Berita Ekonomi

Masjid di Sleman Borong 5 Ton Semangka untuk Bantu Petani Purworejo

434
×

Masjid di Sleman Borong 5 Ton Semangka untuk Bantu Petani Purworejo

Sebarkan artikel ini

Sleman, SniperNew.id – Masjid Nurul Ashri yang berlokasi di Deresan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, kembali menunjukkan kepedulian sosialnya terhadap masyarakat. Kali ini, aksi nyata dilakukan dengan memborong lebih dari 5 ton semangka dari para petani Desa Bubutan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, Sabtu (27/09).

Langkah ini tidak hanya menjadi wujud solidaritas antarumat, tetapi juga memberikan angin segar bagi petani yang sedang mengalami kesulitan pemasaran akibat rendahnya harga semangka di tingkat tengkulak.

Kisah ini berawal dari keluhan petani semangka di Purworejo yang sulit memasarkan hasil panen dengan harga layak. Tengkulak hanya berani membeli semangka di kisaran Rp1.500 hingga Rp2.000 per kilogram. Harga itu dianggap jauh dari pantas karena tidak menutup biaya produksi, mulai dari pengolahan lahan, pembelian bibit, pupuk, hingga tenaga kerja.

Situasi tersebut membuat petani berada di posisi sulit. Mereka khawatir buah hasil panen yang melimpah akan membusuk tanpa sempat terjual dengan nilai wajar. Di tengah kegelisahan itu, Masjid Nurul Ashri hadir membawa solusi.

Pengurus Masjid Nurul Ashri berinisiatif membeli langsung hasil panen petani. Mereka memborong semangka dengan harga Rp3.750 per kilogram. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding tawaran tengkulak.

Menariknya, pengurus masjid sebenarnya berniat membeli semangka dengan harga Rp4.000 per kilogram. Namun, para petani menolak harga tersebut. Mereka justru meminta Rp3.750 per kilogram karena menurut mereka nominal tersebut sudah sangat membantu. Sikap jujur para petani inilah yang menjadi sorotan sekaligus inspirasi.

  Dari Foto ke Dollar: Perjuangan Konten Kreator Berbuah Gaji di Facebook, Warganet Tersentuh Semangatnya!

Menurut informasi dari akun resmi yang membagikan cerita ini, seluruh pembelian dilakukan secara langsung dari petani Desa Bubutan, Purworejo. Proses serah terima semangka disaksikan oleh pengurus masjid, relawan, serta para petani.

Dalam aksi ini, Masjid Nurul Ashri memborong lebih dari 5 ton semangka. Jumlah tersebut kemudian didistribusikan kembali untuk berbagai kebutuhan, baik konsumsi jamaah, kegiatan sosial, maupun dibagikan kepada masyarakat luas.

Pembelian besar-besaran tersebut bukan hanya soal membantu penyerapan hasil panen, tetapi juga pesan moral bahwa lembaga keagamaan dapat mengambil peran nyata dalam mengatasi persoalan ekonomi masyarakat.

Lokasi petani penerima manfaat adalah Desa Bubutan, Purworejo. Desa ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi semangka. Namun, ketika harga jatuh, banyak petani kesulitan menjual hasil panen.

Sementara itu, Masjid Nurul Ashri yang menjadi motor gerakan sosial ini berada di Deresan, Sleman. Masjid ini dikenal aktif menjalankan program sosial yang tidak terbatas pada kegiatan ibadah, tetapi juga menyentuh isu-isu kemanusiaan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.

Aksi pembelian semangka ini dilakukan dalam pekan terakhir September 2025. Informasi tersebut dibagikan ke publik melalui akun media sosial dan langsung mendapat tanggapan positif dari warganet. Dalam hitungan jam, unggahan tentang aksi ini sudah disaksikan ratusan orang.

Ada beberapa alasan mengapa aksi Masjid Nurul Ashri dianggap penting dan layak dicatat:

1. Menghargai Jerih Payah Petani
Dengan membeli semangka di atas harga tengkulak, masjid menunjukkan bahwa hasil kerja keras petani patut dihargai secara layak.

  Modus Batang Dulu, Duit Nanti - "Pedagang Kena PHP Pembeli Siluman"

2. Mencegah Kerugian Lebih Besar
Harga rendah di tengkulak berpotensi membuat petani rugi. Dengan aksi borong, kerugian itu bisa ditekan, bahkan memberikan sedikit keuntungan.

3. Membangun Solidaritas Sosial
Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat solidaritas. Tindakan ini membuktikan bahwa lembaga keagamaan dapat menjadi mitra strategis masyarakat kecil.

4. Memberi Contoh Transparansi
Menariknya, meski ditawari harga lebih tinggi, petani tetap meminta harga lebih rendah yang menurut mereka sudah cukup. Hal ini menunjukkan kejujuran dan etika yang patut diteladani.

5. Menginspirasi Aksi Serupa
Tindakan ini bisa menjadi inspirasi bagi masjid, lembaga sosial, maupun komunitas lain untuk terlibat aktif membantu petani atau kelompok masyarakat yang sedang kesulitan.

Proses aksi sosial ini berjalan sederhana namun penuh makna. Petani mengumpulkan hasil panen semangka di lahan mereka. Pengurus Masjid Nurul Ashri kemudian datang dan melakukan pembelian langsung.

Semangka ditimbang, dihitung sesuai harga yang disepakati, lalu transaksi dilakukan secara tunai. Setelah itu, semangka diangkut dan sebagian besar didistribusikan kembali untuk kepentingan sosial.

Dokumentasi foto menunjukkan petani tengah menata semangka hasil panen di sawah dengan bantuan motor sebagai alat angkut sederhana. Gambar itu memperlihatkan betapa beratnya perjuangan petani kecil untuk bisa bertahan hidup.

Aksi ini menuai banyak apresiasi. Di media sosial, warganet memuji langkah Masjid Nurul Ashri yang dinilai tepat sasaran. Banyak yang berharap aksi serupa dapat ditiru oleh masjid lain, lembaga sosial, atau bahkan pemerintah daerah.

Sebagian warganet juga menyoroti sikap jujur petani yang tidak mau mengambil keuntungan lebih dari harga yang sebenarnya sudah membantu. Sikap ini dianggap cerminan moral yang masih terjaga di pedesaan.

  Kadin–BPS Pesawaran Sepakat Perkuat Sinergi Data untuk Dorong Ekonomi 2026

Jika ditilik lebih jauh, aksi ini memiliki dampak sosial yang cukup luas: Ekonomi Lokal Terselamatkan: Dengan harga Rp3.750/kg untuk 5 ton semangka, berarti ada lebih dari Rp18 juta uang yang langsung masuk ke tangan petani. Dana ini tentu sangat berarti bagi mereka.

Mengurangi Ketergantungan pada Tengkulak: Petani jadi punya alternatif pasar selain tengkulak.

Penguatan Fungsi Masjid: Masyarakat melihat masjid tidak hanya sebagai pusat ibadah, melainkan pusat solusi sosial-ekonomi.

Inspirasi Gerakan Kolektif: Aksi ini bisa menginspirasi banyak pihak untuk ikut berkontribusi dengan cara serupa.

Meski aksi ini menuai banyak pujian, tetap penting untuk mengingatkan bahwa masalah harga produk pertanian adalah persoalan struktural yang butuh perhatian pemerintah. Inisiatif sosial seperti ini memang membantu, tetapi tidak bisa menjadi solusi jangka panjang.

Harga produk pertanian yang jatuh setiap musim panen harus ditangani dengan kebijakan lebih sistematis, mulai dari penguatan koperasi petani, penyediaan pasar alternatif, hingga perlindungan harga dasar.

Kisah Masjid Nurul Ashri memborong 5 ton semangka dari petani Purworejo adalah potret sederhana tentang bagaimana solidaritas bisa menjadi penolong di saat sulit.

Dari aksi ini, masyarakat belajar bahwa kepedulian tidak harus menunggu kaya, dan bantuan tidak selalu berupa sumbangan. Membeli dengan harga layak pun bisa menjadi amal sekaligus penyelamat kehidupan banyak orang.

Masjid Nurul Ashri sekali lagi menunjukkan bahwa keberadaan masjid bisa memberi manfaat nyata, bukan hanya bagi jamaah, tetapi juga bagi masyarakat luas. (Ahm/abd).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *