Berita Daerah

Aksi Damai di Pemalang: Massa Dorong Patung Tikus Raksasa, Suarakan Isu Guru dan Rob

264
×

Aksi Damai di Pemalang: Massa Dorong Patung Tikus Raksasa, Suarakan Isu Guru dan Rob

Sebarkan artikel ini

Pemalang, SniperNew.id  – Ratusan warga Kabupaten Pemalang menggelar aksi unjuk rasa damai dengan simbol unik berupa patung tikus raksasa yang didorong menuju pintu gerbang Pendopo Kabupaten Pemalang pada Kamis (4/9/2025).

Aksi ini dimulai sekitar pukul 11.00 WIB dan menjadi sorotan masyarakat setempat karena berlangsung tertib serta menyuarakan berbagai isu sosial penting, termasuk perhatian terhadap kesejahteraan guru dan penanganan rob.

Informasi terkait aksi ini pertama kali disampaikan melalui unggahan akun Instagram @smnpekalongan yang menulis. “PEMALANG – Unjuk rasa di Kabupaten Pemalang diwarnai aksi mendorong patung tikus raksasa ke depan pintu gerbang Pendopo Kabupaten Pemalang, Kamis (4/9). Namun aksi yang dimulai pukul 11 ini hanya sampai di depan kantor Perpustakaan lantaran terhadang barisan polisi. Massa mendengarkan orasi sementara perwakilan mereka masuk ke pendopo untuk ditemui Bupati. Sementara itu dalam orasinya disampaikan beberapa persoalan seperti perhatian terhadap guru dan juga masalah rob.”

Dalam video yang diunggah oleh Suara Merdeka Pantura dan SMN Pekalongan, tampak ratusan warga berbaris rapi sambil membawa spanduk putih bertuliskan. “4 September Aksi Damai Sidomulyo Bersatu Menuju Pendopo.”

Patung tikus berwarna abu-abu dengan mengenakan pakaian cokelat bertuliskan “Duit Publik” menjadi simbol utama dalam aksi ini. Tikus sering digunakan sebagai simbol perlawanan terhadap praktik korupsi atau dugaan penyalahgunaan wewenang, sehingga pesan aksi semakin kuat.

Aksi damai ini diprakarsai oleh warga dari Desa Sidomulyo dan sekitarnya. Mereka menyampaikan aspirasi dengan cara kreatif dan tanpa kekerasan, meski jumlah massa cukup besar. Dalam orasi yang disampaikan, terdapat dua isu utama:

  Menteri ATR/BPN Gandeng Pemuka Agama Sulut, Pastikan Tanah Rumah Ibadah Aman dan Bersertifikat

1. Perhatian terhadap kesejahteraan guru. Warga meminta agar pemerintah daerah lebih serius memperhatikan hak-hak guru, termasuk tenaga honorer, serta meningkatkan kualitas pendidikan di Pemalang.

2. Penanganan masalah rob.
Rob atau banjir pasang laut menjadi masalah yang sudah lama dikeluhkan warga pesisir. Mereka meminta pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasinya, mulai dari perbaikan tanggul, infrastruktur drainase, hingga program mitigasi bencana.

Aksi dimulai pukul 11.00 WIB dengan titik kumpul di wilayah sekitar Desa Sidomulyo. Rombongan kemudian berjalan kaki menuju Pendopo Kabupaten Pemalang sambil membawa patung tikus raksasa dan spanduk besar. Mereka berorasi dengan pengeras suara, menyuarakan tuntutan secara bergantian.

Namun, setibanya di dekat Pendopo, massa hanya bisa sampai di depan kantor Perpustakaan Daerah karena barisan polisi mengamankan pintu gerbang utama. Meski demikian, situasi tetap kondusif. Massa memilih mendengarkan orasi sambil menunggu perwakilan mereka masuk ke Pendopo untuk bertemu langsung dengan Bupati Pemalang.

Simbol patung tikus raksasa yang didorong ke depan gerbang menjadi pusat perhatian warga sekitar. Simbol tersebut tidak hanya menarik perhatian publik tetapi juga menjadi alat komunikasi visual untuk menyampaikan pesan aksi.

Pihak kepolisian Kabupaten Pemalang menurunkan personel untuk menjaga ketertiban selama aksi berlangsung. Barikade polisi dibentuk untuk mengantisipasi potensi kericuhan, tetapi hingga akhir kegiatan, tidak ada laporan bentrok atau tindakan represif.

Kapolres Pemalang (nama tidak disebutkan dalam sumber resmi) sebelumnya mengimbau agar aksi ini berjalan damai. Aparat pun mengapresiasi sikap massa yang tertib dan kooperatif.

Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari Bupati Pemalang terkait hasil pertemuan dengan perwakilan massa. Namun, menurut informasi lapangan, aspirasi warga akan ditampung dan dibahas lebih lanjut. Pemerintah daerah diharapkan memberikan respons konkret, khususnya terhadap masalah pendidikan dan rob yang disuarakan warga.

  Tanah Tanjung Kemala Kobarkan Semangat Persatuan di HUT RI ke-80

Penggunaan patung tikus raksasa dalam aksi ini menunjukkan kreativitas warga dalam menyampaikan kritik sosial. Tikus selama ini identik dengan simbol korupsi, kerakusan, dan ketidakadilan. Dengan mendorong patung tersebut hingga ke depan pendopo, warga ingin menegaskan bahwa praktik penyalahgunaan kekuasaan harus diberantas, serta menuntut adanya pemerintahan yang bersih dan berpihak kepada rakyat.

Selain itu, spanduk bertuliskan “Aksi Damai Sidomulyo Bersatu Menuju Pendopo” juga mencerminkan semangat persatuan. Warga ingin menegaskan bahwa aksi ini tidak bermaksud mengganggu ketertiban umum, melainkan mendorong pemerintah untuk mendengarkan suara rakyat.

Video dan foto-foto aksi ini yang diunggah ke media sosial mendapatkan beragam tanggapan. Banyak netizen mengapresiasi kreativitas peserta aksi dan sikap damai mereka. Beberapa komentar mendukung langkah warga dalam menyuarakan aspirasi, sementara sebagian lain menyoroti perlunya pemerintah segera bertindak atas masalah rob dan kesejahteraan guru.

Unggahan akun Instagram @smnpekalongan tercatat telah ditonton ratusan kali hanya beberapa jam setelah diunggah. Hal ini menunjukkan tingginya perhatian masyarakat terhadap aksi tersebut.

Aksi ini mencerminkan dinamika sosial masyarakat Pemalang yang semakin kritis terhadap isu-isu publik. Pendidikan dan lingkungan menjadi dua isu utama yang menyentuh kehidupan sehari-hari warga. Guru sebagai ujung tombak pendidikan membutuhkan dukungan penuh, baik dari segi kesejahteraan maupun kebijakan. Sementara itu, masalah rob tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga pada kesehatan dan keberlangsungan hidup masyarakat pesisir.

Penggunaan simbol patung tikus raksasa juga memperlihatkan kreativitas warga dalam mengemas pesan protes agar lebih mudah dipahami publik luas. Simbol semacam ini sering digunakan di berbagai daerah sebagai representasi kritik terhadap penyalahgunaan anggaran atau kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat.

  DIDUGA TAK TRANSPARAN, BAWASLU PASAMAN DIPERTANYAKAN TERKAIT PENGGUNAAN ANGGARAN PILKADA 2024–2025

Aksi damai di Pemalang ini sejalan dengan tren masyarakat sipil yang semakin memilih cara-cara non-kekerasan untuk menyampaikan aspirasi. Dalam sejarah demokrasi Indonesia, demonstrasi damai telah menjadi salah satu bentuk partisipasi warga dalam proses pengambilan keputusan publik.

Selain itu, aksi ini menjadi pengingat bagi pemerintah daerah agar lebih peka terhadap keluhan warganya. Dengan komunikasi yang baik, berbagai permasalahan sosial dapat dicarikan solusi bersama tanpa harus menunggu eskalasi konflik.

Aksi damai ini diharapkan dapat membuka ruang dialog yang lebih luas antara masyarakat dengan pemerintah daerah. Jika ditangani dengan serius, aspirasi warga dapat menjadi masukan berharga untuk perencanaan pembangunan daerah, terutama di sektor pendidikan dan penanggulangan bencana rob.

Partisipasi aktif warga seperti ini menunjukkan bahwa demokrasi di tingkat daerah masih berjalan dengan baik. Pemerintah Kabupaten Pemalang diharapkan dapat merespons dengan kebijakan konkret, seperti:

Peningkatan kesejahteraan guru honorer dan tenaga pendidik lainnya. Program pembangunan infrastruktur penahan rob di wilayah pesisir. Transparansi anggaran daerah untuk menghindari tuduhan penyalahgunaan dana publik.

Aksi damai dengan simbol patung tikus raksasa di Pemalang menjadi bukti bahwa masyarakat tidak tinggal diam terhadap berbagai persoalan. Kreativitas dan keberanian warga dalam menyampaikan aspirasi secara tertib patut diapresiasi. Kini, semua pihak menunggu langkah nyata pemerintah daerah untuk menindaklanjuti tuntutan warga, agar kesejahteraan guru meningkat dan masalah rob segera teratasi.

Dengan semangat damai dan kebersamaan, Pemalang diharapkan dapat menjadi contoh daerah yang mampu mengelola aspirasi warganya dengan baik, tanpa harus terjadi bentrok atau tindakan anarkis. (Darm)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *