Mojokerto, SniperNew.id – Suasana haru sekaligus semarak terasa di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Mojokerto, Jawa Timur, Jumat (8 Agustus 2025). Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia, Lapas Kelas IIB Mojokerto menggelar berbagai lomba kemerdekaan yang diikuti oleh warga binaan. Kegiatan ini bukan hanya sekadar seremoni, melainkan menjadi momen penuh makna yang menumbuhkan rasa nasionalisme, kebersamaan, serta semangat sportivitas di balik tembok tinggi lembaga pemasyarakatan.
Dalam unggahan video oleh akun aslimojokertocom di platform Threads, suasana Lapas seketika berubah seperti kampung halaman yang sedang merayakan 17 Agustusan. Tulisan dalam unggahan tersebut menyebutkan:
“Berasa di kampung halaman 🌻🌻🌻
Dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-80, Lapas Kelas IIB Mojokerto menggelar berbagai lomba yang diikuti oleh warga binaan.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan semangat kebersamaan dan sportivitas di lingkungan Lapas Kelas IIB Mojokerto, Jumat (8 Agustus 2025).”
Video yang diunggah memperlihatkan ratusan warga binaan yang mengenakan seragam berwarna biru navy dengan kerah biru muda, tampak bersorak-sorai penuh antusiasme. Mereka berkumpul di lapangan tengah Lapas, menyaksikan dan ikut serta dalam sejumlah perlombaan khas 17 Agustus seperti tarik tambang, yang menjadi daya tarik tersendiri dalam rangkaian acara tersebut.
Dalam salah satu tangkapan layar, tampak suasana lomba tarik tambang yang berlangsung seru. Dua tim saling tarik-menarik dengan kekuatan penuh, disaksikan oleh ratusan warga binaan lain yang memberi dukungan penuh semangat. Wajah-wajah penuh tawa dan teriakan riuh menyatu dalam atmosfer positif yang jarang terlihat dalam keseharian lembaga pemasyarakatan.
Di sisi lain, potret lain memperlihatkan sekelompok warga binaan yang duduk dengan santai namun penuh antusiasme di sisi lapangan. Mereka tampak tersenyum lebar dan menikmati momen kebersamaan tersebut. Latar belakangnya menunjukkan spanduk merah bertuliskan “Peringatan HUT RI” dengan ilustrasi tangan mengepal, simbol perjuangan dan semangat kemerdekaan.
Yang menarik, kegiatan ini tak hanya menjadi bentuk hiburan, tetapi juga sarana pembinaan mental dan sosial bagi para warga binaan. Dengan mengikuti lomba-lomba tersebut, mereka belajar tentang kerja sama, solidaritas, serta nilai-nilai sportivitas yang akan sangat berguna ketika mereka kembali ke masyarakat.
Kepala Lapas Kelas IIB Mojokerto (yang tidak disebutkan dalam unggahan tersebut) tentu patut diapresiasi karena berhasil mengelola kegiatan positif di lingkungan yang memiliki banyak tantangan. Membina warga binaan bukan hanya tentang menjaga keamanan, tetapi juga memanusiakan dan memberdayakan mereka agar memiliki harapan baru dalam hidupnya.
Kegiatan seperti ini sejatinya menunjukkan wajah baru pemasyarakatan di Indonesia. Bahwa lembaga pemasyarakatan bukan hanya tempat untuk menjalani hukuman, namun juga tempat pembinaan yang memberikan kesempatan kedua kepada warga binaan untuk memperbaiki diri. Semangat nasionalisme yang ditanamkan melalui perayaan HUT RI menjadi sarana yang efektif untuk membangun karakter dan mental positif.
Antusiasme warga binaan dalam video yang diunggah memperlihatkan bahwa semangat kemerdekaan mampu menembus sekat-sekat ruang dan batasan kebebasan. Meskipun mereka berada di balik jeruji, namun jiwa mereka tetap bebas untuk mencintai tanah air dan memaknai kemerdekaan dalam bentuk yang paling sederhana namun bermakna.
Dengan lebih dari 25.160 tayangan, unggahan dari akun aslimojokertocom ini pun menuai perhatian warganet. Banyak yang memberikan komentar positif dan dukungan terhadap kegiatan pembinaan yang inspiratif ini. Bahkan, beberapa komentar menyebutkan bahwa kegiatan seperti ini sebaiknya menjadi contoh bagi Lapas lainnya di seluruh Indonesia.
Kegiatan ini juga menjadi momentum bagi warga binaan untuk membangun kembali rasa percaya diri dan harga diri mereka. Di balik sorak sorai lomba, terselip harapan dan tekad untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik, yang kelak dapat berkontribusi bagi masyarakat setelah menjalani masa pembinaan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa acara seperti ini memiliki dampak yang sangat besar secara psikologis bagi warga binaan. Suasana yang mirip dengan perayaan 17-an di kampung halaman mampu membangkitkan kenangan, semangat kekeluargaan, dan rasa memiliki terhadap bangsa dan negara.
Momen ini juga menjadi gambaran bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang kebebasan fisik, melainkan juga tentang kebebasan batin dan mental. Bagi para warga binaan, perayaan ini menjadi simbol bahwa mereka tidak dilupakan oleh negara, dan bahwa mereka tetap memiliki tempat untuk kembali, harapan untuk tumbuh, serta semangat untuk memperbaiki diri.
Semoga kegiatan positif seperti ini dapat terus dilestarikan dan dikembangkan lebih luas, tidak hanya pada momen kemerdekaan saja, tetapi juga menjadi bagian dari program pembinaan berkelanjutan. Karena sesungguhnya, semangat merah putih harus tetap berkibar, di mana pun kaki berpijak termasuk di dalam Lapas.












