Sukabumi, SniperNew.id – Kisah perjuangan seorang guru honorer dari Sukabumi, Jawa Barat, kembali membuka mata publik tentang betapa kompleksnya persoalan kesejahteraan tenaga pendidik di Indonesia. Saryono, pria berusia 55 tahun, telah mendedikasikan hidupnya untuk dunia pendidikan selama lebih dari tiga dekade. Namun, dedikasi panjangnya tidak sebanding dengan apresiasi yang ia terima dalam bentuk upah, Jumat (05/09).
Melalui unggahan di media sosial Threads oleh akun @atapkita.com, terungkap bahwa Saryono mengajar di Madrasah Ibtidaiyah Tegalpanjang, Desa Sidamulya, Kabupaten Sukabumi. Ia telah mengabdi di sekolah tersebut selama 33 tahun, meski hanya menerima honor yang sangat minim. Gajinya tercatat sebesar Rp350 ribu per bulan, bahkan pencairannya baru bisa dirasakan setiap tiga bulan sekali melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Unggahan itu disertai foto Saryono yang tengah mendampingi anak-anak didiknya di dalam kelas. Dengan latar sederhana, Saryono tampak mengenakan pakaian rapi dan peci hitam, menandakan kesungguhannya dalam menjalankan peran sebagai tenaga pendidik meskipun dengan keterbatasan yang ada.
Dedikasi Saryono tidak hanya diuji oleh persoalan upah yang rendah. Setiap harinya, ia harus menempuh perjalanan sejauh sekitar tujuh kilometer untuk mencapai sekolah. Jalan yang dilalui pun bukan jalan mulus, melainkan jalur rusak yang menantang. Namun, semua itu ia jalani dengan tekad untuk tetap bisa mengajar murid-muridnya.
Perjalanan yang panjang dan melelahkan itu menjadi rutinitas sehari-hari. Bagi Saryono, tantangan tersebut bukan alasan untuk berhenti. Baginya, mendidik anak-anak di desanya merupakan panggilan hati yang tidak bisa ditukar dengan kenyamanan materi semata.
Unggahan yang menyoroti kisah Saryono diberi keterangan. “Saryono, seorang guru honorer berusia 55 tahun dari Sukabumi, Jawa Barat, telah mengabdi selama 33 tahun di Madrasah Ibtidaiyah Tegalpanjang, Desa Sidamulya. Meski penuh dedikasi, gajinya sangat minim hanya Rp350 ribu per bulan, yang cair tiga bulan sekali dari dana BOS. Setiap harinya, dia menempuh perjalanan menantang sejauh sekitar 7 km melewati jalan rusak demi mengajar murid-muridnya.”
Keterangan tambahan dalam unggahan itu juga menegaskan ironi yang dialami Saryono:
“Ironi! Pak Saryono, Guru Honorer yang Mengabdi 33 Tahun dengan Gaji 350 ribu/3 Bulan.”
Potongan kalimat tersebut seolah menegaskan jurang besar antara pengabdian panjang seorang guru dengan realitas kesejahteraan yang masih jauh dari kata layak.
Kisah Saryono menambah panjang daftar potret perjuangan guru honorer di Indonesia. Meski gaji yang diterima jauh dari standar kelayakan hidup, semangatnya tidak pernah padam. Selama 33 tahun, ia tetap setia mengajar dengan penuh keikhlasan, mendidik generasi demi generasi di desanya agar tetap memperoleh ilmu pengetahuan.
Dalam setiap langkahnya menuju sekolah, Saryono membawa harapan anak-anak didiknya. Baginya, keterbatasan ekonomi tidak boleh menjadi penghalang untuk berbagi ilmu. Hal inilah yang membuat kisahnya menjadi sorotan, sekaligus tamparan bagi semua pihak tentang pentingnya memperhatikan kesejahteraan guru honorer.
Fenomena guru honorer dengan upah minim bukanlah hal baru di Indonesia. Banyak tenaga pendidik, terutama di sekolah-sekolah swasta kecil maupun madrasah, masih menggantungkan hidup dengan gaji yang jauh di bawah standar upah minimum. Dana BOS yang seharusnya membantu operasional sekolah, sering kali menjadi satu-satunya sumber honor bagi guru-guru seperti Saryono.
Situasi ini menimbulkan dilema. Di satu sisi, guru tetap harus menjalankan tugas mendidik. Namun di sisi lain, kehidupan mereka kerap diliputi kesulitan ekonomi karena tidak adanya kepastian kesejahteraan.
Pemerintah sebenarnya telah berupaya dengan berbagai program peningkatan kesejahteraan guru, mulai dari sertifikasi hingga rekrutmen ASN Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Namun, prosesnya masih terbatas dan belum menjangkau semua guru honorer, terutama mereka yang mengajar di madrasah kecil di pelosok desa.
Kisah Saryono yang viral di media sosial memicu beragam reaksi. Banyak warganet menyampaikan rasa salut atas ketulusan pengabdiannya. Tidak sedikit pula yang merasa prihatin dan mempertanyakan keadilan sistem pendidikan yang belum mampu memberikan penghargaan layak bagi guru honorer.
Beberapa komentar netizen menyebut Saryono sebagai sosok pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya. Ada pula yang menilai kisah ini harus menjadi momentum bagi pemerintah untuk lebih serius memperhatikan nasib para guru honorer, terutama mereka yang telah puluhan tahun mengabdi.
Dari kisah Saryono, tersirat sebuah pesan mendalam: pendidikan adalah pilar bangsa, dan guru merupakan ujung tombaknya. Namun, bagaimana mungkin pendidikan bisa berjalan optimal jika guru sebagai garda terdepan justru hidup dalam keterbatasan?
Sudah seharusnya kesejahteraan guru honorer menjadi prioritas, bukan hanya sekadar wacana. Apresiasi dalam bentuk kebijakan nyata yang menjamin hak-hak mereka perlu segera diwujudkan. Hal ini bukan hanya demi kelangsungan hidup guru, tetapi juga demi masa depan anak-anak bangsa.
Tiga puluh tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Selama lebih dari separuh hidupnya, Saryono memilih jalan sebagai guru meski dengan honor yang minim. Pilihan itu tentu bukan karena alasan materi, melainkan karena tekad untuk mencerdaskan anak-anak di lingkungannya.
Pengorbanannya patut dihargai tidak hanya dengan kata-kata, tetapi juga melalui kebijakan yang adil. Guru seperti Saryono adalah teladan bahwa pendidikan sejati lahir dari hati yang ikhlas. Namun, keikhlasan tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan hak-hak dasar mereka.
Kisah Saryono, guru honorer dari Sukabumi, adalah potret nyata perjuangan seorang pendidik yang rela menempuh perjalanan panjang setiap hari demi mengajar, meski upah yang diterima sangat jauh dari layak.
Di balik kesederhanaannya, tersimpan semangat besar untuk mencerdaskan generasi muda. Kisah ini seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua bahwa penghormatan terhadap guru bukan hanya dalam bentuk ucapan terima kasih, tetapi juga melalui penghargaan nyata yang mampu menjamin kelayakan hidup mereka.
Apabila bangsa ini benar-benar ingin membangun pendidikan yang berkualitas, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah memastikan kesejahteraan guru, termasuk mereka yang berstatus honorer. Sebab, tanpa guru yang sejahtera, mustahil pendidikan bisa berjalan dengan optimal.
Saryono hanyalah satu dari ribuan, bahkan mungkin jutaan, guru honorer di seluruh Indonesia yang menghadapi nasib serupa. Semoga kisahnya membuka hati dan pikiran semua pihak untuk bergerak memperbaiki sistem, agar tidak ada lagi pengabdian panjang seorang guru yang terbayar dengan honor yang jauh dari kata layak. (Ahmad)













