Asahan, SniperNew.id - Lebatnya perkebunan sawit di Desa Sei Lama, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, tersembunyi sebuah makam tua yang memancarkan aura mistis sekaligus menyimpan sejarah panjang yang terlupakan, Senin (04/08)
Makam tersebut diyakini milik Sultan Moesa Syah, salah satu raja dari Kesultanan Melayu Asahan. Tim dari Pulu Raja Projects mendatangi lokasi tersebut dalam sebuah ekspedisi sejarah yang menggugah rasa penasaran publik.
Dalam unggahan Facebook resmi Pulu Raja Projects tanggal 21 Juni lalu, mereka menuliskan. “Revisi: Hari ini kami tiba di desa Sei Lama, kami didampingi pemilik lahan yang biasa disebut si Mbah oleh masyarakat sekitar…”
Si Mbah adalah warga setempat sekaligus pemilik lahan tempat makam itu berada. Beliaulah yang mengantar tim menyusuri jalan setapak yang dikelilingi pohon sawit tua. Di balik semak belukar dan rerimbunan pepohonan, berdirilah dua nisan kuno yang ditutupi kain hitam dan putih, seolah ingin menyembunyikan identitas siapa yang terbaring di sana.
Tulisan besar bertuliskan “MAKAM RAJA — SULTAN MOESA SYAH” terpampang dalam salah satu gambar yang diunggah. Makam itu tampak megah namun terlupakan, tertutup lumut dan ditinggalkan dalam kesunyian hutan sawit.
Peristiwa Aneh dan Aura Mistis
Unggahan lanjutan menyebutkan bahwa penemuan makam ini bukanlah hal biasa. Si Mbah menceritakan peristiwa unik yang pernah terjadi di sekitar makam tersebut.
“Beliau menjelaskan waktu makam ditemukan, serta peristiwa unik yang terjadi di makam Sultan kerajaan Melayu Asahan, walau beliau sendiri tidak mengetahui nama raja yang berbaring di dalam makam tempat beliau berkebun.”
Keterangan ini menambah misteri besar: meskipun diyakini sebagai makam Sultan Moesa Syah, belum ada catatan pasti yang secara historis membuktikan siapa sebenarnya yang dimakamkan di sana. Bahkan pemilik lahan yang tiap hari melintasi tempat itu pun tidak bisa memastikan identitas jasad yang berada dalam pusara tua tersebut.
Kesultanan Melayu Asahan dulunya merupakan kerajaan kecil yang memiliki hubungan erat dengan Kesultanan Siak dan kerajaan-kerajaan Melayu lainnya di pesisir timur Sumatera. Sultan Moesa Syah diyakini adalah salah satu penguasa yang sempat memimpin masa transisi dan perpecahan politik di wilayah tersebut.
Namun, karena minimnya arsip sejarah dan banyaknya dokumen yang hilang, hampir tidak ada referensi jelas tentang masa pemerintahan beliau, termasuk lokasi makam aslinya.
Tagar yang disertakan dalam unggahan pun memperkuat maksud pencarian jejak sejarah ini:
#pulurajaprojects #rajasultanmoesasyah #rajaasahan #kesultananmelayu
Sosok “Si Mbah” dan Jejak Lisan
Si Mbah menjadi satu-satunya sumber informasi lokal yang dapat ditelusuri. Ia disebut sebagai penjaga tak resmi dari situs sejarah ini. Dalam rekaman video, terlihat tim Pulu Raja Projects berjalan menyusuri jalan setapak bersama si Mbah dan seorang gadis kecil. Di bagian bawah video tertulis. “Mengais cerita dan merangkumnya.”
Kalimat ini menandakan upaya mereka bukan sekadar dokumentasi, melainkan usaha menghidupkan kembali sejarah yang terlupakan, menyusun kembali potongan-potongan kisah kerajaan yang terkubur bersama debu zaman.
Spekulasi dan Mitos, Masyarakat setempat percaya bahwa makam ini memiliki energi berbeda. Tidak sedikit warga yang mengaku melihat cahaya aneh atau mendengar suara gamelan dari arah makam di malam hari. Bahkan beberapa warga enggan berkebun terlalu dekat, karena takut “diganggu”.
Beberapa versi mitos menyebutkan bahwa Sultan Moesa Syah wafat secara tidak wajar dalam konflik internal kerajaan, lalu dimakamkan secara diam-diam di tengah hutan agar tak dijarah penjajah Belanda atau kerajaan musuh. Penutupan nisan dengan kain hitam dan putih pun diyakini sebagai bentuk “penjagaan spiritual” agar makam tidak diganggu makhluk halus atau manusia yang berniat jahat.
Upaya Pelestarian dan Harapan. Dengan viralnya video dan unggahan ini yang telah disukai lebih dari 6.700 orang, dikomentari 147 kali, dan dibagikan sebanyak 364 kali, harapan masyarakat pun mulai tumbuh. Banyak warganet mendesak pemerintah daerah dan lembaga sejarah untuk segera meneliti lebih dalam situs ini dan menjadikannya sebagai bagian resmi dari cagar budaya Kesultanan Asahan.
Tim Pulu Raja Projects juga berharap penelusuran ini dapat membuka mata generasi muda akan pentingnya melestarikan sejarah lokal. Karena di balik setiap pohon dan tanah, mungkin ada cerita besar yang menunggu untuk ditemukan kembali.
Makam Sultan Moesa Syah bukan sekadar pusara tua di hutan sawit. Ia adalah simbol identitas, misteri, dan jejak masa lalu yang terlupakan. Di saat dunia modern berlomba mengejar masa depan, kisah ini mengingatkan kita bahwa akar sejarah tak boleh diputus. Dan siapa tahu, mungkin malam ini, ketika angin berbisik di sela daun sawit, roh sang raja masih berjaga—menunggu namanya disebut kembali dengan hormat. (Abd)



















