Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Ekonomi

Menteri Soroti Pegawai Bertato, Netizen Kritik Standar Ganda

565
×

Menteri Soroti Pegawai Bertato, Netizen Kritik Standar Ganda

Sebarkan artikel ini

Jakar­ta, SniperNew.id — Perny­ataan Menteri Imi­grasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, ten­gah men­ja­di sorotan pub­lik sete­lah men­go­men­tari secara tegas keber­adaan pegawai baru di Bali yang memi­li­ki tato besar ser­ta ter­li­bat dalam pelang­garan disi­plin. Dalam sebuah forum res­mi, Agus ter­li­hat menyam­paikan keke­salan­nya ter­hadap pegawai yang ia nilai melakukan pelang­garan di luar batas, sem­bari men­gu­cap­kan kali­mat tajam, “Ini apa penyak­it men­tal?”, Selasa 05 Agus­tus 2025.

Ungka­pan itu pun terekam dalam video yang kini viral di media sosial. Video terse­but menampilkan Agus berdiri di podi­um den­gan ser­agam dinas lengkap, menyam­paikan pida­to di hada­pan peser­ta forum. Di bagian bawah video ter­tulis teks yang men­colok: “INI APA PENYAKIT MENTAL.” Cup­likan terse­but men­gun­dang berba­gai reak­si dari pub­lik, khusus­nya di media sosial.

Dalam ung­ga­han yang dibagikan akun @gemabali.id melalui plat­form Threads, ter­tulis pen­je­lasan men­ge­nai latar belakang perny­ataan Menteri Agus. Dise­butkan bah­wa ia meny­oroti pegawai baru di Bali yang memi­li­ki tato besar dan ter­san­dung masalah disi­plin. Agus meny­atakan bah­wa dirinya tidak anti ter­hadap tato, namun pelang­garan yang dilakukan oknum pegawai terse­but sudah mele­wati batas. Ia mem­inta agar pros­es hukum dan disi­plin dijalankan secara tegas.

  Dapur Sederhana, Konten FYP, Hasilkan Cuan dan Semangat Hidup

Ung­ga­han terse­but turut meny­er­takan tagar-tagar seper­ti:
#bali #gema­bali #viral #den­pasar #tat­too #menteri­imi­grasi­dan­pe­masyarakatan, menan­dakan besarnya per­ha­t­ian pub­lik ter­hadap isu terse­but, teruta­ma di wilayah Bali.

Reak­si Pub­lik dan Komen­tar Neti­zen

Ung­ga­han terse­but memicu gelom­bang reak­si dari war­ganet, yang seba­gian besar mem­per­tanyakan sikap pemer­in­tah yang dini­lai masih meni­lai sese­o­rang dari penampi­lan luar, seper­ti keber­adaan tato.

Beber­a­pa komen­tar yang men­colok di antaranya:

1. wbayua­jie (24 menit lalu) menulis:
“Di jaman Orba, untuk men­ja­di PNS, TNI, Pol­ri harus tidak berta­to, tidak bertindik..”
Komen­tar ini mengin­gatkan bah­wa stan­dar penampi­lan luar seper­ti bebas tato dan tindik masih men­ja­di syarat yang tidak ter­tulis di beber­a­pa instan­si pemer­in­ta­han.

2. el_grazie (16 menit lalu) mem­berikan pan­dan­gan yang lebih luas:
“Banyak ten­tara luar negeri bertat­to tidak diper­soalkan negara mere­ka. Hanya di Indone­sia yg selalu meni­lai orang dari cov­ernya saja. Bah­wa ada org yg salah gunakan posisi dlm ker­ja itu iya dan ada tapi kemu­di­an jgn gen­er­al­isir semua begi­tu.”
Ia mene­gaskan bah­wa tato bukan­lah indika­tor uta­ma kual­i­tas moral atau pro­fe­sion­al­isme sese­o­rang, dan mem­inta agar masyarakat ser­ta pemer­in­tah tidak menggen­er­al­isasi semua pemi­lik tato seba­gai bermasalah.

3. ketutsuardika25 (12 menit lalu) menyuarakan keke­ce­waan­nya ter­hadap stan­dar moral gan­da:
“Negara sok alim dan agamis tapi kelakuan korup­si dan memalukan… harus­nya dil­i­hat dari kin­er­ja di lihat… bertat­to kin­er­ja bagus dan bertang­gung jawab gpp. Dp tan­pa tat­to kin­er­janya buruk dan korup sama dg boong.”
Ia menyam­paikan bah­wa banyak peja­bat yang tam­pak agamis dan bersih dari luar, namun tetap melakukan korup­si, sehing­ga menu­rut­nya, peni­la­ian seharus­nya berfokus pada kin­er­ja, bukan tampi­lan.

  MK Tegaskan Biaya Transportasi LPG 3 Kg Bukan Objek Pajak

4. iwayan3324 (5 menit lalu) menyindir kon­disi peja­bat di Indone­sia:
“Peja­bat banyak yg agamis tidak berta­to tapi menyengsarakan raky­at kecil, seper­ti biasa 😒😒😒.”
Komen­tar ini mencer­minkan keke­ce­waan masyarakat ter­hadap per­i­laku elite poli­tik yang ker­ap mengede­pankan moral­i­tas sim­bo­lik, namun gagal menun­jukkan integri­tas dalam kebi­jakan.

Isu tato di lingkun­gan ker­ja pemer­in­tah sebe­narnya sudah lama men­ja­di bahan perde­batan. Banyak instan­si di Indone­sia, baik sip­il maupun militer, secara tidak lang­sung memi­li­ki stan­dar moral dan esteti­ka tersendiri ter­hadap pegawai yang memi­li­ki tato. Meskipun tidak secara eksplisit dila­rang dalam per­at­u­ran perun­dang-undan­gan, tato ker­ap dia­sosi­asikan den­gan pem­berontakan, krim­i­nal­i­tas, atau keti­dak­sopanan.

Namun, dalam beber­a­pa tahun ter­akhir, pan­dan­gan ter­hadap tato mulai bergeser, teruta­ma di kalan­gan anak muda dan pro­fe­sion­al kre­atif. Tato diang­gap seba­gai bagian dari ekspre­si diri, bukan indika­tor moral sese­o­rang.

Perny­ataan Agus Andrianto yang menye­butkan “tidak anti ter­hadap tato” menun­jukkan bah­wa ia mema­ha­mi peruba­han budaya ini, tetapi tetap menekankan bah­wa pelang­garan disi­plin adalah fokus uta­manya. Den­gan kata lain, tato bukan masalah uta­ma, melainkan per­i­laku pegawai yang tidak disi­plin­lah yang jadi sorotan.

  Aplikasi “Lagi Cuan” dan “Trens” Jadi Perbincangan Hangat Malam Ini, Sabtu 6 Juni 2025

Perny­ataan pub­lik dari peja­bat ting­gi negara kini tidak hanya diden­gar oleh audi­ens yang hadir dalam ruan­gan, melainkan dise­barkan secara luas dan instan melalui media sosial. Kali­mat seper­ti “Ini apa penyak­it men­tal” yang mungkin dimak­sud­kan seba­gai ben­tuk ekspre­si tegas, jus­tru bisa menim­bulkan kesan diskrim­i­natif atau tidak berem­pati di mata pub­lik luas.

Hal ini mengin­gatkan pent­ingnya sen­si­tiv­i­tas berko­mu­nikasi di ruang pub­lik, apala­gi bagi peja­bat negara yang seti­ap uca­pan­nya akan dianal­i­sis dan diband­ingkan oleh war­ganet yang kri­tis.

Kasus ini men­ja­di cer­min bagi pemer­in­tah dan masyarakat untuk meli­hat isu disi­plin pegawai dari sudut pan­dang yang lebih objek­tif. Penampi­lan luar, seper­ti tato, memang masih men­ja­di bahan perde­batan, namun tidak seharus­nya dijadikan satu-sat­un­ya tolok ukur untuk meni­lai kapa­bil­i­tas dan integri­tas sese­o­rang.

Jika pelang­garan disi­plin memang ter­ja­di, maka pros­es hukum dan admin­is­tratif memang per­lu dijalankan. Namun demikian, pen­dekatan komu­nikasi dan cara menyam­paikan kri­tik juga per­lu lebih hati-hati agar tidak menim­bulkan stig­ma yang tidak per­lu.

Seir­ing berkem­bangnya zaman dan peruba­han sosial, kebi­jakan inter­nal dan eti­ka komu­nikasi peja­bat pub­lik pun per­lu mengiku­ti. Jika tidak, maka jarak antara pemer­in­tah dan masyarakat—khususnya gen­erasi muda—akan semakin mele­bar.

Reporter: (Ahmad)
Sum­ber Visu­al: Merdeka.com, gemabali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *