Berita Ekonomi

Pengabdian Tanpa Henti: Guru Honorer di Sukabumi 33 Tahun Mengabdi dengan Gaji Rp350 Ribu

497
×

Pengabdian Tanpa Henti: Guru Honorer di Sukabumi 33 Tahun Mengabdi dengan Gaji Rp350 Ribu

Sebarkan artikel ini

Suk­abu­mi, SniperNew.id – Kisah per­juan­gan seo­rang guru hon­or­er dari Suk­abu­mi, Jawa Barat, kem­bali mem­bu­ka mata pub­lik ten­tang beta­pa kom­plek­snya per­soalan kese­jahter­aan tena­ga pen­didik di Indone­sia. Sary­ono, pria beru­sia 55 tahun, telah mendedikasikan hidup­nya untuk dunia pen­didikan sela­ma lebih dari tiga dekade. Namun, dedikasi pan­jangnya tidak seband­ing den­gan apre­si­asi yang ia ter­i­ma dalam ben­tuk upah, Jumat (05/09).

Melalui ung­ga­han di media sosial Threads oleh akun @atapkita.com, terungkap bah­wa Sary­ono men­ga­jar di Madrasah Ibtidaiyah Tegal­pan­jang, Desa Sidamulya, Kabu­pat­en Suk­abu­mi. Ia telah mengab­di di seko­lah terse­but sela­ma 33 tahun, mes­ki hanya mener­i­ma hon­or yang san­gat min­im. Gajinya ter­catat sebe­sar Rp350 ribu per bulan, bahkan pen­cairan­nya baru bisa dirasakan seti­ap tiga bulan sekali melalui dana Ban­tu­an Opera­sion­al Seko­lah (BOS).

Ung­ga­han itu dis­er­tai foto Sary­ono yang ten­gah men­dampin­gi anak-anak didiknya di dalam kelas. Den­gan latar seder­hana, Sary­ono tam­pak men­ge­nakan paka­ian rapi dan peci hitam, menan­dakan kesung­guhan­nya dalam men­jalankan per­an seba­gai tena­ga pen­didik meskipun den­gan keter­batasan yang ada.

Dedikasi Sary­ono tidak hanya diu­ji oleh per­soalan upah yang ren­dah. Seti­ap harinya, ia harus men­em­puh per­jalanan sejauh sek­i­tar tujuh kilo­me­ter untuk men­ca­pai seko­lah. Jalan yang dilalui pun bukan jalan mulus, melainkan jalur rusak yang menan­tang. Namun, semua itu ia jalani den­gan tekad untuk tetap bisa men­ga­jar murid-murid­nya.

  "GEMPARKAN MALAM INI! HP RAM GANDA & KAMERA BENING MURAH GILA-GILAAN!"

Per­jalanan yang pan­jang dan mele­lahkan itu men­ja­di ruti­ni­tas sehari-hari. Bagi Sary­ono, tan­ta­n­gan terse­but bukan alasan untuk berhen­ti. Baginya, men­didik anak-anak di desanya meru­pakan pang­gi­lan hati yang tidak bisa ditukar den­gan kenya­manan materi sema­ta.

Ung­ga­han yang meny­oroti kisah Sary­ono diberi keteran­gan. “Sary­ono, seo­rang guru hon­or­er beru­sia 55 tahun dari Suk­abu­mi, Jawa Barat, telah mengab­di sela­ma 33 tahun di Madrasah Ibtidaiyah Tegal­pan­jang, Desa Sidamulya. Mes­ki penuh dedikasi, gajinya san­gat min­im hanya Rp350 ribu per bulan, yang cair tiga bulan sekali dari dana BOS. Seti­ap harinya, dia men­em­puh per­jalanan menan­tang sejauh sek­i­tar 7 km mele­wati jalan rusak demi men­ga­jar murid-murid­nya.”

Keteran­gan tam­ba­han dalam ung­ga­han itu juga mene­gaskan ironi yang diala­mi Sary­ono:

“Ironi! Pak Sary­ono, Guru Hon­or­er yang Mengab­di 33 Tahun den­gan Gaji 350 ribu/3 Bulan.”

Poton­gan kali­mat terse­but seo­lah mene­gaskan jurang besar antara pengab­di­an pan­jang seo­rang guru den­gan real­i­tas kese­jahter­aan yang masih jauh dari kata layak.

Kisah Sary­ono menam­bah pan­jang daf­tar potret per­juan­gan guru hon­or­er di Indone­sia. Mes­ki gaji yang diter­i­ma jauh dari stan­dar kelayakan hidup, seman­gat­nya tidak per­nah padam. Sela­ma 33 tahun, ia tetap setia men­ga­jar den­gan penuh keikhlasan, men­didik gen­erasi demi gen­erasi di desanya agar tetap mem­per­oleh ilmu penge­tahuan.

Dalam seti­ap langkah­nya menu­ju seko­lah, Sary­ono mem­bawa hara­pan anak-anak didiknya. Baginya, keter­batasan ekono­mi tidak boleh men­ja­di peng­ha­lang untuk berba­gi ilmu. Hal ini­lah yang mem­bu­at kisah­nya men­ja­di sorotan, sekali­gus tam­paran bagi semua pihak ten­tang pent­ingnya mem­per­hatikan kese­jahter­aan guru hon­or­er.

Fenom­e­na guru hon­or­er den­gan upah min­im bukan­lah hal baru di Indone­sia. Banyak tena­ga pen­didik, teruta­ma di seko­lah-seko­lah swasta kecil maupun madrasah, masih meng­gan­tungkan hidup den­gan gaji yang jauh di bawah stan­dar upah min­i­mum. Dana BOS yang seharus­nya mem­ban­tu opera­sion­al seko­lah, ser­ing kali men­ja­di satu-sat­un­ya sum­ber hon­or bagi guru-guru seper­ti Sary­ono.

  Realisasi Dana Rutin Kecamatan Ambarawa Tahun 2024–2025 Berjalan Baik

Situ­asi ini menim­bulkan dile­ma. Di satu sisi, guru tetap harus men­jalankan tugas men­didik. Namun di sisi lain, kehidu­pan mere­ka ker­ap diliputi kesuli­tan ekono­mi kare­na tidak adanya kepas­t­ian kese­jahter­aan.

Pemer­in­tah sebe­narnya telah beru­paya den­gan berba­gai pro­gram pen­ingkatan kese­jahter­aan guru, mulai dari ser­ti­fikasi hing­ga rekrut­men ASN Pegawai Pemer­in­tah den­gan Per­jan­jian Ker­ja (PPPK). Namun, pros­es­nya masih ter­batas dan belum men­jangkau semua guru hon­or­er, teruta­ma mere­ka yang men­ga­jar di madrasah kecil di pelosok desa.

Kisah Sary­ono yang viral di media sosial memicu beragam reak­si. Banyak war­ganet menyam­paikan rasa salut atas ketu­lu­san pengab­di­an­nya. Tidak sedik­it pula yang merasa pri­hatin dan mem­per­tanyakan kead­i­lan sis­tem pen­didikan yang belum mam­pu mem­berikan peng­har­gaan layak bagi guru hon­or­er.

Beber­a­pa komen­tar neti­zen menye­but Sary­ono seba­gai sosok pahlawan tan­pa tan­da jasa yang sesung­guh­nya. Ada pula yang meni­lai kisah ini harus men­ja­di momen­tum bagi pemer­in­tah untuk lebih serius mem­per­hatikan nasib para guru hon­or­er, teruta­ma mere­ka yang telah puluhan tahun mengab­di.

Dari kisah Sary­ono, ter­sir­at sebuah pesan men­dalam: pen­didikan adalah pilar bangsa, dan guru meru­pakan ujung tombaknya. Namun, bagaimana mungkin pen­didikan bisa ber­jalan opti­mal jika guru seba­gai gar­da ter­de­pan jus­tru hidup dalam keter­batasan?

Sudah seharus­nya kese­jahter­aan guru hon­or­er men­ja­di pri­or­i­tas, bukan hanya sekadar wacana. Apre­si­asi dalam ben­tuk kebi­jakan nya­ta yang men­jamin hak-hak mere­ka per­lu segera diwu­jud­kan. Hal ini bukan hanya demi kelang­sun­gan hidup guru, tetapi juga demi masa depan anak-anak bangsa.

  Warung Memek Banjir Bikin Netizen Kaget Campur Ngakak!

Tiga puluh tiga tahun bukan wak­tu yang seben­tar. Sela­ma lebih dari sep­a­ruh hidup­nya, Sary­ono memil­ih jalan seba­gai guru mes­ki den­gan hon­or yang min­im. Pil­i­han itu ten­tu bukan kare­na alasan materi, melainkan kare­na tekad untuk mencer­daskan anak-anak di lingkun­gan­nya.

Pen­gor­banan­nya patut dihar­gai tidak hanya den­gan kata-kata, tetapi juga melalui kebi­jakan yang adil. Guru seper­ti Sary­ono adalah teladan bah­wa pen­didikan sejati lahir dari hati yang ikhlas. Namun, keikhlasan tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan hak-hak dasar mere­ka.

Kisah Sary­ono, guru hon­or­er dari Suk­abu­mi, adalah potret nya­ta per­juan­gan seo­rang pen­didik yang rela men­em­puh per­jalanan pan­jang seti­ap hari demi men­ga­jar, mes­ki upah yang diter­i­ma san­gat jauh dari layak.

Di balik keseder­hanaan­nya, ter­sim­pan seman­gat besar untuk mencer­daskan gen­erasi muda. Kisah ini seharus­nya men­ja­di pengin­gat bagi kita semua bah­wa peng­hor­matan ter­hadap guru bukan hanya dalam ben­tuk uca­pan ter­i­ma kasih, tetapi juga melalui peng­har­gaan nya­ta yang mam­pu men­jamin kelayakan hidup mere­ka.

Apa­bi­la bangsa ini benar-benar ingin mem­ban­gun pen­didikan yang berkual­i­tas, maka langkah per­ta­ma yang harus dilakukan adalah memas­tikan kese­jahter­aan guru, ter­ma­suk mere­ka yang bersta­tus hon­or­er. Sebab, tan­pa guru yang sejahtera, mus­tahil pen­didikan bisa ber­jalan den­gan opti­mal.

Sary­ono hanyalah satu dari ribuan, bahkan mungkin jutaan, guru hon­or­er di selu­ruh Indone­sia yang meng­hadapi nasib seru­pa. Semoga kisah­nya mem­bu­ka hati dan piki­ran semua pihak untuk berg­er­ak mem­per­bai­ki sis­tem, agar tidak ada lagi pengab­di­an pan­jang seo­rang guru yang ter­ba­yar den­gan hon­or yang jauh dari kata layak. (Ahmad)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *