Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Hukum

Bukan Penegakan Hukum, Tapi Dugaan Persekongkolan: Penahanan Ilegal Irfan Batubara Jadi Sorotan Dipolsek Medan Tembung

166
×

Bukan Penegakan Hukum, Tapi Dugaan Persekongkolan: Penahanan Ilegal Irfan Batubara Jadi Sorotan Dipolsek Medan Tembung

Sebarkan artikel ini

MedanSnipernew.id

Dunia pene­gakan hukum kem­bali ter­coreng. Kasus dugaan pengge­la­pan sepe­da motor yang meny­eret seo­rang pria berna­ma Irfan Batubara war­ga ban­dar klip­pa jln jati GG jati 2, bukan sekadar per­soalan pidana biasa, melainkan gam­baran nya­ta beta­pa rapuh­nya pro­fe­sion­al­isme aparat dalam mene­gakkan hukum.

Bagaimana tidak, Irfan bukan hanya dikeroyok empat war­ga kelu­ra­han Ban­tan kec Medan tem­bung sebelum dipak­sa ke Polsek Medan Tem­bung Selasa 19 agus­tus 2025 pukul 21.15 wib, tetapi juga lang­sung dita­han penyidik mes­ki lapo­ran polisi baru dibu­at sete­lah ia dibawa ke kan­tor polisi. Ironi hukum pun ter­pam­pang jelas: kor­ban jus­tru diper­lakukan seper­ti krim­i­nal tan­pa pros­es hukum yang sah.

  Seorang Terkait Perkara Tambang Kutai Barat Diperiksa

Dalam keteran­gan­nya kepa­da awak media pada Kamis, 21 Agus­tus 2025, istri kor­ban, Boru Lubis, men­gungkap­kan kro­nolo­gi yang menge­jutkan.

> “Mere­ka empat orang, yang satu wani­ta, datang ke rumah saya mengeroyok sua­mi saya lalu mem­bawa pak­sa ke Polsek Medan Tem­bung. Sua­mi saya dituduh mengge­lap­kan sepe­da motor. Anehnya, lapo­ran baru dibu­at sete­lah sam­pai di Polsek pada pukul 23.10 wib, tapi sua­mi saya lang­sung dita­han penyidik,” ujarnya.

 

Boru Lubis pun mene­gaskan telah mem­bu­at lapo­ran balik ke Pol­restabes Medan atas dugaan pengeroyokan.

> “Sua­mi saya juga sudah divi­sum. Saya berharap polisi segera menangkap para pelaku dan mem­beri kead­i­lan,” tegas­nya.

 

Namun alih-alih men­da­p­at pen­je­lasan objek­tif dari aparat, sikap penyidik jus­tru semakin mem­per­bu­ruk keadaan. Saat dikon­fir­masi wartawan, penyidik Hen­ry Sia­han mere­spons den­gan nada ting­gi:

> “Kalau soal pasal bera­pa itu bukan wewe­nang saya, silakan tanya Kan­it. Kalian enak ada tidur, aku dua hari nggak tidur. Ini habis piket, sekarang kulawani semua, nggak peduli aku dipin­dah-pin­dah.”

  Kejaksaan Negeri Pasaman Tahan Dua Tersangka Korupsi Anggaran Dana Desa dan ADN

 

Jawa­ban aro­gan ini menam­bah cit­ra kelam kepolisian: bukan hanya lemah dalam prose­dur, tetapi juga kehi­lan­gan empati dan pro­fe­sion­al­isme.

Potret Pelang­garan Hukum

Pada­hal, KUHAP sudah jelas men­gatur bah­wa penangka­pan dan pena­hanan hanya sah jika memenuhi syarat: ada lapo­ran polisi, buk­ti per­mu­laan yang cukup, ser­ta surat per­in­tah res­mi. Fak­ta di lapan­gan menun­jukkan pelang­garan serius:

1. Lapo­ran baru dibu­at sete­lah kor­ban dipak­sa hadir di Polsek – artinya dasar hukum pena­hanan san­gat rapuh.

2. Irfan lang­sung dita­han tan­pa surat res­mi, kelu­ar­ganya pun tidak mener­i­ma pem­ber­i­tahuan seba­gaimana diatur Pasal 21 KUHAP.

3. Empat war­ga sip­il pelaku pengeroyokan dan pen­cu­likan tidak tersen­tuh hukum, pada­hal jelas tin­dakan mere­ka masuk kat­e­gori tin­dak pidana.

 

Ini bukan sekadar kelala­ian prose­dur­al, melainkan pem­biaran terang-teran­gan ter­hadap prak­tik main hakim sendiri.

Jika ter­buk­ti melang­gar SOP, penyidik berpoten­si meng­hadapi kon­sekuen­si serius:

Prap­eradi­lan – kelu­ar­ga kor­ban dap­at meng­gu­gat keab­sa­han pena­hanan yang tidak sah.

  APPI Sumut Soroti Penangkapan Wartawan, Desak Proses Hukum Berimbang dan Investigasi Dugaan Pungli di Sekolah

Sanksi etik dan disi­plin – Propam Pol­ri dap­at men­jatuhkan sanksi atas pelang­garan pro­fe­sion­al­isme.

Pidana penyalah­gu­naan wewe­nang – jika ter­buk­ti ada kesen­ga­jaan, penyidik dap­at dijer­at Pasal 421 KUHP.

Kasus Irfan Batubara adalah cer­min buram pene­gakan hukum. Aparat yang seharus­nya melin­dun­gi jus­tru mem­biarkan war­ga sip­il bertin­dak seba­gai “hakim jalanan”. Lebih parah, bukan­nya melu­ruskan, penyidik malah mem­perku­at kesewe­nang-wenan­gan itu den­gan pena­hanan terge­sa-gesa.

Jika prak­tik ini dib­iarkan, masyarakat akan kehi­lan­gan keper­cayaan pada polisi. Pene­gakan hukum berubah men­ja­di alat intim­i­dasi, bukan kead­i­lan.

Awak media mende­sak Kapol­restabes Medan dan Propam Pol­da Sumut untuk segera turun tan­gan. Pem­biaran ter­hadap prak­tik pena­hanan ile­gal bukan hanya melukai rasa kead­i­lan, tetapi juga mem­permalukan insti­tusi kepolisian di mata pub­lik.

Hukum seharus­nya men­ja­di ben­teng ter­akhir war­ga, bukan jebakan yang dipakai untuk menakut-naku­ti. Kasus Medan Tem­bung ini adalah alarm keras: refor­masi pene­gakan hukum bukan lagi kebu­tuhan, melainkan keharu­san.

Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *