter­li­bat secara adil.

  Tokoh Adat 13 Kabupaten Tolak Mediasi, Desak Proses Hukum atas Ucapan Kaban Kesbangpol Mesuji

Pen­guasaan kuo­ta pen­gi­r­i­man men­ja­di titik kru­sial dalam per­soalan ini. Dalam mekanisme yang ide­al, dis­tribusi kuo­ta seharus­nya dilakukan secara transparan dan pro­por­sion­al. Namun, sejum­lah temuan menun­jukkan adanya ham­bat­an admin­is­tratif yang tidak mer­a­ta.

Peter­nak dan peda­gang inde­pen­den men­gaku ker­ap men­gala­mi kesuli­tan saat men­gu­rus izin, semen­tara pihak ter­ten­tu relatif lebih mudah mem­per­oleh akses.

Dampaknya terasa lang­sung pada har­ga jual di tingkat peter­nak. Dalam beber­a­pa kasus, har­ga sapi ditekan jauh di bawah nilai pasar. Peter­nak yang tidak memi­li­ki akses dis­tribusi alter­natif ter­pak­sa mener­i­ma kon­disi terse­but demi menghin­dari keru­gian lebih besar.

Isu ini bukan per­ta­ma kali men­cu­at. Dalam beber­a­pa tahun ter­akhir, tata nia­ga sapi di NTT telah men­ja­di per­ha­t­ian berba­gai pihak, ter­ma­suk lem­ba­ga pene­gak hukum.

Upaya penye­lidikan per­nah dilakukan untuk menelusuri dugaan prak­tik kar­tel dalam dis­tribusi ter­nak, meskipun hasil­nya belum sepenuh­nya terungkap ke pub­lik.

  Program 100 Hari Kerja Presiden Prabowo Keberhasilan Penegakan Hukum di Ketapang

Ter­baru, Komisi II DPRD Kabu­pat­en Tim­or Ten­gah Sela­tan men­gungkap adanya indikasi masalah sis­temik dalam pen­gelo­laan kuo­ta sapi.

Hasil temuan mere­ka menun­jukkan per­lun­ya eval­u­asi menyelu­ruh ter­hadap mekanisme dis­tribusi yang berlaku saat ini.

Sejum­lah penga­mat ekono­mi daer­ah meni­lai bah­wa per­soalan ini tidak hanya berdampak pada peter­nak, tetapi juga berpoten­si meng­gang­gu sta­bil­i­tas ekono­mi lokal. Sek­tor peter­nakan meru­pakan salah satu tulang pung­gung perekono­mi­an di NTT, sehing­ga prak­tik yang meng­ham­bat dis­tribusi dap­at berdampak luas.

Pemer­in­tah daer­ah dan otori­tas terkait dihara­p­kan segera melakukan penelusuran menyelu­ruh dan memas­tikan transparan­si dalam sis­tem dis­tribusi kuo­ta.

Pene­gakan atu­ran yang adil dini­lai men­ja­di kun­ci untuk mengem­ba­likan keper­cayaan pelaku usa­ha ser­ta melin­dun­gi peter­nak lokal.

Tan­pa langkah konkret, dugaan prak­tik monop­o­li ini berisiko terus beru­lang dan semakin mem­perdalam ketim­pan­gan di sek­tor peter­nakan NTT.

Red./sepri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *