Yogyakarta, SniperNew.id – Di balik gegap gempita perayaan kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia, tersimpan ironi pahit yang menyesakkan dada. Para petani singkong di berbagai daerah kini tengah menghadapi kenyataan pahit: harga singkong anjlok drastis, membuat hasil jerih payah mereka tak lagi sebanding dengan peluh yang tercurah di ladang, Selasa (19/08/2025).
Melalui unggahan akun media sosial Treands, sebuah seruan menggugah hati tersebar luas. Postingan itu menyoroti kondisi para petani singkong yang kesulitan menjual hasil panen dengan harga layak. Kalimat pembukanya menggetarkan hati: “KADO KEMERDEKAAN YANG SESUNGGUHNYA UNTUK PETANI SINGKONG KETIKA HARGA ANJLOK🥺”
Ungkapan itu bukan sekadar rangkaian kata, melainkan jeritan hati yang menggambarkan bagaimana penderitaan petani kini terasa kontras dengan semangat kemerdekaan yang seharusnya membawa kesejahteraan.
Singkong, Makanan Rakyat yang Kian Terpinggirkan. Singkong sejak lama dikenal sebagai salah satu pangan pokok rakyat Indonesia. Tanaman ini tumbuh subur di berbagai daerah pedesaan, menjadi tumpuan hidup ribuan petani kecil. Namun, ironi tak terbantahkan: ketika biaya pupuk, ongkos tenaga kerja, dan beban hidup meningkat, harga jual singkong justru terjun bebas.
Para petani kini menghadapi dilema. Jika dijual, harga terlalu rendah. Jika ditimbun, singkong tak tahan lama. Situasi ini membuat hasil panen yang seharusnya membawa kebahagiaan justru menjelma menjadi beban.
Tak heran, banyak petani merasa seperti berjuang sendirian. Mereka yang setiap hari bekerja di bawah terik matahari kini hanya bisa berharap ada tangan-tangan dermawan yang mau peduli.
Untuk mengurangi penderitaan petani, Treands menginisiasi gerakan sosial yang diberi nama Program Borong Singkong. Ajakan ini dibuka bagi siapa saja yang ingin ikut serta membantu dengan cara sederhana: membeli hasil panen petani melalui jalur kolektif.
Dalam unggahan tersebut tertulis. “Bagi yang ingin ikut program borong ini, bisa daftar di:
ikut.xyz/singkong”
Program ini diharapkan bisa menjadi solusi sementara, agar singkong petani tidak terbuang sia-sia dan mereka tetap memperoleh penghasilan yang layak.
Selain melalui pembelian langsung, masyarakat juga diajak berdonasi untuk mendukung gerakan ini. Donasi bisa disalurkan melalui Yayasan Nurul Ashri Deresan Yogyakarta dengan tiga pilihan rekening:
💳 BSI: 71331-80723
💳 BNI: 6660-000562
💳 BRI: 21640-1000459560
Dengan kode khusus 153, donatur bisa menyertakan nominal unik sebagai tanda kepedulian. Misalnya, donasi Rp100.153 menjadi simbol solidaritas yang mudah dikenali.
Bagi yang ingin konfirmasi, tersedia nomor kontak admin: 0851-7974-0455 (admin Ica).
Harga yang Anjlok, Air Mata yang Tumpah. fenomena harga singkong jatuh bukan kali ini saja terjadi. Beberapa tahun terakhir, harga komoditas pangan lokal sering kali dipermainkan pasar. Petani singkong kerap menjadi pihak paling dirugikan karena mereka tidak memiliki daya tawar.
“Kalau jual ke tengkulak, harganya sering kali tidak masuk akal. Biaya angkut kadang lebih besar daripada hasil jualnya,” keluh salah seorang petani di Yogyakarta.
Kondisi ini menciptakan lingkaran penderitaan. Petani tetap menanam karena singkong adalah sumber penghidupan mereka. Namun, ketika panen tiba, keuntungan hampir nihil. Tidak sedikit petani yang terpaksa berutang demi menutup biaya hidup sehari-hari.
Unggahan Treands viral bukan tanpa alasan. Kata-katanya menggugah nurani masyarakat di tengah euforia kemerdekaan. Pertanyaan besar pun muncul: apa arti kemerdekaan jika para petani – tulang punggung negeri – masih terikat rantai kemiskinan karena harga hasil panennya jatuh?
Kemerdekaan seharusnya tidak hanya diukur dari parade, karnaval, dan upacara bendera. Kemerdekaan sejati adalah ketika rakyat kecil – termasuk petani singkong – merasakan keadilan ekonomi.
Seruan “Kado Kemerdekaan” dalam postingan itu menjadi simbol bahwa kemerdekaan bukan hanya untuk dirayakan, tetapi juga untuk dibagikan. Membantu petani adalah bentuk nyata dari merayakan kemerdekaan dengan hati.
Singkong bukan hanya makanan rakyat, melainkan juga bagian dari identitas bangsa. Di masa lalu, singkong bahkan pernah menjadi penyelamat ketika beras sulit didapat. Namun kini, keberadaan singkong seakan dipandang sebelah mata.
Melalui program borong ini, masyarakat diingatkan kembali bahwa menjaga singkong berarti menjaga keberlanjutan pangan nasional. Jika petani singkong terus terpuruk, maka yang terancam bukan hanya ekonomi pedesaan, tetapi juga ketahanan pangan Indonesia.
Mari Jadikan Solidaritas sebagai Kado Kemerdekaan. Di tengah situasi sulit, kabar tentang anjloknya harga singkong seharusnya menjadi alarm bagi kita semua. Kemerdekaan yang sesungguhnya tidak bisa dirasakan jika masih ada petani yang merdeka hanya di atas kertas, namun terjajah oleh mekanisme pasar yang tak berpihak.
Gerakan “Borong Singkong” hanyalah langkah kecil, tetapi bisa menjadi awal dari gelombang besar perubahan. Dari netizen untuk petani, dari kota untuk desa, dari rakyat untuk rakyat.
Satu kantong singkong yang diborong, satu rupiah donasi yang diberikan, bisa berarti senyum kembali di wajah petani. Dan mungkin, itulah kado kemerdekaan paling berharga tahun ini.
Editor: (Ahmad)












