Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Daerah

Polisi Bagikan Nasi Tumpeng Saat Aksi Petani di Hari Tani Nasional

218
×

Polisi Bagikan Nasi Tumpeng Saat Aksi Petani di Hari Tani Nasional

Sebarkan artikel ini

Jakar­ta, SniperNew.id — Peringatan Hari Tani Nasion­al tahun ini diwar­nai den­gan aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh ratu­san petani dari berba­gai daer­ah di Indone­sia. Mere­ka berkumpul di Jalan Medan Merde­ka Sela­tan, Jakar­ta Pusat, pada Selasa (24/9), untuk menyuarakan aspi­rasi terkait kon­flik agraria, per­lin­dun­gan ter­hadap petani, dan penghent­ian kek­erasan yang masih ker­ap diala­mi kelom­pok tani di berba­gai wilayah.

Namun ada peman­dan­gan berbe­da yang menyi­ta per­ha­t­ian pub­lik. Di ten­gah aksi yang biasanya penuh kete­gan­gan, aparat kepolisian ter­li­hat mem­berikan nasi tumpeng kepa­da para petani. Peri­s­ti­wa ini men­ja­di sim­bol kepedu­lian sekali­gus ben­tuk peng­hor­matan kepa­da petani yang berjuang untuk mem­per­ta­hankan hak-hak mere­ka.

Dalam momen­tum Hari Tani Nasion­al, para petani yang hadir mem­bawa berba­gai span­duk, poster, dan atribut per­tan­ian seba­gai sim­bol per­juan­gan mere­ka. Mere­ka menun­tut pemer­in­tah untuk lebih serius dalam menan­gani kon­flik agraria, mem­per­cepat refor­ma agraria sejati, ser­ta menghen­tikan krim­i­nal­isasi ter­hadap petani yang mem­per­juangkan lahan gara­pan.

Aksi ini awal­nya berlang­sung den­gan pen­gawalan ketat dari aparat kepolisian. Namun, situ­asi men­ja­di lebih cair keti­ka pihak kepolisian mem­berikan nasi tumpeng kepa­da mas­sa aksi. Nasi tumpeng yang biasanya hadir dalam per­ayaan atau peringatan ter­ten­tu diang­gap men­ja­di tan­da peng­hor­matan dan hara­pan agar tun­tu­tan petani dap­at diden­gar secara damai.

  Viral! Kepala Daerah Semprot Pegawai Puskesmas Gunungkidul, Tegas Minta Disiplin Ditingkatkan

Peser­ta aksi berasal dari berba­gai daer­ah. Mere­ka hadir untuk mem­peringati Hari Tani Nasion­al sekali­gus menyam­paikan aspi­rasi terkait kese­jahter­aan, kead­i­lan agraria, ser­ta per­lin­dun­gan hukum.

Polisi yang bertu­gas menga­mankan jalan­nya aksi bukan hanya men­gaw­al, tetapi juga melakukan pen­dekatan per­suasif. Den­gan mem­berikan nasi tumpeng, polisi berusa­ha menun­jukkan empati dan men­cairkan suasana.

Kehadi­ran media, ter­ma­suk Metro TV yang mela­porkan lang­sung, mem­bu­at momen ini viral di media sosial. Pub­lik pun menaruh per­ha­t­ian kare­na peri­s­ti­wa terse­but dini­lai jarang ter­ja­di dalam kon­teks aksi unjuk rasa.

Lokasi: Jalan Medan Merde­ka Sela­tan, Jakar­ta Pusat, Tang­gal 24 Sep­tem­ber diperingati seti­ap tahun seba­gai Hari Tani Nasion­al, meru­juk pada pene­ta­pan Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) tahun 1960. Momen ini selalu men­ja­di titik pent­ing bagi kelom­pok tani untuk mene­gaskan kem­bali per­juan­gan mere­ka ter­hadap hak atas tanah dan kese­jahter­aan.

Nasi tumpeng memi­li­ki mak­na sim­bo­lis dalam budaya Indone­sia. Biasanya dis­ajikan dalam per­ayaan, syuku­ran, atau momen­tum pent­ing. Kehadi­ran nasi tumpeng di ten­gah aksi unjuk rasa men­ja­di hal yang tidak biasa.

Menu­rut aparat kepolisian, pem­ber­ian nasi tumpeng dimak­sud­kan seba­gai sim­bol kepedu­lian, rasa hor­mat, ser­ta ben­tuk komu­nikasi non-ver­bal yang menekankan bah­wa penyam­pa­ian aspi­rasi sebaiknya berlang­sung damai. Den­gan demikian, kehadi­ran polisi bukan sema­ta-mata seba­gai pen­gaw­al ketert­iban, melainkan juga seba­gai mitra masyarakat.

Bagi para petani, nasi tumpeng yang diberikan memi­li­ki mak­na men­dalam. Selain seba­gai sim­bol peng­hor­matan, mere­ka men­gang­gap hal itu seba­gai tan­da bah­wa per­juan­gan petani diakui dan diapre­si­asi.

  Siring Betik Dipantau, Warga Waspadai Derasnya Arus Sungai

Aksi unjuk rasa dim­u­lai sejak pagi hari. Ratu­san petani datang den­gan mem­bawa alat per­tan­ian seper­ti cap­ing (topi khas petani), rep­li­ka cangkul, ser­ta span­duk berisi tun­tu­tan. Mere­ka berorasi di depan kan­tor pemer­in­ta­han, menyam­paikan keluhan dan desakan agar kon­flik agraria segera dis­e­le­saikan.

 

Beber­a­pa poin pent­ing yang dis­uarakan antara lain:

1. Pemer­in­tah dim­inta mem­per­cepat refor­ma agraria sejati, bukan sekadar dis­tribusi ser­ti­fikat tanah.

2. Menye­le­saikan kon­flik lahan yang meli­batkan perusa­haan besar den­gan masyarakat petani.

3. Menghen­tikan krim­i­nal­isasi dan kek­erasan ter­hadap petani.

4. Mem­berikan per­lin­dun­gan har­ga dan akses ter­hadap pupuk ser­ta sarana pro­duk­si per­tan­ian.

Suasana aksi ber­jalan tert­ib. Keti­ka aparat kepolisian hadir den­gan mem­bawa tumpeng, mas­sa aksi menyam­but den­gan tepuk tan­gan. Beber­a­pa per­wak­i­lan petani mener­i­ma tumpeng terse­but seba­gai tan­da per­sa­ha­batan dan hara­pan baru.

Beber­a­pa per­wak­i­lan petani meny­atakan bah­wa mere­ka meng­har­gai langkah polisi yang mau menun­jukkan empati. Namun mere­ka menekankan bah­wa sim­bolisasi harus diiku­ti den­gan aksi nya­ta, yakni keber­pi­hakan negara dalam penye­le­sa­ian kon­flik agraria.

Polisi mene­gaskan bah­wa mere­ka hadir bukan untuk meng­ha­lan­gi aspi­rasi, melainkan memas­tikan jalan­nya aksi berlang­sung aman. Pem­ber­ian tumpeng dise­but seba­gai ben­tuk peng­har­gaan kepa­da petani yang diang­gap pahlawan pan­gan bangsa.

Media sosial ramai mem­bicarakan peri­s­ti­wa ini. Banyak yang men­gapre­si­asi pen­dekatan huma­n­is aparat, mes­ki ada pula yang meni­lai bah­wa langkah terse­but jan­gan berhen­ti pada sim­bo­lis sema­ta.

Hari Tani Nasion­al diperingati seti­ap 24 Sep­tem­ber sejak dite­tap­kan­nya UUPA 1960. Undang-undang ini men­ja­di tong­gak sejarah per­juan­gan petani Indone­sia dalam mem­per­oleh hak atas tanah dan men­jamin pemer­ataan agraria.

  Arini Ruth Yuni br Siringoringo pegawai KPP Pratama Cilandak Jakarta Selatan benar DPO Polrestabes Medan .

Mes­ki sudah lebih dari enam dekade, per­soalan agraria di Indone­sia masih kom­pleks. Data dari berba­gai lem­ba­ga menye­butkan masih banyak kon­flik tanah antara masyarakat den­gan perusa­haan besar, maupun den­gan pemer­in­tah sendiri. Kon­disi ini mem­bu­at Hari Tani Nasion­al tidak hanya men­ja­di per­ayaan, tetapi juga momen­tum kon­sol­i­dasi per­juan­gan.

Pem­ber­ian nasi tumpeng oleh polisi di ten­gah aksi unjuk rasa memi­li­ki arti sim­bo­lis yang kuat. Hal ini mencer­minkan keing­i­nan untuk mem­ban­gun hubun­gan har­mo­nis antara aparat kea­manan dan masyarakat.

Namun, sim­bol tidak cukup tan­pa langkah konkret. Para petani tetap menung­gu real­isasi dari tun­tu­tan mere­ka, ter­ma­suk penye­le­sa­ian kon­flik agraria, pem­ber­ian akses lahan, dan penghent­ian tin­dakan repre­sif.

Den­gan demikian, peri­s­ti­wa ini men­ja­di pengin­gat bah­wa har­moni antara raky­at dan aparat harus ditopang oleh kebi­jakan nya­ta yang berpi­hak pada petani.

Aksi unjuk rasa mem­peringati Hari Tani Nasion­al di Jakar­ta tahun ini mening­galkan kesan berbe­da. Pem­ber­ian nasi tumpeng oleh kepolisian menandai adanya upaya pen­dekatan per­suasif dalam men­gaw­al aspi­rasi raky­at.

Mes­ki begi­tu, per­juan­gan para petani belum sele­sai. Mere­ka masih menung­gu jan­ji pemer­in­tah untuk menye­le­saikan kon­flik agraria, menghen­tikan krim­i­nal­isasi, ser­ta mem­berikan per­lin­dun­gan yang nya­ta.

Hari Tani Nasion­al 2025 pun tidak hanya men­ja­di ajang sim­bo­lik, tetapi juga momen­tum reflek­si ten­tang sejauh mana negara hadir untuk petani seba­gai penopang keta­hanan pan­gan bangsa. (abd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *