Berita Daerah

Tradisi Matoa’jang Mappadendang Kembali Digelar, Jadi Warisan Budaya Nasional

437
×

Tradisi Matoa’jang Mappadendang Kembali Digelar, Jadi Warisan Budaya Nasional

Sebarkan artikel ini

Sulawe­si Sela­tan, SniperNew.id  – Tra­disi adat Matoa’jang Map­paden­dang kem­bali dige­lar di Desa Pacekke, Kabu­pat­en Bar­ru, Sulawe­si Sela­tan, Rabu (10/9/2025). Acara adat ini meru­pakan bagian dari rangka­ian kegiatan budaya yang sudah berlang­sung turun-temu­run dan dilak­sanakan seti­ap tiga tahun sekali.

Dalam per­he­la­tan kali ini, Camat Sop­peng Ria­ja Hiday­atud­din, S.IP., M.H, bersama staf ikut men­dampin­gi Bupati Bar­ru dan Wak­il Bupati Bar­ru meng­hadiri acara terse­but. Kehadi­ran para peja­bat daer­ah men­ja­di ben­tuk dukun­gan ter­hadap pelestar­i­an budaya lokal yang telah diakui seba­gai warisan budaya tak ben­da Indone­sia oleh Kementer­ian Pen­didikan, Kebu­dayaan, Riset, dan Teknolo­gi pada tahun 2023.

Matoa’jang Map­paden­dang meru­pakan pros­esi adat yang sarat nilai keber­samaan dan rasa syukur masyarakat. Kegiatan ini diawali den­gan rit­u­al adat, dilan­jutkan den­gan tar­i­an dan musik tra­di­sion­al yang menggam­barkan kehidu­pan petani, ser­ta sim­bol rasa syukur atas hasil panen.

Masyarakat Desa Pacekke bersama para tokoh adat, tokoh aga­ma, pemu­da, hing­ga pemer­in­tah setem­pat ter­li­bat lang­sung dalam pelak­sanaan acara ini. Di area acara ter­li­hat pang­gung tra­di­sion­al dihias den­gan orna­men khas Bugis, lam­pu pen­eran­gan dipasang di berba­gai sudut lapan­gan, dan war­ga berkumpul men­ge­nakan paka­ian adat.

  Sekdis dinas pendidikan Langkat Di Bully Karena Jalankan Perintah Bupati Langkat

Pada pun­cak acara, dilakukan pros­esi Matoa’jang – yakni pen­gayu­nan ben­da sim­bo­lik yang diikat pada tiang besar seba­gai lam­bang kese­im­ban­gan hidup. Dis­usul den­gan Map­paden­dang, yaitu rit­u­al menum­buk padi secara bersama-sama meng­gu­nakan alu dan lesung kayu, diirin­gi musik dan nyanyian khas masyarakat setem­pat. Suasana penuh seman­gat dan keber­samaan terasa sep­a­n­jang acara.

Camat Sop­peng Ria­ja Hiday­atud­din dalam sambu­tan­nya menyam­paikan apre­si­asi kepa­da selu­ruh pani­tia dan masyarakat Desa Pacekke yang berhasil men­ja­ga dan melestarikan tra­disi ini.

“Kegiatan seper­ti ini bukan hanya men­ja­ga warisan leluhur, tetapi juga mem­per­erat tali silat­u­rah­mi dan per­sat­u­an masyarakat. Kita patut berbang­ga kare­na sejak 2023 Matoa’jang Pacekke telah dite­tap­kan seba­gai warisan budaya tak ben­da Indone­sia oleh Kemendik­bu­dris­tek,” ujarnya.

Bupati Bar­ru juga menyam­paikan pent­ingnya regen­erasi dalam pelestar­i­an budaya. Menu­rut­nya, keter­li­batan gen­erasi muda men­ja­di kun­ci agar tra­disi ini tidak hilang dite­lan zaman. Pemer­in­tah daer­ah berkomit­men men­dukung penuh pelak­sanaan acara ini den­gan mem­fasil­i­tasi anggaran, logis­tik, dan pro­mosi agar men­ja­di daya tarik wisa­ta budaya.

Pene­ta­pan Matoa’jang Pacekke seba­gai Warisan Budaya Tak Ben­da (WBTB) oleh Kementer­ian Pen­didikan, Kebu­dayaan, Riset, dan Teknolo­gi pada 2023 men­ja­di tong­gak pent­ing bagi masyarakat Bar­ru. Pen­gakuan ini berar­ti tra­disi terse­but diakui secara nasion­al memi­li­ki nilai sejarah, budaya, dan iden­ti­tas yang per­lu dilestarikan.

  Perjuangan Jamaah Umrah Lintasi Longsor Kebun Kopi Demi Kejar Penerbangan ke Tanah Suci

Menu­rut data Kemendik­bu­dris­tek, WBTB adalah upaya pelin­dun­gan ter­hadap kekayaan budaya yang bersi­fat non-ben­dawi seper­ti tra­disi lisan, seni per­tun­jukan, adat isti­a­dat, penge­tahuan tra­di­sion­al, dan keter­ampi­lan. Den­gan sta­tus ini, pemer­in­tah pusat dan daer­ah memi­li­ki tang­gung jawab untuk men­dukung pelestar­i­an, doku­men­tasi, dan pro­mosi budaya terse­but.

Acara kali ini dihadiri ratu­san war­ga dari berba­gai desa sek­i­tar. Kehadi­ran tokoh masyarakat, tokoh aga­ma, dan para pemu­da menam­bah semarak suasana. Banyak pen­gun­jung yang turut ser­ta dalam pros­esi Map­paden­dang, baik untuk berpar­tisi­pasi lang­sung maupun sekadar menyak­sikan.

Suasana semakin meri­ah den­gan adanya penampi­lan seni tra­di­sion­al seper­ti musik gen­dang, nyanyian mas­sal, dan tari-tar­i­an yang dibawakan oleh para pemu­da setem­pat. Beber­a­pa kelom­pok sang­gar seni juga meman­faatkan momen ini untuk menampilkan karya kre­atif mere­ka.

Sejum­lah peda­gang makanan dan ker­a­ji­nan lokal mem­bu­ka lapak di sek­i­tar lokasi acara, menam­bah nilai ekono­mi bagi war­ga. Hal ini menun­jukkan bah­wa tra­disi tidak hanya mem­perku­at iden­ti­tas budaya tetapi juga mem­bawa dampak posi­tif pada perekono­mi­an masyarakat setem­pat.

Penga­mat budaya Sulawe­si Sela­tan meni­lai acara seper­ti Matoa’jang Map­paden­dang pent­ing untuk men­ja­ga iden­ti­tas dan nilai-nilai kear­i­fan lokal. Tra­disi ini men­ga­jarkan masyarakat ten­tang gotong-roy­ong, rasa syukur, ser­ta hubun­gan har­mo­nis antara manu­sia dan alam.

  Natal BKAG Serdang Bedagai Kobarkan Semangat Iman Umat

Pelestar­i­an tra­disi juga sejalan den­gan pro­gram pemer­in­tah untuk men­jadikan Kabu­pat­en Bar­ru seba­gai salah satu des­ti­nasi wisa­ta budaya di Sulawe­si Sela­tan. Den­gan pro­mosi yang tepat, dihara­p­kan kegiatan ini dap­at menarik wisa­tawan domestik maupun man­cane­gara.

Mes­ki antu­si­asme masyarakat ting­gi, pelestar­i­an budaya tra­di­sion­al meng­hadapi tan­ta­n­gan di era mod­ern. Peruba­han gaya hidup, arus glob­al­isasi, dan keter­batasan dana ser­ing men­ja­di kendala. Namun den­gan dukun­gan pemer­in­tah, tokoh adat, dan masyarakat, tra­disi ini diyaki­ni akan tetap berta­han.

Pemer­in­tah daer­ah beren­cana mem­bu­at agen­da budaya tahu­nan yang meng­in­te­grasikan Matoa’jang Map­paden­dang den­gan kegiatan pari­wisa­ta, edukasi, dan pam­er­an budaya. Hara­pan­nya, gen­erasi muda tidak hanya men­ja­di penon­ton tetapi juga ikut berper­an aktif.

Matoa’jang Map­paden­dang bukan sekadar rit­u­al adat, melainkan sim­bol per­sat­u­an, peng­hor­matan pada leluhur, dan rasa syukur atas reze­ki yang diberikan Tuhan. Den­gan pen­gakuan seba­gai Warisan Budaya Tak Ben­da, acara ini memi­li­ki nilai strate­gis dalam mem­perku­at jati diri bangsa.

Masyarakat Bar­ru berharap pemer­in­tah terus men­dukung kegiatan ini agar dap­at diwariskan kepa­da gen­erasi men­datang. Tra­disi yang telah berlang­sung sela­ma ratu­san tahun ini dihara­p­kan tetap hidup, men­ja­di kebang­gaan daer­ah, ser­ta mem­perkaya khaz­anah budaya nasion­al. (Ahm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *